Minggu, 28 Mei 2017

Serangan siber ransomeware, CybelAngel: ini perang era baru

id cybelangel, ransomware
Serangan siber ransomeware, CybelAngel: ini perang era baru
Dua bersaudara Stevan Keraudy dan Erwan Keraudy, pendiri CybelAngel perusahaan Prancis spesialis bidang keamanan siber, saat ditemui di kantornya di kawasan Montmartre, Paris, Selasa (16/5/2017). (ANTARA News/Monalisa)
Paris (ANTARA Aceh) - Serangan siber ransomware WannaCry terus menyebar sejak Jumat (12/5), yang telah berdampak terhadap 10.000 organisasi dan 200.000 orang di lebih dari 150 negara.

Erwan Keraudy, pendiri CybelAngel--spesialis bidang keamanan siber, menyebut serangan siber ransomware merupakan perang era baru.

"Ini merupakan perang baru, perang era baru. WannaCry baru permulaan perang. Dan mereka belum akan berhenti. Begitu lah faktanya yang terjadi, dan ini sebuah mimpi buruk, ini baru langkah awal," kata Erwan ditemui di kantornya di kawasan Montmartre, Paris, Selasa (16/5) waktu setempat.

Menurut Erwan, tidak sulit membuat "perang" di internet. 

"Semua perangkat punya kelemahan, hacker punya 'kunci' untuk bisa membuat banyak hal," ujar Erwan yang juga menjabat sebagai CEO CybelAngel itu.

Ia menambahkan, perang di internet lebih berbahaya.

"Kalau ada seseorang menyerang kamu di jalan, kita bisa lapor polisi dan polisi bisa menangkapnya. Tetapi kalau di internet, tidak bisa apa-apa," tuturnya.

Terkait ransomware WannaCry, Erwan menjelaskan program jahat itu diciptakan oleh sekelompok hacker bernama Shadow Brokers yang tahun lalu mengaku telah mencuri cache "senjata siber" dari Badan Keamanan Nasional Amerika Serikat (NSA). 

Shadow Brokers "hanya" membuat virus tersebut dengan dua "alat", yakni Eternal Blue dan DoublePulsar.

"Meskipun hanya dibuat dari dua 'alat', program ini sangat kuat," katanya.

"Setelah ada serangan siber itu, banyak klien saya yang menelepon mencari informasi soal virus tersebut," ungkap Keraudy.

Perusahaannya yang baru berdiri sejak tahun 2013, saat ini menangani proyek dari berbagai belahan dunia, 50 persen dan 40 perusahaan besar di Prancis, termasuk beberapa perusahaan Indonesia yang sedang dalam tahap proses kontrak.

Editor: Salahuddin Wahid

COPYRIGHT © ANTARA 2017

Baca Juga