Kamis, 29 Juni 2017

Komisi X kritik penetapan Pusat Peradaban Islam Nusantara

id aceh barat, dpr ri, pusat peradaban islam nusantara
Komisi X kritik penetapan Pusat Peradaban Islam Nusantara
Ketua Komisi X DPR RI asal Aceh Teuku Riefky Harsya (ANTARA Aceh/Anwar)
Meulaboh (ANTARA Aceh) - Ketua Komisi X DPR Teuku Riefky Harsya mengkritik penetapan Tugu Titik Nol Pusat Peradaban Islam Nusantara di Kecamatan Barus, Kabupaten Tapanuli Tengah, Provinsi Sumatera Utara.

"Kami sangat menyayangkan pernyataan bahwa pusat atau Titik Nol Peradaban Islam Nusantara di sana. Kalau memang yang menyatakan itu presiden, tentunya kita berharap ini bisa dipertangungjawabkan secara akademis," katanya di Meulaboh, Aceh Barat, Rabu.

Presiden Joko Widodo (Jokowi) telah meresmikan Tugu Titik Nol Pusat Peradaban Islam Nusantara di Pantai Barus, Kelurahan Pasar Baru Gerigis, Kecamatan Barus, Kabupaten Tapanuli Tengah, Provinsi Sumatera Utara pada 24 Maret 2017.

Riefky Harsya, politikus Partai Demokrat ini menyampaikan, kejadian tersebut muncul begitu saja, dan masih menjadi pro dan kontra.'
    
DPR pada awal masa sidang, berencana membahas persoalan tersebut pada Kamis (18/5) di Jakarta.

Komisi X yang terlibat bersama dengan Komisi VIII DPR yang membidangi agama masih belum melihat litaratur sejarah dan pembuktian secara akademis sebagai dasar penetapan Tugu Titik Nol Pusat Peradaban Islam Nusantara.

"Jangan sampai hal ini mengotak-otakkan pemahaman masyarakat tentang sejarah. Kalau menurut saya, Islam masuk ke nusantara ini 'kan melalui Selat Malaka. Kalau di Indonesia adalah daratannya Aceh, di sisi seberang ada Selat Malaka itu Melayu," katanya.

Ia menjelaskan, dengan sejarawan Islam nusantara telah membicarakan persoalan tersebut.

Sebagai perwakilan yang menyerap aspirasi rakyat dirinya meminta ada penjelasan sebagai dasar agar dipahami publik.

Pascaperesmian tugu itu, berbagai kalangan di Provinsi Aceh juga menyampaikan pendapat keberatan terkait penetapan titik lokasi Tugu Titik Nol Pusat Peradaban Islam Nusantara.

Kalangan  yang menyuarakan itu terutama akademisi perguruan tinggi.

Menurut Riefky, Provinsi Aceh yang menyandang julukan Serambi Mekah dengan masyarakatnya mayoritas Muslim mendengar dan mengetahui hal demikian merasa gamang dengan sejarah yang selama ini terkesan "dipelintir".

"Sejarah tolong jangan dipelintir, tolong dijelaskan ke publik, katanya.

Ia menyatakan, "Setahu saya keberadaan titik itu tepatnya ada di Aceh."

Editor: Salahuddin Wahid

COPYRIGHT © ANTARA 2017

Baca Juga