Rabu, 20 September 2017

Satu titik panas bertahan di Aceh

id aceh, bmkg, titik panas
Satu titik panas bertahan di Aceh
Logo BMKG (ANTARA News)
Banda Aceh (ANTARA Aceh) - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) setempat menyatakan, satu titik panas terpantau oleh satelit tetap bertahan di wilayah Aceh.

Kepala Seksi Data dan Informasi BMKG Stasiun Kelas I Sultan Iskandar Muda Blang Bintang, Zakaria di Aceh Besar, Senin, berujar, satu titik panas tersebut terdeteksi satelit di Kabupaten Aceh Tenggara.

"Pagi ini, hotspot (titik panas) yang kemarin (Ahad, 20/8) sore muncul satu titik, kini bertahan di Aceh. Atau tepatnya berada di Aceh Tenggara," katanya.

Dia mengaku, lokasi titik panas ini berada di Kecamatan Babul Makmur yang memiliki potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) pada area kecamatan itu.

Aceh Tenggara merupakan wilayah pegunungan dengan ketinggian hingga 1.000 meter di atas permukaan laut, dan dikelilingi oleh Taman Nasional Gunung Leuser.

"Intinya, kita harus tetap waspada. Apalagi bila satu titik panas itu, di lahan yang kering. Saat ini di Aceh sedang masuki puncak musim kemarau," terang Zakaria.

Seperti diketahui, peristiwa karhutla di Aceh selama Juli tahun 2017, telah menghanguskan sekitar 222 hektare lebih di Kabupaten Aceh Barat.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Aceh, Yusmadi mengatakan, jumlah total karhutla itu di lahan gambut, dan termasuk di dalam kawasan hutan pada sembilan kecamatan di pesisir Pantai Barat.

"Total seluruh lahan terbakar dengan lokasi di Aceh Barat adalah 222,5 hektare, selama periode Juli 2017," katanya.

Pihaknya telah mendapat bantuan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) karena telah mengerahkan dua helikopter pengebom air menanggulangi kebakaran di lahan gambut.      

"Kami bersyukur kepada Allah. Upaya pemadaman titik api telah dibantu dengan turun hujan, selain dua heli bom air milik BNPB," ujar Yusmadi.

BNPB mencatat, dalam beberapa bulan terakhir di tahun ini secara nasional terdapat ratusan titik panas di Tanah Air karena tidak terpantau satelit.

"Di lapangan jumlah 'hotspot' ini kemungkinan lebih banyak, karena adanya daerah-daerah yang tidak terlintasi satelit saat ada kebakaran hutan," ujar Kepala Data dan Informasi BNPB Sutopo Purwo Nugroho.


Editor: Salahuddin Wahid

COPYRIGHT © ANTARA 2017

Baca Juga