Rabu, 20 September 2017

Lima patahan aktif gempa di Aceh

id aceh, bmkg, patahan, gempa
Lima patahan aktif gempa di Aceh
Logo BMKG (ANTARA News)
Banda Aceh (ANTARA Aceh) - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memetakan sedikitnya terdapat lima patahan atau sesar aktif mengakibatkan terjadinya gempa bumi di Provinsi Aceh.

"Di darat, kami konsentrasi ada tiga patahan. Sedangkan di perairan, sepanjang daerah subduksi," ujar Pelaksana Harian Kepala Stasiun Geofisika BMKG Mata Ie, Rilza Nur Akbar di Banda Aceh, Rabu.

Ia menjelaskan, keempat sesar aktif tersebut berada di daerah Sumatera Fault Zone atau zona patahan Sumatera yang terletak tepat pada bagian Tengah di Pulau Sumatera.

Mulai dari Tenggara menuju Barat Laut, dan di Aceh terdapat sedikitnya tiga segmen sesar aktif yakni segmen Aceh, segmen Selimun, dan segmen Tripa.

Untuk wilayah perairan, lanjut dia, terbagi menjadi dua yakni subduksi atau perbatasan dua lempengan yaitu lempeng Samudera Indo-Australia terhadap lempeng benua Eruasia.

"Pada umumnya gempa bumi yang terjadi dengan lokasi di laut berada di daerah subduksi lempengan itu," katanya.

Terakhir yakni daerah outerrise atau berada di luar zona subduksi itu berada di bagian Barat atau daerah Investigator Fracture Zone merupakan pergeseran lempeng secara mendatar.

"Disebut juga gempa bumi 'intraplate', karena terjadi di lempeng Samudera Indo-Autralia. Ini (gempa), biasanya terjadi di lautan lepas," terang Rilza.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) pernah menjelaskan gempa berkekuatan 7,8 Skala Richter terjadi di Kepulauan Mentawai, Provinsi Sumatera Barat, bersumber patahan lempeng sesar geser secara mendatar.

"Gempa kemarin malam di Mentawai terjadi secara sesar geser datar (gesekan ke samping), otomatis tidak membangkitkan tsunami besar," kata Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho.

Dia menyebut, gempa di Mentawai berbeda dengan gempa di Aceh pada tahun 2004. Gempa Aceh bersumber dari patahan lempeng secara sesar geser naik.

Berarti, lanjutnya, terjadi gesekan pertemuan dua lempengan secara naik turun, sehingga menimbulkan tsunami berskala besar.

"Kalau tsunami di Aceh 2004 lalu, terjadi secara sesar geser naik," kata dia.


Editor: Salahuddin Wahid

COPYRIGHT © ANTARA 2017

Baca Juga