Setiap makhluk yang tercipta pastinya memiliki kelebihan dan kekurangan untuk saling melengkapi satu dengan yang lain, inilah kekuatan sejati yang dimiliki makhluk bernama manusia. Kekuatan makhluk hidup saling melengkapi dalam kekurangan dan kelebihan terlihat di Rumah Batik Palbatu, Kelurahan Menteng Dalam, Kecamatan, Jakarta Selatan.

Di kala hari beranjak siang pada akhir Oktober 2020 lalu, rumah yang terletak di Jalan Palbatu, RW 04 itu kini mulai ramai setelah hampir delapan bulan tampak sunyi dari aktivitas.

Kesunyian terjadi sejak ada Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) Jakarta, aktivitas rutin di Rumah Batik Palbatu seperti memproduksi dan edukasi nyaris terhenti. Namun sejak masa transisi kesibukan mulai menggeliat kembali.

Ada yang sibuk mengatur posisi parkir di pekarangan yang tidak terlalu luas, ada juga yang tengah asik mencolet (memberi  latar) warna pada selembar kain batik yang terjemur memanjang di perkarangan itu.



Di dalam rumah berukuran kurang lebih 45 meter per segi itu juga ada yang sibuk menggunting kain batik sesuai pola masker yang dibuatnya.

Semua orang yang berada di rumah itu bekerja, seiring deru mesin jahit yang merekat lipatan kain batik menjadi masker kain karya salah satu pebatik difabel Rumah Batik Palbatu.

Di tengah keriuhan, ada yang bekerja sambil ngobrol santai, tapi ada dua orang wanita yang fokus dan serius bekerja tanpa teralihkan oleh obrolan rekan-rekannya.

Keduanya sibuk dengan pekerjaannya masing-masing, ada yang membuat pola, ada juga melukis motif di atas selembar kain putih.

Mereka baru akan melirik apabila kita menyentuh bahunya, atau berdiri tepat di depannya melihat mereka sedang mengerjakan apa.

Senyum ramah tampa suara terulas dari wajah kedua wanita paruh bayah. Mereka adalah pebatik Tuli yang jadi mitra Rumah Batik Palbatu Jakarta.

Ika Marianingsih sudah 54 tahun usianya dan Dinovita Mandacan lebih muda sembilan tahun dari Ika. Keduanya 'member' (anggota) angkatan pertama Teman Tuli yang menerima program Beasiswa Batik untuk disabilitas dari Rumah Batik Palbatu.

"Rumah Batik Palbatu punya program selain edukasi masyarakat umum, kami mengajak disabilitas belajar batik, lewat program sedekah batik atau sekarang disebut beasiswa membatik disabilitas," kata Budi Dwi Hariyanto salah satu pendiri dan pemilik Rumah Batik Palbatu.
 
Seorang pengrajin batik mencolet (memberi latar) tinta ke atas kain batik di Rumah Batik Palbatu, Jakarta Selatan, Jumat (23/10/2020) (ANTARA/Laily Rahmawaty)

Beasiswa Batik

Perjalanan Ika dan Novita menjadi pembatik difabel bersertifikat di mulai sejak 2017 ketiga Rumah Batik Palbatu mengadakan program Sedekah Batik atau Beasiswa Membatik Disabilitas. Program ini bagian dari upaya melestarikan batik yang menjadi misi berdirinya Rumah Batik Palbatu.



Rumah Batik Palbatu didirikan oleh kolaborasi 'Duo Budi' yakni Budi Darmawan seorang event organizer yang dipanggil Iwan dan Budi Dwi Hariyanto seorang penggiat seni yang juga penyandang difabel, akrab dipanggil Harry.

Rumah Batik Palbatu berdiri setelah Kampoeng Batik Palbatu dibentuk oleh Duo Budi pada 2011, menjadi tempat eduksi (belajar batik), produksi sekaligus galeri karya batik yang dibuat oleh ibu-ibu pebatik Palbatu termasuk Teman Tuli.

Tepat pada hari batik tanggal 2 Oktober 2017 dimulainya angkatan pengajaran batik kepada kelompok disabilitas, mulai dari Teman Tuli, Tuna Daksa dan komunitas kanker. Kelas dilaksanakan selama tiga bulan, dimulai dari dasar menggambar motif dengan pola, lalu merekatkan malam pada kain, hingga mewarnai kain menjadi batik yang indah dan pemasaran.

"Kami mengajarkan penyandang disabilitas membatik, agar mereka bisa mandiri dari batik, melahirkan pembatik dari Jakarta yang selama ini jika kita bicara Batik Betawi, tapi pembuatnya  tidak tinggal di Jakarta, jadi kita ingin ada Batik Betawi yang pembuatnya tinggal di Jakarta," katanya.

Rumah Batik Palbatu telah meluluskan tujuh angkatan pembatik difabel lewat program Beasiswa Batik Disabilitas, dengan jumlah anggota sebanyak 70 orang. Dari beberapa penyandang disabilitas penerima beasiswa membantik tersebut, Teman Tuli menjadi kelompok difabel yang tekun dalam belajar batik.

Ketekunan ini ditunjukkan oleh Ika dan Novita, yang sudah tiga tahun fokus menjadi pembatik, memproduksi batik sendiri, karyanya dipajang di galeri Rumah Batik Palbatu dengan nama Batik Tuli (s).
 

Kelebihan dibalik kekurangan
Sebenarnya tidak hanya Ika dan Novita yang aktif membatik di Rumah Batik Palbatu, ada nama Yusuf sebagai seniman yang menggambar motif batik, ada pembatik pria lainnya yang juga tekun seperti Ika dan Novita.

Tapi dari semuanya, Ika dan Novita yang paling berkembang dalam hal membatik, tidak hanya memproduksi, mereka juga sanggup memasarkan batik-batik karya mereka ke pasaran.

Diceritakan Harry, perkenalan Rumah Batik Palbatu dengan Ika dan Novita cukup berkesan. Keduanya memiliki latar belakang dan strata ekonomi yang berbeda.



Ika berasal dari keluarga yang berada memiliki latar belakang dan keahlian menjahit dan memasak. Sebelum bergabung sebagi mitra Rumah Batik Palbatu, Ika sudah menjalankan usaha menerima jasa jahitan dan usaha katering.

Sedangkan Novita memiliki latar belakang sebagai pekerja difabel di salah satu restoran cepat saji di wilayah Jakarta Pusat, lalu berhenti dan membuka usaha kaki lima berjualan aneka makanan di kawasan Monuman Nasional (Monas).

Sejak Pemerintah DKI Jakarta membersihkan kawasan Monas dari para PKL, Novita ikut terkena imbasnya, tak boleh lagi berjualan. Hingga akhirnya ia menekuni batik setelah mendapatkan informasi tentang program Beasiswa Membatik Disabilitas.

"Ika termasuk gigih dalam berusaha, sebenarnya dia hampir tidak diterima masuk, karena pendaftaran sudah sudah penuh. Tapi karena usahanya dan ketekunan dia, kita akhirnya menerima," kata Harry.

Pada awal belajar, Ika dan Novita sama-sama tidak memiliki keahlian dalam membatik, tapi mereka tekun belajar dan berlatih, perkembangan kemampuan mereka membatik kini dapat disaksikan dari lembaran demi lembaran kain batik yang mereka produksi terpajang di galeri Rumah Batik Palbatu.

Dari goresan malam yang tidak merata, lama ke lamaan, goresan malam keduanya menjadi lebih rapi dan cantik. Tidak hanya itu, batik karya merekapun dinikmati pebatik dari Indonesia maupun mancanegara.

Ika pernah mendapat tawaran untuk memproduksi batik dari Kedutaan Besar Australia yang meminta dibuatkan batik dengan tema Angrek Orchid. Kinipun, wanita lajang tersebut mendapat pesanan masker batik dari kenalannya di wilayah Jambi.
Kesetaraan

Jika dibandingkan, keahlian Ika dalam membatik lebih unggul dibanding Novita. Tetapi keduanya memiliki kelebihan yang sama yang tidak memiliki oleh orang yang tidak mengalami keterbatasan fisik (normal) pada umumnya.

Kelebihan mereka adalah fokus dalam bekerja, sehingga dalam bekerja selesai cepat dan tepat waktu, mereka menjadi perajin batik yang produktif. Kelebihan ini datang dari kekurangan mereka yang tidak bisa mendengar, karena konsentrasi mereka yang 100 persen tidak terganggu oleh suara obrolan atau suara bising lainnya.

Kedua menjadi mitra Rumah Batik Palbatu, bukan pekerja. Mereka tidak digaji per bulan ataupun per hari, tapi mereka akan mendapatkan bayaran dari batik yang mereka buat apabila laku terjual. Atau apabila Rumah Batik Palbatu mendapat pesanan batik dari pembeli maupun langganan mereka akan dilibatkan.

Meski tidak bergaji per bulan, Ika dan Novita paling rutin dan rajin datang ke Rumah Batik Palbatu, membuat kain batik, atau kini melayani kebutuhan masker kain untuk masyarakat terdampak pandemi COVID-19.



Baik Ika maupun Novita dalam bahasa isyaratnya mengatakan pilihannya menjadi pembatik karena mereka sudah jatuh cinta dengan batik. Selain menjadi pekerjaan yang tak menuntut jam kerja, mereka ingin melestarikan warisan budaya dunia lewat karya-karya yang mereka lukis.

Harry mengatakan sebagai salah satu rumah batik yang fokus di edukasi batik, Rumah Batik Palbatu tidak cuma mengajar kepada warga di lingkungan Palbatu, tetapi juga teman-teman disabilitas, khususnya Teman Tuli.

Teman Tuli dinilai paling antusias dalam membatik dibanding kelompok disabilitas yang lain. Karena secara fisik mereka tidak memiliki keterbatasan sehingga tidak membutuhkan ruang atau alat bantu untuk menunjang mobilitasnya.

Melatih Teman Tuli sebagai pengrajin batik bagian dari upaya Rumah Batik Palbatu melestarikan batik di Indonesia dan Jakarta pada khususnya. Melahirkan pembatik dari Ibu Kota Indonesia, serta menjadikan mereka pembatik yang diakui kemampuannya dengan para pembatik yang ada di seluruh Tanah Air.

"Harapannya agar kita miliki rasa kesetaraan kepada mereka (Teman Tuli), kita memiliki kepedulian agar mereka mandiri, agar mereka kelak bisa menciptakan lapangan pekerjaan sendiri, ataupun bisa berkarya dan karyanya diakui, merasa juga bangga karyanya bisa dinikmati peminat batik baik di Jakarta maupun di Indonesia," kata Harry.

Teman Tuli diharapkan menjadi bagian dari para pembatik yang ikut melestarikan batik, sebagai salah satu kunci batik harus terus dijaga oleh generasi ke generasi.

Dari melestarikan timbul kemandirian, keterbatasan biaya hidup yang dimiliki oleh penyandang disabilitas dapat diatasi dengan skil atau keahlian membatik yang dimiliki.

Batik mengedukasi Teman Tuli mandiri dari batik, mendapatkan hasil dari membatik, sekaligus melahirkan pembatik di Jakarta. Melahirkan kesetaraan antara disabilitas dan non disabilitas, bahwa Teman Tuli punya hak yang sama untuk mendapatkan dari sisi skill atau keahlian, sehingga mereka bisa mencari nafkah secara mandiri.

Batik karya-karya Teman Tuli dipajang di Rumah Batik Palbatu dengan nama Batik Tuli (S), berjejer dengan batik karya perajin lainnya seperti Batik Ibu dan Batik Cancer. Penamaan ini sebagai pengakuan serta kebanggaan, agar orang-orang tau bahwa batik tersebut dibuat oleh Teman-teman Tuli, yang memiliki kemampuan membuat batik tulis yang memang benar asli batik, yang dihasilkan atau dibuat dari proses seperti layaknya pembatik di Indonesia.



 

Pewarta: Laily Rahmawaty

Uploader : Salahuddin Wahid


COPYRIGHT © ANTARA News Aceh 2020