Presiden Amerika Serikat Joe Biden dan Presiden Turki Tayyip Erdogan akan membahas pembelian rudal S-400 Rusia oleh Ankara selama pembicaraan langsung pada Senin, tetapi sedikit harapan mereka akan menyelesaikan perselisihan pahit yang memecah belah NATO.

Turki merupakan negara anggota Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) yang memiliki militer terbesar kedua setelah Amerika Serikat.

Namun, ketidaksepakatan antara Washington dan Ankara atas isu Suriah, hak asasi manusia, perlakuan terhadap orang-orang Armenia di Kekaisaran Ottoman dan ketegangan di Mediterania timur semuanya telah membuat hubungan kedua negara menjadi tegang.

Sejak menjabat pada Januari, Biden telah mengakui pembantaian orang-orang Armenia pada 1915 sebagai genosida dan meningkatkan kritik terhadap catatan kinerja hak asasi manusia Turki. Selain itu, pemerintahan Biden juga mengadopsi nada yang lebih dingin terhadap Erdogan daripada pendahulunya Donald Trump.

Penasihat keamanan nasional Gedung Putih Jake Sullivan mengatakan kedua pemimpin, yang menghadiri konferensi tingkat tinggi (KTT) NATO di Brussels, juga akan membahas tentang Afghanistan, Libya dan China selama pertemuan langsung pertama mereka sejak Biden menjadi presiden AS.

"Mereka (Biden dan Erdogan) akan berbicara tentang isu-isu politik dan ekonomi yang lebih menantang ... yang telah menjadi tantangan dalam hubungan kedua negara, termasuk isu-isu yang terkait dengan hak asasi manusia," kata Sullivan kepada wartawan saat tiba di Brussels pada Minggu malam (13/6).

Erdogan, saat meninggalkan Turki pada malam yang sama, mengatakan bahwa dia mengharapkan "pendekatan tanpa syarat" dari Biden untuk beralih dari masalah-masalah masa lalu.

"Turki bukan sembarang negara, ini adalah negara sekutu. Kami (AS dan Turki) adalah dua sekutu NATO," katanya kepada wartawan.

"Ada banyak masalah mengenai industri pertahanan yang dibiarkan di atas meja. Yang paling penting adalah masalah (jet tempur) F-35," kata Erdogan tentang keputusan Washington untuk menghapus Turki dari program jet tempur itu.

Satu area di mana Erdogan berharap untuk menunjukkan peran sentral Turki dalam aliansi NATO adalah di Afghanistan. Turki telah menawarkan untuk menjaga dan mengoperasikan bandara Kabul serta untuk mengamankan akses ke negara itu setelah penarikan pasukan NATO seperti yang diminta oleh AS.

Namun, dengan begitu banyak hal yang diperdebatkan, harapan untuk terobosan substansial apa pun dalam hubungan kedua negara yang tegang itu tipis.

"Sementara kedua belah pihak diharapkan untuk mengejar beberapa keterlibatan pragmatis dan tidak ada pihak yang tertarik pada pertikaian, pertemuan itu tidak akan memberi Erdogan dividen yang berarti," kata perusahaan konsultan, Teneo, dalam sebuah catatan sebelum pembicaraan antara Biden dan Erdogan.

"Tidak ada satu pun titik gesekan utama yang akan diselesaikan, yang berarti bahwa hubungan AS-Turki akan terus penuh dengan kesulitan dan ditandai dengan nada dingin," kata Teneo.

Sumber: Reuters

Pewarta: Yuni Arisandy Sinaga

Editor : Azhari


COPYRIGHT © ANTARA News Aceh 2021