Tapaktuan (ANTARA Aceh) - Sekretaris Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Aceh Selatan T Muhasibi mengatakan, penanganan  akibat banjir dan tanah longsor di Kemukiman Manggamat, Kecamatan Kluet Tengah, tidak bisa secara tanggap darurat, tapi harus secara permanen.

"Bila melihat kerusakan yang ditimbulkan tergolong parah, maka tidak bisa hanya dilakukan penanganannya secara tanggap darurat, melainkan harus permanen," katanya di Tapaktuan, Senin.

Beberapa kerusakan yang tergolong berat, sebut Muhasibi, seperti abrasi di sepanjang bantaran Sungai Manggamat yang mengakibatkan puluhan hektare kebun warga dan pemukiman penduduk amblas ke dasar sungai dihantam banjir.

"Akibat hantaman banjir tersebut, dua rumah penduduk masing-masing di Desa Sawah dan Mersak hancur total, sedangkan beberapa rumah lainnya rusak yang mengakibatkan penghuninya kehilangan tempat tinggal," ujarnya.

Tidak hanya itu, sambung Muhasibi, hantaman banjir juga telah mengakibatkan pemukiman penduduk di beberapa desa dalam Kemukiman Manggamat yang berlokasi di sepanjang daerah aliran sungai (DAS) terancam ambruk.

"Kondisi saat ini jarak antara sungai dengan perumahan penduduk tinggal sekitar 4 sampai 5 meter lagi, jika tidak segera ditanggulangi, bakal terjadi banjir sekali lagi dimana rumah-rumah penduduk itu terancam hanyut dibawa arus air," ungkapnya.

Diakuinya, untuk mengatasi persoalan tersebut tidak mampu hanya cukup ditangani secara tanggap darurat melainkan harus secara permanen.

Karena itu, kata dia, pihaknya mengharapkan peran serta dinas teknis terkait seperti Dinas Sumber Daya Air untuk membangun tanggul di sepanjang bantaran Sungai Manggamat tersebut.

"Secara kewenangan dan ketersediaan anggaran BPBD hanya mampu melakukan penanganan secara tanggap darurat, sedangkan secara permanen harus turun tangan dinas teknis terkait. Artinya, penanganan banjir di Manggamat tidak bisa lagi dilakukan secara tanggap darurat sebab kondisi kerusakan yang ditimbulkan cukup berat," katanya.

Keterangan lain yang diperoleh dari Dinas Sosial, Tenaga Kerja dan Transmigrasi Aceh Selatan menyebutkan, untuk langkah perbaikan rumah warga yang rusak berat dan ringan akibat dihantam banjir di Kluet Tengah, telah diusulkan ke Pemerintah Provinsi Aceh melalui dinas terkait.

"Kalau bantuan masa panik sudah kita salurkan, sedangkan untuk perbaikan rumah tidak ada anggaran, maka kita usulkan ke provinsi untuk mendapat bantuan," kata Kepala Dinsosnakertrans Aceh Selatan Halimuddin.

Peristiwa bencana banjir itu disebut warga adalah yang terparah dalam 50 tahun terakhir. Bedanya, banjir kali ini akibat luapan sungai kecil di sekitar perkampungan.

Namun, karena adanya perusakan lingkungan di sebagian pegunungan yang membentang di kawasan pemukiman itu, maka banjir terjadi dengan dahsyat.

"Kami menyebut banjir bandang karena banjir disertai sedimen lumpur dan kayu-kayu sisa penebangan," kata salah seorang warga.

Pewarta: Pewarta : Hendrik

Uploader : Salahuddin Wahid


COPYRIGHT © ANTARA News Aceh 2015