Di usia ke-821, Banda Aceh bukan sekadar kota yang bertahan dalam perjalanan waktu, tetapi kota yang sejak awal berdiri sebagai simpul penting dalam dinamika dan kompleksitas kawasan di gerbang Selat Malaka. Sejarah mencatat bahwa Banda Aceh tidak tumbuh dalam isolasi, melainkan sebagai bagian dari jaringan perdagangan yang menghubungkan berbagai wilayah di Selat Malaka.
Dalam lintasan sejarah tersebut, kekuatan Banda Aceh tidak pernah hanya terletak pada ruang kotanya, tetapi pada kemampuannya menjadi pusat dari sistem yang lebih luas.
Pelajaran ini menjadi relevan untuk dibaca kembali hari ini. Sebab jika melihat perkembangan pembangunan dalam beberapa dekade terakhir, yang terlihat justru kecenderungan yang berbeda. Kota berkembang dalam batasnya, wilayah di sekitarnya bergerak dengan potensinya masing-masing, sementara hubungan di antara keduanya belum sepenuhnya membentuk satu kesatuan arah. Yang muncul bukan kekurangan potensi, melainkan keterpisahan.
Baca juga: "BaSaJan" bersinergi kembangkan industri pariwisata Aceh
Dalam konteks ini, "Basajan" sebenarnya menawarkan cara pandang yang jauh lebih maju dari zamannya. Konsep kerja sama yang merupakan singkatan dari Banda Aceh, Sabang, dan Jantho ini diluncurkan pada HUT Banda Aceh ke-803 tahun 2008. Sejak awal konsep kerjasama ini mencoba membaca bahwa masa depan kawasan ini tidak bisa dibangun secara parsial.
Ia harus dibangun sebagai satu sistem. Namun seperti banyak gagasan strategis lainnya, Basajan tidak berkembang menjadi mekanisme yang benar-benar berjalan. Ia lebih lama dikenang sebagai konsep daripada dijalankan sebagai desain.
Padahal jika dilihat dari perkembangan ekonomi global hari ini, pendekatan seperti Basajan justru menjadi arus utama. Di berbagai belahan dunia, pertumbuhan ekonomi tidak lagi bertumpu pada satu kota atau satu wilayah, melainkan pada kawasan yang terintegrasi.
Kawasan Shenzhen Guangzhou Hong Kong di Tiongkok berkembang karena keterhubungan antara pusat industri, finansial, dan logistik. Demikian pula Singapura Johor Riau yang membangun kekuatan ekonomi melalui pembagian fungsi kawasan yang saling melengkapi.
Baca juga: Majukan daerah, kerja sama BASAJAN harus diintensifkan dan ditingkatkan
Dalam teori ekonomi modern, fenomena ini dikenal sebagai aglomerasi ekonomi. Nilai tidak lagi tercipta secara terpisah, tetapi melalui interaksi antarwilayah yang memiliki fungsi berbeda. Produksi, distribusi, dan akses pasar membentuk satu rantai nilai yang utuh. Di sinilah kawasan menjadi lebih penting daripada batas administratif.
Jika pendekatan ini ditarik ke dalam konteks Aceh, maka struktur Basajan sebenarnya sudah memiliki fondasi yang lengkap. Banda Aceh berfungsi sebagaif pusat layanan, pemerintahan, dan aktivitas urban. Aceh Besar yang direpresentasikan oleh Jantho menyediakan ruang produksi, sumber daya, serta infrastruktur strategis seperti bandara dan konektivitas darat. Sementara Sabang, dengan pelabuhan internasional dan status kawasan perdagangan bebas, membuka akses langsung ke jaringan pasar global..
Baca juga: HUT ke 820 Banda Aceh, Ketua DPRK: Momentum lestarikan budaya
Ketiganya bukan entitas yang berdiri sendiri, tetapi bagian dari satu konfigurasi ekonomi yang jika disatukan dapat membentuk kekuatan yang signifikan. Persoalannya bukan pada apakah potensi itu ada. Persoalannya terletak pada bagaimana potensi tersebut belum sepenuhnya disatukan dalam satu desain yang bekerja.
Selama ini, pembangunan masih cenderung berjalan secara parsial. Produksi berkembang tanpa kepastian pasar yang kuat, infrastruktur dibangun tanpa keterhubungan yang jelas, dan masing masing wilayah bergerak dengan prioritasnya sendiri. Dalam kondisi seperti ini, nilai ekonomi tidak terkonsolidasi secara maksimal. Yang muncul adalah pertumbuhan yang tersebar, bukan kekuatan yang terintegrasi.
Di sinilah Basajan seharusnya ditempatkan kembali, bukan sebagai proyek kerja sama biasa, tetapi sebagai desain ekonomi kawasan. Artinya, pembangunan tidak lagi dimulai dari proyek, tetapi dari sistem. Apa yang diproduksi di Aceh Besar harus memiliki jalur distribusi yang jelas melalui Banda Aceh, dan pada saat yang sama terhubung dengan akses keluar melalui Sabang menuju pasar yang lebih luas. Dengan pendekatan seperti ini, rantai nilai tidak lagi terputus di tengah jalan, tetapi berjalan utuh dari hulu hingga hilir.
Pendekatan ini juga sejalan dengan prinsip ekonomi berbasis permintaan, di mana aktivitas produksi tidak lagi berjalan tanpa arah, tetapi dirancang berdasarkan kebutuhan pasar. Dengan demikian, risiko yang selama ini sering dihadapi masyarakat dapat ditekan sejak awal, sementara peluang untuk menciptakan nilai tambah menjadi lebih besar.
Dalam kerangka inilah, peran Banda Aceh menjadi sangat menentukan. Kota ini tidak hanya berfungsi sebagai pusat administratif, tetapi memiliki posisi strategis untuk menjadi penggerak kawasan. Di bawah kepemimpinan Illiza Sa'aduddin Djamal, terdapat kombinasi yang jarang dimiliki, pengalaman yang memahami akar dari gagasan Basajan sejak awal, serta posisi kepemimpinan yang memungkinkan gagasan tersebut diterjemahkan dalam bentuk kebijakan yang nyata.
Pengalaman tersebut menjadi penting, karena persoalan utama dari Basajan selama ini bukan pada ide, tetapi pada implementasi. Menghidupkan kembali Basajan membutuhkan lebih dari sekadar pengulangan konsep. Ia membutuhkan kemampuan untuk menyatukan kebijakan lintas wilayah, menjaga konsistensi arah, dan memastikan bahwa setiap elemen dalam kawasan bergerak dalam satu sistem yang sama. Di titik ini, kepemimpinan yang memahami konteks historis sekaligus realitas hari ini menjadi faktor yang menentukan.
Banda Aceh memang memiliki keterbatasan ruang. Namun dalam ekonomi modern, keterbatasan tersebut tidak harus menjadi batas. Ia justru dapat menjadi alasan untuk memperkuat konektivitas kawasan. Kota tidak perlu berkembang secara horizontal untuk menjadi besar. Ia perlu menjadi pusat dari sistem yang lebih luas, menghubungkan produksi, distribusi, dan pasar dalam satu kerangka yang terintegrasi.
Pada akhirnya, usia 821 tahun Banda Aceh bukan 11 Basajan tidak lagi sekadar gagasan yang diingat. Ia dapat menjadi mesin ekonomi kawasan yang benar benar bekerja. Dan di sanalah, Banda Aceh tidak hanya merayakan usianya, tetapi juga menegaskan kembali posisinya sebagai pusat yang memimpin, bukan sekadar mengikuti arah perkembangan.
*Penulis adalah pemerhati isu sosial
Baca juga: Raker Komwil I Apeksi jadi momentum penguatan fiskal kota
Editor : Febrianto Budi Anggoro
COPYRIGHT © ANTARA News Aceh 2026