Sabang (ANTARA Aceh) - Harga ikan segar di Kota Sabang meningkat drastis hingga 70 persen, karena hasil tangkapan nelayan minim, akibat angin kencang serta tingginya alun di perairan Pulau Weh dan sekitarnya sejak sepekan terakhir.
Pantaun di sejumlah pasar ikan di Sabang, Rabu, harga ikan tongkol yang biasanya dijual Rp15.000-Rp20.000 naik menjadi menjadi Rp30.000-Rp35.000/Kg, sementara ikan cakalang dari Rp25.000 menjadi Rp40.000/Kg.
Salah seorang agen, Burhan di Tempat Pendaratan Ikan (TPI) Pasiran, Kuta Bawah Timu, Sabang menyebutkan, semua jenis ikan meningkat drastis sejak sepekan terakhir dan harga ikan rata-rata meningkat Rp15.000/Kg.
"Ikan pisang dari Rp20.000 naik menjadi Rp35.000/Kg, ikan rambee dari Rp40.000/Kg menjadi Rp60.000/Kg, ikan marlin juga meningkat dari Rp25.000 menjadi Rp45.000/Kg," ujar dia.
Begitu juga dengan ikan karang seperti kerapu dan sejenisnya dari Rp60.000 meningkat menjadi Rp100.000/Kg, sebutnya satu persatu sembari menunjukkan jenis-jenisnikan tersebut di TPI Pasiran, Sabang.
Ia mengakui, semua jenis ikan meningkat harganya sejak sepekan terakhir karena cuaca laut yang kurang bersabahat dan dominan nelayan wilayah Sabang masih enggan melaut.
"Untuk memenuhi permintaan pasar seperti warung dan rumah tangga ikan basah ini banyak dipasok langsung dari Banda Aceh. Sementara ikan hasil tambak masih tergolong stabil seperti bandeng Rp20.000/Kg, mujair Rp20.000 dan udang Rp70.000/Kg," tutur angen ikan segar tersebut.
Panglima Laut Wilayah Kota Sabang, Ali Rani juga membenarkan, sepekan terakhir angin kencang bertiup dari arah barat daya menyebabkan tingginya alun di perairan Pulau Weh dan sekitarnya, sehingga nelayan setempat enggan melaut.
"Sudah satu minggu angin kencang dan alunnya tinggi, para nelayan enggan melaut, makanya harga ikan sangat tinggi sejak sepekan terakhir," katanya.
Dampak dari angin kencang dan alun harga ikan melambung tinggi di sejumlah pasar dan ikan segar yang dijual dipasar-pasar se-Kota Sabang dipasok langsung dari daratan Aceh dengan menggunakan kapal penumpang pelayaran dari Banda Aceh-Sabang.
Dia juga menambahkan, untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari masyarakat nelayan terpaksa melaut di areal teluk dengan menggunakan boat thehthek jenis kayu dan para nelayan tersebut paling jauh melaut sekitar 2 mill dari lepas pantai.
"Nelayan hanya melaut di dalam teluk, jika sewaktu-waktu angin kencang cepat kembali. Kami sudah menghimbau kepada semua nelayan berhati-hati melaut dan tidak melaut lebih dari 2 mill sebagaimaba biasanya," katanya lagi.
Pewarta: Irman YusufUploader : Salahuddin Wahid
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.