Aceh Barat (ANTARA) - Said Wahyu, Sekretaris Camat Sungai Mas, Kabupaten Aceh Barat kini sukses melakukan budidaya lobster air tawar setelah ia menekuni dunia usaha rumahan sejak dua tahun belakangan ini.

“Budidaya lobster air tawar ini tidak menuntut prosedur yang rumit. Hanya tinggal cemplung saja ke air," kata Said Wahyu kepada ANTARA, Sabtu di Meulaboh.

ASN yang pernah bertugas di Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Aceh Barat ini juga berbagi kisah inspiratif mengenai keberhasilan nya dalam budidaya lobster air tawar. 

Baca juga: UMKM di Aceh pasok lobster untuk ekspor ke China

Berbekal pengalaman di pemerintahan, ia kini fokus mengembangkan komoditas yang dinilai jauh lebih menguntungkan dan mudah dikelola dibandingkan budidaya air tawar lainnya seperti budidaya ikan lele.

Menurutnya, selain perawatan yang sangat minim, budidaya tersebut juga tidak memerlukan biaya yang relatif sedikit untuk penyediaan pakan karena tidak harus dibeli. Melainkan pakan yang digunakan bisa dimanfaatkan dari bahan alami yang ada di sekitar rumah seperti daun ketapang kering.

Selain itu, pemilik bisa meninggalkan tambak selama beberapa hari, seperti misalnya saat bepergian ke luar kota, hanya dengan memberikan stok daun ketapang sebagai makanan alami.

Selama dua tahun menekuni usaha ini, Said Wahyu mengaku telah memanen ratusan kilogram lobster. Jika dibandingkan ikan lele yang rata-rata berharga Rp25.000 per kilogram, lobster air tawar bisa mencapai Rp100.000 hingga Rp150.000 per kilogram.

Sekretaris Camat Sungai Mas, Kabupaten Aceh Barat, Said Wahyu memperlihatkan lobster air tawar yang ia budidaya sendiri di rumah nya di kawasan Desa Peunaga Paya, Kecamatan Meureubo, kabupaten setempat, Sabtu (4/4/2026). (ANTARA/HO-Dok. Pribadi)

Baca juga: PEMA-LAMI KSO sukses ekspor perdana lobster Aceh ke Malaysia, harus terus ditingkatkan


Tak hanya menjual daging konsumsi ukuran 20-25 ekor per kilogram, ia juga meraup keuntungan dari penjualan bibit atau indukan.

Harga satu set indukan yang terdiri dari 10 ekor (campuran jantan dan betina) dijual dengan kisaran harga Rp300.000 hingga Rp350.000 saja.

Meski skala produksinya masih terbatas, ia mengakui pemasaran tidak terkendala sama sekali. Berbekal jaringan grup WhatsApp yang tersebar di seluruh Indonesia, stok lobster dapat didistribusikan ke berbagai daerah seperti Provinsi Bali dan Kota Medan, Sumatera Utara baik dalam kondisi hidup maupun frozen (beku).

Said Wahyu berharap keberhasilan ini dapat memicu semangat masyarakat desa untuk ikut membudidayakan lobster air tawar guna meningkatkan taraf hidup.

Budidaya ini ia tekuni tidak hanya sekadar hobi dan menambah pendapatan ekonomi secara pribadi, akan tetapi ia termotivasi sebagai bentuk tanggung jawab moral kepada masyarakat, sebagai upaya menyukseskan program ketahanan pangan oleh pemerintah dan Pemkab Aceh Barat, agar masyarakat mendapatkan sumber ekonomi lain melalui hobi dan bisnis sampingan tanpa memerluka modal yang besar.

"Tidak ada persaingan yang saling menjatuhkan di sini, karena permintaan pasar masih sangat besar sementara barangnya seringkali tidak mencukupi," kata Said Wahyu.

Baca juga: Polisi gagalkan penyelundupan 408 ribu benih lobster ke Vietnam



Pewarta: Teuku Dedi Iskandar
Editor : Febrianto Budi Anggoro

COPYRIGHT © ANTARA 2026