Aceh Barat (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten Aceh Barat melalui Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) melakukan pengawalan ketat terhadap proses rekrutmen calon tenaga kerja di sektor pertambangan batu bara dengan komposisi tenaga kerja lokal sebanyak 70 persen dan non lokal 30 persen.
“Pengawasan ini dilakukan untuk memastikan penyerapan tenaga kerja lokal berjalan maksimal sesuai arahan Bupati Aceh Barat Tarmizi,” kata Kepala Bidang Pelatihan dan Penempatan Kerja Disnakertrans Aceh Barat, Aryo Broto Seno kepada ANTARA, Sabtu di Meulaboh.
Aryo menyatakan saat ini Pemerintah Kabupaten Aceh Barat menerapkan komposisi tenaga kerja 70 persen warga lokal dan 30 persen warga non-lokal bagi seluruh perusahaan menengah dan besar di wilayah tersebut.
"Ini adalah arahan langsung Bapak Bupati sejak pelantikan 19 Februari 2026 lalu. Sebelumnya, aturan (qanun) tidak menyebutkan persentase secara spesifik, sehingga sering terjadi perdebatan dengan perusahaan. Sekarang, dengan angka 70:30, kami memiliki dasar yang kuat untuk bertindak," ujar Aryo saat meninjau proses seleksi tenaga kerja.
Baca juga: Polres Nagan Raya tertibkan aktivitas tambang emas ilegal
Salah satu bentuk pengawasan nyata yang dilakukan, kata dia, dengan memastikan proses seleksi dilakukan secara terbuka.
Aryo menjelaskan isu yang berkembang di masyarakat mengenai seleksi tertutup di area tambang sering kali memicu kekhawatiran akan adanya diskriminasi.
Menanggapi hal tersebut, PT Cipta Kridatama (CK) telah bersedia bekerja sama dengan Disnakertrans Aceh Barat untuk menyelenggarakan seleksi secara terbuka, khususnya untuk posisi driver Off Highway Truck (OHT) kapasitas 100 ton.
Hingga saat ini, kata dia, proses rekrutmen tersebut menarik minat yang sangat besar dari masyarakat. Hingga Sabtu siang, jumlah pelamar calon tenaga kerja di perusahaan tambang batu bara tersebut telah mencapai sekitar 500 orang dan diprediksi akan terus bertambah hingga ribuan orang.
Aryo Broto Seno mengatakan untuk tahap awal ini, perusahaan membutuhkan 40 tenaga kerja yang dibagi ke dalam dua gelombang masing-masing 20 orang. Seluruh peserta yang dipanggil mengikuti tes pada Sabtu (4/4) adalah mereka yang telah lolos seleksi administrasi dan tes daring (online), dan kini tengah menjalani praktik lapangan.
Pemerintah Kabupaten Aceh Barat berharap dengan pengawalan ketat dari Disnakertrans, tidak ada praktik diskriminasi dalam proses rekrutmen, sehingga putra daerah Aceh Barat mendapatkan kesempatan yang adil untuk bekerja di perusahaan yang beroperasi di wilayah ini.
Baca juga: Imigrasi Meulaboh telusuri WNA terlibat aktivitas tambang ilegal di Aceh Jaya
Spesialist Learning Design CK Head Office, Sigit Nugroho kepada ANTARA, Sabtu siang di Melulaboh, menjelaskan bahwa proses seleksi ini dilakukan secara ketat dengan mengacu pada regulasi pemerintah daerah setempat.
"Kami melakukan seleksi berkas, tes teori online, psikotes, hingga MCU (Medical Check-Up). Hari ini, kami melaksanakan tes praktik untuk menangkap sejauh mana kemampuan dasar mengemudi (basic driving) para kandidat," ujarnya.
Dari sekitar 500 berkas yang masuk, para pelamar harus melewati berbagai tahapan sebelum dinyatakan layak mengikuti pelatihan intensif, dan program seleksi ini secara khusus menyasar calon operator untuk unit alat berat jenis Holler atau Off-Highway Truck kelas 60 hingga 100 ton.
Rekrutmen ini terbagi ke dalam beberapa gelombang, yaitu program ADOB Batch 1 dan 2 menampung 30 orang per angkatan, dan program fresh graduate operator menampung 50 orang, dengan pelatihan lanjutan nantinya akan dilaksanakan di Provinsi Kalimantan Selatan selama empat bulan.
Kandidat yang dinyatakan lulus seleksi di Aceh Barat akan diberangkatkan ke pusat pelatihan nasional di Kalimantan Selatan. Di sana, mereka akan menjalani pelatihan intensif selama kurang lebih empat bulan untuk mengasah keterampilan teknis dan aspek keselamatan kerja.
"Harapan kami dengan memilih kandidat yang sudah memiliki kemampuan dasar, durasi pelatihan dapat dipersingkat sehingga penyediaan tenaga kerja (manpower) dapat terpenuhi lebih cepat untuk mendukung operasional perusahaan tambang batu bara," kata Sigit.
Kegiatan ini diharapkan tidak hanya memenuhi kebutuhan operasional perusahaan, tetapi juga memberikan peluang karier profesional bagi putra daerah di sektor industri pertambangan.
Baca juga: Tim gabungan Polda Aceh tindak tambang emas ilegal di Geumpang Pidie
Pewarta: Teuku Dedi IskandarEditor : Febrianto Budi Anggoro
COPYRIGHT © ANTARA 2026