Banda Aceh (ANTARA) - Prajurit TNI membangun jembatan perintis Garuda di Desa Reje Payung, Kecamatan Linge, Kabupaten Aceh Tengah yang kini memasuki tahapan III guna membuka keterisoliran atau akses transportasi dan mendorong pertumbuhan ekonomi di wilayah terpencil.

“Pembangunan ini bukan sekedar membuka jalan, tetapi upaya nyata TNI memperkuat konektivitas antarwilayah dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat, khususnya bagi warga Desa Reje Payung dan Desa Jamat yang dihuni lebih dari 700 jiwa,” kata Dandim 0106/Aceh Tengah, Letkol Inf Raden Herman Sasmita dalam keterangannya yang diterima di Banda Aceh, Sabtu.

Letkol Raden mengatakan, sejauh ini progres pembangunan jembatan tersebut menunjukkan tren positif sejak dibangun pada 6 April 2026 lalu. Capaian pekerjaan fisiknya telah menyentuh angka 7,07 persen.

Dandim menjelaskan, pembangunan sudah diselesaikan pada pembersihan lokasi dan pemasangan tali poros jembatan. Kemudian penggalian lubang pondasi untuk abutment A1 dan B1 masuk tahap pengecoran lantai pondasi.

Baca: Jembatan ambruk, Sepuluh desa di Aceh Tengah kembali terisolir

“Untuk penggalian pondasi abutmen A2 dan B2 saat ini sudah mencapai 85 persen. Hari ini personel di lapangan fokus pada pengikatan besi pondasi, dan rencananya besok akan dilanjutkan  tahap pengecoran,” ujarnya.

Setelah pondasi rampung, lanjut dia, tahap berikutnya difokuskan pada pengecoran abutment secara menyeluruh, pemasangan pylon, serta perakitan rangka jembatan.

”Jembatan perintis Garuda ini dirancang dengan panjang 110 meter dan lebar 1,2 meter. Dengan kapasitas tonase maksimal 1 ton, jembatan ini membentang di atas sungai selebar 90 meter yang memiliki karakteristik debit air fluktuatif,” katanya.

Letkol Raden menambahkan, keberhasilan proyek ini merupakan hasil kolaborasi solid antara personel gabungan yang terdiri dari lima anggota Koramil 05/Linge, 25 Personel Yon TP 854/DK, satu personel asistensi Zidam Iskandar Muda, serta dukungan penuh dari masyarakat setempat dan tenaga tukang ahli.

“Meski cuaca di lokasi kerap mendung pada sore hari, situasi pengerjaan tetap aman dan kondusif. Kehadiran jembatan ini diharapkan menjadi solusi permanen atas keterbatasan akses yang selama ini menghambat mobilitas dan aktivitas ekonomi warga,” demikian Letkol Raden Herman Sasmita.

Baca: Aceh Tengah kembali dilanda banjir bandang dan tanah longsor
 



Pewarta: Rahmat Fajri
Editor : M.Haris Setiady Agus

COPYRIGHT © ANTARA 2026