Banda Aceh (ANTARA) - Aneuk Muda Aceh Unggup Hebat (AMANAH) Youth Creative Hub yang berlokasi di Ladong, Kecamatan Masjid Raya, Kabupaten Aceh Besar, kembali dibuka pada Kamis, 23 April 2026. Tempat ini sempat ditutup selama hampir satu tahun untuk keperluan perbaikan gedung.

Pada hari pembukaannya pada Kamis (23/4), AMANAH Youth Creative Hub menawarkan berbagai hal menarik bagi pengunjung, salah satunya program "Petik Melon Langsung di Kebun" yang disertai edukasi tata cara budidaya melon premium langsung dari para pekerjanya.

Seorang pekerja di bidang Pertanian dan Perikanan (P3K) Green House AMANAH Youth Creative Hub, Rifaldi, menjelaskan bahwa penutupan gedung berdampak pada tanaman yang ada di dalamnya.
 

Baca juga: Pemerintah Aceh dukung eksistensi AMANAH untuk inkubasi wirausaha generasi muda

"Gedung AMANAH ini sempat ditutup hampir satu tahun karena ada perbaikan, sehingga buah-buahan di sini seperti melon, anggur, dan lainnya sempat mati. Karena peresmian relauching gedung di bulan April, kami harus gerak cepat untuk menanam ulang di bulan Februari kemarin, mengingat masa pertumbuhan melon adalah dua bulan," jelas Rifaldi.

Sejak pagi hari saat pembukaan berlangsung, pengunjung yang datang untuk membeli dan menyaksikan langsung pertumbuhan melon terlihat sangat ramai. Green House ini akan dibuka setiap hari mulai pukul 08.00 hingga 18.00 WIB.

Rifaldi menambahkan bahwa panen akan dilakukan secara bertahap agar setiap bulan selalu ada hasil panen. Kebun pertama dijadwalkan panen pada April, disusul kebun kedua pada Mei.

Adapun harga jual buah melon dipatok Rp30.000 per kilogram, sementara buah dengan bobot satu setengah kilogram dihargai Rp45.000. Jika hasil panen habis sebelum sebulan, Green House akan ditutup sementara hingga masa panen berikutnya tiba.

Jenis melon yang dibudidayakan di Green House ini adalah varietas Golden Alisha, dengan sistem tanam berbasis teknologi IoT (Internet of Things).

"Dengan teknologi IoT, kami bisa memantau kelembapan tanah dan mengatur suhu di dalam Green House. Misalnya kalau suhu turun hingga 30 derajat ke atas, sistem akan otomatis menyesuaikan suhu dengan mengeluarkan kabut seperti hujan.

Untuk penyiramannya, kami memasang pipa di setiap polibag yang bisa diatur melalui handphone atau iPad sebanyak dua kali sehari, masing-masing selama 20 menit," tambah Rifaldi.

 

Salah satu pengunjung Kebun sedang mengamati melon yang siap panen di Green House AMANAH Youth Creative Hub, Aceh Besar, Kamis (23 April 2026). (ANTARA/Rizki Mauliza Yanti)

 

Salah satu pengunjung, Mahdi Mubammad (61), seorang petani asal Blang Bintang, mengaku tertarik datang ke Green House karena proses budidayanya memanfaatkan teknologi modern.

"Saya datang ke sini bukan hanya tertarik dengan buahnya, tapi juga ingin belajar cara budidayanya. Menurut saya, kita sudah terlambat mengenal teknologi. Berdasarkan statistik, 70 persen petani berusia 50 tahun ke atas karena kurangnya keterlibatan anak muda. Seandainya ada kemudahan melalui teknologi, anak-anak muda akan lebih bersedia mengelola pertanian seperti ini. Menurut saya, hal ini harus disebarluaskan agar semakin banyak anak muda yang memahaminya, meskipun ini sebenarnya bukan teknologi baru," ujar Mahdi.

Kehadiran Green House AMANAH Youth Creative Hub dengan sentuhan teknologi IoT ini diharapkan dapat menjadi inspirasi sekaligus ruang belajar bagi generasi muda Aceh untuk lebih dekat dengan dunia pertanian modern.

Di tengah tantangan regenerasi petani yang kian mendesak, inovasi seperti ini dinilai penting untuk membuktikan bahwa bertani bukan lagi pekerjaan yang identik dengan cara-cara konvensional, melainkan sebuah peluang yang menjanjikan jika dikelola dengan teknologi dan semangat yang tepat.

Baca juga: AMANAH siap lahirkan produk kompetitif generasi muda Aceh



Pewarta: Rizki Mauliza Yanti
Editor : Febrianto Budi Anggoro

COPYRIGHT © ANTARA 2026