Aceh Barat (ANTARA) - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) hingga saat ini telah mengerahkan helikopter ke Kabupaten Aceh Barat, sebagai upaya untuk mengatasi meluasnya kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di daerah tersebut dengan cara melakukan pengeboman air ke lokasi kebakaran (water bombing).

"Hari ini, Senin (8/6), Helikopter pengebom air melakukan dua tahap pengeboman air dari udara, yaitu sesi pagi hingga siang, dan dilanjutkan siang hingga sore hari,” kata Pelaksana Tugas (Plt) Kepala BPBD Kabupaten Aceh Barat, Teuku Ronal kepada wartawan, Senin.

Berdasarkan data data yang dihimpun BPBD Aceh Barat, kebakaran tersebar di empat kecamatan diantaranya Kecamatan Bubon meliputi Desa/Gampong Berawang 15 Ha, Kuta Padang Layung 10 Ha. Kecamatan Johan Pahlawan meliputi Desa Lapang 1 Ha, Seuneubok 0,5 Ha.

Kemudian Kecamatan Arongan Lambalek meliputi Desa Gunung Pulo seluas 1 Ha, Kecamatan Meureubo meliputi Desa Ujong Tanoh Darat seluas 1,6 Ha.

Ia mengatakan, Helikopter pengebom air milik BNPB sudah mulai dikerahkan ke lokasi kebakaran lahan di Kabupaten Aceh Barat, sejak Minggu (7/6).

Seperti diketahui, tujuan pengeboman air ke lokasi kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) adalah untuk memadamkan atau menjinakkan titik api dengan cepat dari udara. 

Baca: Padamkan karhutla di Aceh Barat, BNPB modifikasi cuaca

Metode ini sangat diandalkan oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dalam operasi penanganan bencana nasional. Fungsi dan tujuan spesifik water bombing dapat menjangkau titik api di medan terjal, berbukit, atau area gambut yang sangat sulit atau berbahaya untuk diakses oleh tim pemadam darat.

Pengeboman air melalui udara juga diharapkan dapat menurunkan suhu ekstrem di area yang terbakar dan mendinginkan material vegetasi agar tidak mudah tersulut kembali, serta mampu membasahi area di sekitar api utama untuk menciptakan sekat bakar basah sehingga api tidak meluas ke wilayah yang lebih luas.

Pengeboman air melalui udara ini juga dapat mengurangi kepulan kabut asap pekat yang mengganggu aktivitas dan membahayakan kesehatan masyarakat, dan dapat memecah konsentrasi api agar pasukan pemadam di darat dapat mendekat dengan aman untuk melakukan pemadaman lanjutan.

Teuku Ronal mengatakan meski pengeboman air dilakukan, BNPB juga tetap melakukan modifikasi cuaca (OMC) juga tetap berjalan untuk memicu hujan buatan.

Hingga saat ini, kondisi kebakaran di Kabupaten Aceh Barat, telah berhasil tertangani sebesar 70 persen berkat kombinasi penanganan darat dan udara.

BPBD Aceh Barat mengimbau masyarakat untuk tetap waspada dan segera melaporkan jika melihat adanya indikasi titik api baru di wilayah mereka agar bisa segera diantisipasi sejak dini.

Baca: BPBD: 29,1 Ha lahan gambut di Aceh Barat terbakar



Pewarta: Teuku Dedi Iskandar
Editor : M.Haris Setiady Agus

COPYRIGHT © ANTARA 2026