Jakarta (ANTARA) - Di setiap fase perubahan politik Indonesia, selalu ada satu pertanyaan yang kembali muncul, di mana posisi kelompok Cipayung? Pertanyaan itu kembali relevan ketika Indonesia memasuki periode turbulensi sosial, ekonomi, dan politik yang semakin kompleks. Kenaikan biaya hidup, ketimpangan ekonomi, ketidakpastian lapangan kerja, transformasi digital, hingga menguatnya politik persepsi di ruang maya telah menciptakan lanskap baru yang sangat berbeda dibanding era ketika organisasi-organisasi mahasiswa yang tergabung dalam kelompok Cipayung lahir dan tumbuh.
Kelompok Cipayung bukan sekadar kumpulan organisasi kemahasiswaan. Ia merupakan simbol sejarah panjang gerakan intelektual mahasiswa Indonesia. Nama "Cipayung" sendiri memiliki daya magis tersendiri karena melekat dengan berbagai momentum penting perjalanan bangsa.
Dalam banyak periode krisis, mahasiswa yang berasal dari berbagai organisasi tersebut pernah tampil sebagai kekuatan moral yang mampu memberi arah dan tekanan politik terhadap penguasa.
Namun sejarah memiliki satu kelemahan, ia tidak bisa hidup hanya dari kenangan.
Baca juga: Gerakan "Solidaritas Emak Emak" tabur bunga di Polda Metro Jaya
Pertanyaan mendasarnya adalah apakah kelompok Cipayung hari ini masih memiliki daya getar yang sama seperti masa lalu, atau justru sedang menghadapi tantangan eksistensial akibat perubahan zaman yang berlangsung sangat cepat?
Generasi mahasiswa Indonesia saat ini bukan lagi generasi yang hidup dalam ekosistem politik konvensional. Mereka adalah generasi digital yang tumbuh bersama internet, media sosial, kecerdasan buatan, dan arus informasi tanpa batas. Mereka tidak lagi menjadikan organisasi sebagai satu-satunya sumber pengetahuan politik.
Mereka memperoleh informasi langsung dari berbagai kanal digital, membangun komunitas secara cair, dan mampu mengorganisasi gerakan tanpa harus melalui struktur organisasi yang formal.
Fenomena ini terlihat dalam berbagai aksi sosial dan politik beberapa tahun terakhir. Banyak gerakan yang mampu mengumpulkan dukungan nasional hanya melalui media sosial tanpa digerakkan oleh organisasi mahasiswa besar. Tagar mampu menjadi alat mobilisasi yang lebih cepat dibanding rapat organisasi. Video pendek mampu mengubah opini publik lebih efektif dibanding pidato panjang di mimbar kampus.
Di sinilah tantangan terbesar kelompok Cipayung. Mereka tidak lagi berhadapan dengan negara semata, tetapi juga berhadapan dengan perubahan karakter generasi. Jika dahulu legitimasi diperoleh dari sejarah organisasi, kini legitimasi diperoleh dari relevansi terhadap persoalan yang dihadapi publik.
Baca juga: Demo mahasiswa tolak Pergub JKA di kantor Gubernur Aceh ricuh
Mahasiswa kini
Mahasiswa era digital tidak terlalu peduli pada romantisme masa lalu. Mereka lebih tertarik pada siapa yang hadir ketika rakyat menghadapi kesulitan ekonomi. Mereka melihat siapa yang berbicara ketika biaya pendidikan meningkat.
Mereka memperhatikan siapa yang mengawal transparansi anggaran publik. Mereka menilai siapa yang berani mengkritik kebijakan yang merugikan masyarakat tanpa mempertimbangkan kedekatan politik.
Karena itu, nama besar tidak lagi cukup.
Sejarah memang penting, tetapi sejarah bukanlah sertifikat permanen yang menjamin kepercayaan publik. Daya getar sebuah organisasi tidak berasal dari arsip perjuangan masa lalu, melainkan dari keberanian menghadapi persoalan masa kini.
Di sisi lain, tidak adil pula jika menyimpulkan bahwa kelompok Cipayung telah kehilangan relevansi. Faktanya, jaringan kaderisasi mereka masih tersebar luas di berbagai kampus, lembaga negara, organisasi masyarakat, hingga sektor swasta. Modal sosial ini masih menjadi kekuatan yang tidak dimiliki oleh banyak gerakan spontan di media sosial.
Masalahnya bukan pada keberadaan organisasi, melainkan pada kemampuan beradaptasi.
Jika kelompok Cipayung masih terjebak dalam pola komunikasi lama, bahasa politik lama, dan agenda organisasi yang jauh dari kegelisahan generasi muda, maka jarak dengan mahasiswa digital akan semakin lebar. Sebaliknya, jika mereka mampu mengubah diri menjadi ruang dialog yang terbuka, adaptif terhadap teknologi, dan fokus pada isu-isu konkret yang dirasakan rakyat, maka mereka berpotensi mengalami revitalisasi.
Pada konteks ini, yang sedang diuji bukan kekuatan organisasi, melainkan kejujuran moralnya. Publik ingin melihat apakah kelompok Cipayung berdiri di samping rakyat atau hanya berdiri di dekat kekuasaan. Sebab sejarah Indonesia menunjukkan bahwa banyak organisasi mahasiswa yang kehilangan daya kritis setelah sebagian elitnya masuk ke lingkaran kekuasaan. Ketika kritik mulai melemah dan keberanian mulai berkurang, kepercayaan publik pun ikut terkikis.
Generasi digital sangat sensitif terhadap inkonsistensi semacam ini. Mereka dapat membandingkan pernyataan lama dan baru dalam hitungan detik. Mereka dapat menelusuri jejak digital seorang aktivis atau organisasi hanya melalui telepon genggam. Akibatnya, ruang toleransi terhadap sikap oportunistik menjadi semakin sempit.
Karena itu, masa depan kelompok Cipayung tidak akan ditentukan oleh jumlah komisariat, jumlah kader, atau besarnya struktur organisasi. Masa depan mereka akan ditentukan oleh kemampuan menjawab satu pertanyaan sederhana, apakah mereka masih menjadi representasi suara mahasiswa dan rakyat, atau sekadar penjaga tradisi organisasi?
Jika memilih jalan pertama, kelompok Cipayung harus berani hadir dalam isu-isu yang menjadi kegelisahan generasi baru, mulai dari ketidakpastian pekerjaan, mahalnya pendidikan, kecerdasan buatan yang mengubah pasar tenaga kerja, krisis lingkungan, hingga ancaman disinformasi digital.
Jika memilih jalan kedua, mereka mungkin tetap bertahan sebagai organisasi, tetapi hanya menjadi bagian dari museum politik mahasiswa Indonesia.
Pada akhirnya, sejarah sedang menunggu jawaban. Di tengah perubahan zaman yang begitu cepat, kelompok Cipayung tidak lagi dinilai dari siapa pendirinya, seberapa besar namanya, atau seberapa panjang daftar alumninya. Mereka akan dinilai dari posisi yang mereka ambil hari ini.
Berdiri di atas nama besar masa lalu memang nyaman. Namun berdiri di samping rakyat dan generasi mahasiswa digital membutuhkan keberanian yang jauh lebih besar.
Dan seperti yang selalu diajarkan sejarah gerakan mahasiswa Indonesia, keberanian itulah yang sesungguhnya menciptakan daya getar. Bukan nama besar, melainkan keberpihakan yang nyata.
*Penulis adalah Pemerhati Isu Strategis & Doktor Ilmu Komunikasi Unpad
Baca juga: Penanganan bencana Aceh dinilai masih lamban, mahasiswa geruduk DPRA
Pewarta: Dr. Safriady S.sos, M.I.komEditor : Febrianto Budi Anggoro
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.