Banda Aceh (ANTARA) - Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry Banda Aceh kembali menambah enam guru besar guna memperkuat posisi kampus tersebut sebagai perguruan tinggi keagamaan Islam negeri yang unggul, inovatif, dan berdaya saing global, sekaligus memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan bangsa.

“Penambahan enam guru besar ini sesuai dengan Keputusan Menteri Agama (KMA) tentang Penetapan Guru Besar Rumpun Ilmu Agama Periode III Tahun 2025 yang diserahkan langsung Menteri Agama Prof Dr Nasaruddin Umar,” kata Rektor UIN Ar-Raniry Banda Aceh, Prof Dr Mujiburrahman di Banda Aceh, Selasa.

Keenam dosen UIN Ar-Raniry yang menerima KMA Guru Besar yakni Prof. Dr. Azhar, M.Pd. bidang Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam, Prof. Dr. Husna Amin, M.Hum. bidang Filsafat Agama dan Prof. Dr. Marzuki, S.Pd.I., M.Si. bidang Antropologi Pendidikan Islam.

Kemudian Prof. Dr. Firdaus, S.Ag., M.Hum. bidang Sosiologi Agama, Prof. Dr. Ernita Dewi, S.Ag., M.Hum. bidang Filsafat Islam Kontemporer dan Prof. Dr. Jasafat, M.A. bidang Ilmu Dakwah.

Ia menyebutkan dengan penambahan tersebut maka jumlah guru besar di UIN Ar Raniry Banda Aceh  66 orang. Penambahan tersebut menjadi indikator meningkatnya kapasitas akademik dan kualitas sumber daya manusia di lingkungan kampus.

Baca: UIN Ar-Raniry perkuat kompetensi 140 dosen pemula di Aceh

"Alhamdulillah, dalam empat tahun terakhir jumlah guru besar UIN Ar-Raniry meningkat dari 22 orang pada 2022 menjadi 66 orang pada 2026. Capaian ini menunjukkan budaya akademik dan produktivitas dosen terus berkembang," ujar Mujiburrahman.

Menurutnya, peningkatan juga terjadi pada jumlah dosen bergelar doktor. Jika pada 2022 terdapat 188 dosen bergelar doktor, maka pada 2026 jumlahnya telah mencapai 289 orang.

Ia menilai peningkatan jumlah profesor dan dosen bergelar doktor akan memperkuat pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya di bidang pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. 

Ia berharap, kehadiran para profesor mampu mendorong lahirnya inovasi, memperkuat kolaborasi riset, meningkatkan publikasi ilmiah, serta memperluas rekognisi akademik di tingkat nasional maupun internasional.

"Guru besar memiliki tanggung jawab strategis dalam mengembangkan ilmu pengetahuan, menghasilkan karya akademik yang berdampak, membimbing generasi peneliti, serta menghadirkan solusi atas berbagai persoalan masyarakat melalui keilmuan yang dimiliki," katanya.

Dalam arahannya, Menteri Agama Prof Dr Nasaruddin Umar MA mengingatkan bahwa guru besar tidak hanya dituntut unggul dalam bidang akademik, tetapi juga mampu mengintegrasikan ilmu pengetahuan dengan nilai-nilai keagamaan.

Baca: Rektor: UIN Ar-Raniry paling diminati di Sumatera



Pewarta: M Ifdhal
Editor : M.Haris Setiady Agus

COPYRIGHT © ANTARA 2026