Aceh Timur (ANTARA) - Ketika harga berbagai kebutuhan pangan kerap berfluktuasi, banyak keluarga harus memutar otak agar pengeluaran rumah tangga tetap terkendali. Di sebuah desa di Kabupaten Aceh Timur, solusi itu justru tumbuh di halaman rumah. Pekarangan yang dulu dibiarkan kosong kini menghadirkan sayuran segar setiap hari, bahkan menjadi sumber tambahan penghasilan. Lewat pemanfaatan halaman rumah diharapkan mampu turut menjaga ketahanan ekonomi masyarakat.    

Yusmiana, warga Desa Jambo Balee, Kecamatan Indra Makmu, tak lagi khawatir ketika harga sayuran di pasar naik. Hampir setiap hari, perempuan berusia 53 tahun itu memetik cabai, kangkung, bayam, sawi, atau tomat dari kebun kecil di samping rumahnya untuk disajikan di meja makan keluarga.

Deretan polybag berisi sayuran hijau kini memenuhi halaman rumahnya. Pemandangan itu sangat berbeda dibanding beberapa bulan lalu ketika pekarangan tersebut hanya berupa lahan kosong yang jarang dimanfaatkan. Saat itu, Yusmiana harus menunggu pedagang sayur keliling atau pergi ke pasar jika ingin memasak sayuran.

"Kalau dulu mau masak sayur harus beli ke pasar atau menunggu pedagang keliling datang. Sekarang tinggal petik di belakang rumah," ujarnya sambil tersenyum. Bagi Yusmiana, kebun kecil itu bukan sekadar menyediakan bahan pangan segar bagi keluarga.

 

Baca juga: Kesempatan Hidup Sehat Lewat Pemeriksaan Kesehatan Gratis
 

Ketika panen melimpah, sebagian hasilnya dijual kepada tetangga sehingga memberi tambahan penghasilan untuk membantu memenuhi kebutuhan rumah tangga."Kalau panennya banyak, sebagian kami jual ke tetangga. Memang belum besar hasilnya, tapi cukup membantu menambah uang belanja rumah tangga," katanya.

Perubahan tersebut bermula ketika Yusmiana mengikuti Program Edukasi dan Praktik Budidaya Sayuran yang dijalankan PT Medco E & P Malaka (Medco E&P) melalui Rumah Pemberdayaan Ibu dan Anak (RPIA) sejak Oktober 2025. Bersama sejumlah ibu rumah tangga lainnya, ia memperoleh pelatihan budidaya sayuran, pendampingan rutin, serta bantuan bibit, pupuk, polybag, dan peralatan pendukung.

Awalnya ia mengaku tidak percaya diri karena belum pernah menanam sayuran. Namun pendampingan yang dilakukan secara berkala membuatnya mampu membudidayakan berbagai jenis tanaman, mulai dari bayam, kangkung, sawi, cabai, tomat, terong hingga timun.

Warga memanen sayuran hasil budidaya sendiri di perkarangan rumah di Kecamatan Indra Makmur, Kabupaten Aceh Timur, Minggu (7/6/2026). (ANTARA/HO-Humas Medco)


Baca juga: Bantuan Air Bersih dan Pemulihan Pascabanjir di Aceh Timur

Perubahan serupa juga dirasakan Muliyani, warga Desa Blang Nisam. Pekarangan rumah yang sebelumnya kosong kini berubah menjadi kebun sayur yang hampir setiap hari memenuhi kebutuhan dapur keluarganya. "Halaman rumah yang dulu tidak dimanfaatkan sekarang menjadi kebun sayur. Selain untuk kebutuhan keluarga, tetangga juga sering membeli hasil panen," ujarnya. Menurut Muliyani, memiliki kebun sendiri membuat keluarganya tidak lagi terlalu bergantung pada pasokan sayuran dari pasar, terutama ketika harga kebutuhan pokok meningkat.

Kisah Yusmiana dan Muliyani menunjukkan bahwa ketahanan pangan keluarga tidak selalu dimulai dari lahan yang luas. Dengan memanfaatkan pekarangan rumah, mereka mampu menyediakan pangan sehat secara mandiri sekaligus memperoleh tambahan pendapatan dari hasil panen.

Pelatih budidaya sayuran, Ustadz Wandi, mengatakan keberhasilan program tidak hanya diukur dari banyaknya sayuran yang dipanen, tetapi juga dari perubahan cara pandang masyarakat terhadap pekarangan rumah. "Yang paling penting bukan hanya panennya, tetapi perubahan pola pikir masyarakat. Mereka mulai melihat pekarangan rumah sebagai aset yang bisa dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan keluarga," ujarnya.

Hasil monitoring tim Rumah Pemberdayaan Ibu dan Anak menunjukkan delapan peserta program masih aktif mengelola kebun sayur hingga kini. Berbagai komoditas seperti kangkung, bayam, sawi, cabai, tomat, terong, dan timun terus ditanam secara berkelanjutan. Konsistensi tersebut menunjukkan bahwa keterampilan yang diperoleh selama pelatihan benar-benar diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Senior Manager Communication Medco E&P, Leony Lervyn, mengatakan program tersebut dirancang bukan hanya untuk mengajarkan teknik budidaya, tetapi juga mendorong masyarakat memanfaatkan sumber daya yang ada di sekitar mereka agar mampu memenuhi kebutuhan pangan keluarga secara mandiri. "Kami berharap keterampilan yang diperoleh masyarakat terus berkembang dan memberikan manfaat jangka panjang. Dari hasil monitoring terlihat peserta mampu mengelola kebun secara mandiri, memenuhi kebutuhan pangan keluarga, bahkan mulai memperoleh manfaat ekonomi dari hasil panen," katanya.

Kini, halaman yang dahulu dibiarkan kosong menjadi tempat warga memanen lebih dari sekadar sayuran. Di sana tumbuh keyakinan bahwa ketahanan keluarga dapat dimulai dari langkah sederhana: memanfaatkan pekarangan rumah. Di tengah harga pangan yang terus berfluktuasi, kebun kecil itu menghadirkan rasa tenang karena selalu menyediakan pangan segar bagi keluarganya.

 

Baca juga: Sebanyak 15 pesepak bola muda di Aceh Timur diboyong ke Yogyakarta



Editor : Febrianto Budi Anggoro

COPYRIGHT © ANTARA 2026