Banda Aceh (ANTARA) - Badan Pengelola Migas Aceh (BPMA) bersama Medco E&P Malaka, Pemerintah Aceh dan LSM Seulanga Aceh, menanam 1.000 batang mangrove di kawasan pesisir Gampong Asoe Nanggroe, Kecamatan Meuraxa, Kota Banda Aceh, Minggu.

General Manager Medco E&P Malaka Tutu Paniji mengatakan, keterlibatan berbagai pihak dalam kegiatan tersebut menunjukkan pentingnya kerja sama dalam menjaga ekosistem pesisir.

“Melalui kolaborasi ini, kami berharap upaya pelestarian mangrove memberikan manfaat berkelanjutan bagi ketahanan pesisir dan generasi mendatang,” kata Tutu Paniji.

Baca juga: Medco E&P dan BPMA salurkan beasiswa untuk 431 pelajar berprestasi di Aceh Timur

Kegiatan Gerakan Peduli Lingkungan dalam rangka memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026 ini diikuti sekitar 300 peserta dari kalangan mahasiswa, dosen, organisasi kemahasiswaan, organisasi kepemudaan, komunitas pecinta alam, akademisi, LSM hingga masyarakat.

Penanaman ini guna menjaga kawasan pesisir karena mangrove memiliki manfaat dalam mengurangi risiko abrasi, menjadi habitat berbagai biota laut, serta membantu menjaga keseimbangan lingkungan.

Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa tidak hanya hadir sebagai peserta, melainkan turut terlibat langsung dalam proses penanaman mangrove sebagai bentuk kepedulian terhadap keberlanjutan ekosistem pesisir.

Kegiatan tersebut didukung oleh Medco E&P Malaka, Badan Pengelola Migas Aceh (BPMA), dan Pemerintah Aceh sebagai bentuk kolaborasi berbagai pihak dalam upaya pelestarian lingkungan.

Relawan bersama anak-anak menanam pohon mangrove pada pelaksanaan Gerakan Peduli Lingkungan di daerah pesisir Pantai Asoe Nanggroe, Banda Aceh, Aceh, Minggu (19/7/2026). Pemerintah Aceh bekerja sama dengan pihak swasta menanam 1.000 pohon manggrove sebagai upaya menjaga keseimbangan ekosistem pesisir, melindungi garis pantai dari abrasi, dan menjaga habitat serta biota yang hidup di daerah pantai. ANTARA FOTO/Irwansyah Putra/wsj.

Sementara itu, Kepala BPMA Nasri Djalal mengatakan pelestarian lingkungan merupakan tanggung jawab bersama, termasuk dalam kegiatan sektor hulu migas yang tetap harus memperhatikan keberlanjutan alam.

“Menjaga lingkungan harus dilakukan bersama-sama agar kegiatan eksploitasi tetap berjalan dengan memperhatikan kelestarian lingkungan,” kata Nasri.

Disisi lain, Ketua LSM Seulanga Aceh, Wardhana Prasetya berharap pemerintah daerah terus memperkuat dukungan terhadap berbagai program pelestarian lingkungan yang dilakukan organisasi kemahasiswaan, Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala), maupun LSM konservasi.

“Kami ingin kepedulian terhadap lingkungan ini menjadi sebuah kebiasaan. Kalau sudah menjadi kebiasaan, orang akan dengan sendirinya menjaga lingkungan tanpa harus disuruh,” harapnya.

Dalam kesempatan ini, salah seorang mahasiswa Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Syiah Kuala, Muhammad Ariel mengatakan keterlibatan mereka dalam kegiatan tersebut sebagai bentuk kontribusi generasi muda dalam menghadapi perubahan iklim.

Ariel berharap, kegiatan lingkungan serupa dapat terus diperbanyak dengan melibatkan lebih banyak generasi muda. Menurut dia, aksi pelestarian lingkungan tidak hanya dapat dilakukan melalui penanaman mangrove, tetapi juga melalui kegiatan lain seperti pengurangan sampah plastik.

"Melalui penanaman mangrove ini kami ingin memberikan kontribusi untuk menjaga bumi. Mangrove mampu menyerap karbon dioksida, menghasilkan oksigen, dan manfaatnya akan dirasakan oleh generasi mendatang,” pungkas M Ariel.

Baca juga: Saat Harga Pangan Berfluktuasi, Pekarangan Rumah Menjadi Penyelamat Dapur Keluarga



Pewarta: Nurul Amalia
Editor : Febrianto Budi Anggoro

COPYRIGHT © ANTARA 2026