Banda Aceh (ANTARA) - Pemerintah Aceh mengajak masyarakat untuk meningkatkan penggunaan bahasa dan aksara Aceh dalam kehidupan sehari-hari sebagai upaya pelestarian bahasa daerah untuk diwariskan kepada generasi mendatang.

"Bahasa, aksara, dan sastra Aceh merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari jati diri serta kekayaan budaya masyarakat Aceh," kata Gubernur Aceh, Muzakir Manaf atau Mualem, di Banda Aceh, Rabu.

Pernyataan itu disampaikan Muzakir Manaf dalam sambutannya yang dibacakan Asisten Pemerintahan, Keistimewaan Aceh dan Kesejahteraan Rakyat Setda Aceh, Syakir saat membuka rapat koordinasi budaya Aceh, di kantor Gubernur Aceh, Banda Aceh.

Rakor tersebut menjadi ruang untuk melakukan konsolidasi, evaluasi, sekaligus menyamakan langkah dalam memperkuat pelestarian bahasa, aksara dan sastra Aceh.

Baca: Jaga bahasa Aceh tidak punah, Disbudpar Aceh perbanyak pementasan

Mualem mengatakan, pemerintah Aceh telah menerbitkan Instruksi Gubernur Aceh Nomor 5/Instr/2023 tentang Penggunaan Bahasa, Aksara dan Sastra Aceh, regulasi itu sebagai komitmen untuk merawat, melindungi, mempertahankan, sekaligus mengembangkan bahasa, aksara, dan sastra Aceh agar tetap hidup di masa mendatang.

Instruksi tersebut ditujukan kepada pemerintah kabupaten/kota, SKPA, instansi vertikal, BUMN, BUMA, perbankan, serta berbagai lembaga yang beroperasi di Aceh.

Salah satu amanatnya, penggunaan bahasa Aceh sebagai bahasa komunikasi sedikitnya satu hari dalam sepekan, yakni setiap Kamis. Selain itu, penggunaan Aksara Aceh atau Arab Jawi juga didorong pada papan nama dan berbagai media informasi.

Muzakir menilai, kebijakan tersebut tidak bakal berarti tanpa implementasi yang nyata di lapangan. Karena itu, Rakor diperlukan untuk melihat sejauh mana instruksi tersebut telah dilaksanakan.



Pewarta: Rahmat Fajri
Editor : M.Haris Setiady Agus

COPYRIGHT © ANTARA 2026