Banda Aceh (ANTARA) - Tim Pengabdian Kepada Masyarakat Berbasis Pembangunan Berkelanjutan (PKMBPB) Fakultas Kelautan dan Perikanan Universitas Syiah Kuala (FKP-USK) Banda Aceh menghadirkan edukasi ecoprint berbasis konservasi dari tanaman mangrove di Banda Aceh.
"Kekayaan ekosistem mangrove dapat menjadi sumber pembelajaran sekaligus inspirasi menghasilkan karya kreatif. Melalui ecoprint, masyarakat mengenal mangrove dari sisi berbeda," kata Ketua Tim Pengabdian Harum Farahisah di Banda Aceh, Senin.
Pernyataan itu disampaikan dalam kegiatan “Ecoprint Mangrove sebagai Media Edukasi dalam Pengembangan Ekowisata dan Ekonomi Kreatif Berbasis Konservasi", di Mangrove Park Lampulo, Banda Aceh.
Tim PKMBPB ini terdiri atas Harum Farahisah sebagai ketua, dengan anggota Khairunnisa, Amri MC, Siti Hijrah Happy Akasi dan M Abdul Mahlil.
Dalam kegiatan yang diikuti mahasiswa dan masyarakat dari komunitas Pemuda Peduli Mangrove Kutaraja (PEMANGKU) itu, mereka mengenalkan teknik ecoprint sebagai cara kreatif untuk mempelajari karakter tumbuhan melalui bentuk, tekstur, dan warna alaminya.
Peserta, tidak hanya memperoleh pengetahuan mengenai proses pembuatannya, tetapi juga memahami keterkaitan antara potensi lingkungan pesisir dengan kreativitas yang dapat bernilai tambah.
Harum menjelaskan, pemilihan ecoprint berangkat dari keinginan untuk menghadirkan pengalaman yang lebih interaktif bagi pengunjung kawasan mangrove.
Baca: BSI bantu pemulihan pesisir Aceh Tamiang lewat penanaman 15 ribu mangrove
"Tumbuhan yang selama ini dipahami fungsi ekologisnya, juga dapat menjadi sumber inspirasi untuk menghasilkan karya kreatif," ujarnya.
Dalam edukasi ini, lanjut Harum, peserta diperkenalkan pada karakteristik mangrove, prinsip dasar ecoprint, serta bahan dan teknik yang digunakan. Pengetahuan tersebut kemudian diterapkan melalui praktik langsung pada media kain.
Kemudian, mengikuti setiap tahapan pembuatan, mulai dari menata bahan hingga memindahkan bentuk dan pigmen alami tumbuhan ke permukaan kain. Proses tersebut memberikan pengalaman langsung dalam mengolah bahan alam menjadi produk kreatif.
"Pemanfaatan material tumbuhan dalam praktik ini dilakukan secara bijak dengan mempertimbangkan kelestarian vegetasi. Prinsip tersebut menjadi bagian penting agar aktivitas kreatif tetap selaras dengan tujuan menjaga lingkungan," katanya.
Sebagai tindak lanjut, tim USK turut menyerahkan paket ecoprint kepada PEMANGKU. Peralatan dan bahan tersebut diharapkan dapat dimanfaatkan untuk melanjutkan praktik secara mandiri serta menjadi fasilitas pendukung bagi aktivitas wisata berbasis pengalaman di kawasan tersebut.
“Paket ini kami harapkan dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan Ke depan, ecoprint dapat dikemas menjadi salah satu bagian dari paket kunjungan di Mangrove Park Lampulo," ujarnya.
Ia menambahkan, melalui pendekatan kreatif tersebut, potensi mangrove dapat diperkenalkan dengan cara yang lebih dekat dan menarik bagi masyarakat.
"Ecoprint diharapkan menjadi salah satu pilihan aktivitas yang dapat memperkaya pengalaman wisata sekaligus membuka ruang bagi lahirnya produk kreatif khas kawasan pesisir," demikian Harum Farahisah.
Baca: Kolaborasi Pemerintah Aceh, BPMA, dan Medco tanam 1.000 mangrove
Pewarta: Rahmat FajriEditor : M.Haris Setiady Agus
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.