Banda Aceh (ANTARA) - Dinas Pertanian dan Perkebunan (Distanbun) Kabupaten Bireuen, Aceh menyatakan para petani mulai menanam padi kembali di sawah yang telah selesai di rehabilitasi pascabencana banjir melanda daerah itu pada akhir November 2025.
"Petani sudah bisa ke sawah dan mereka mulai tanam kembali seperti di Kecamatan Samalanga dan Gandapura," kata Kepala Distanbun Bireuen, Mulyadi saat dikonfirmasi dari Banda Aceh, Rabu.
Dirinya menyebutkan, rehabilitasi sawah rusak ringan dan sedang di Bireuen sudah selesai dilaksanakan dengan total lahan seluas 677 hektare, tersebar di Kecamatan Samalanga, Gandapura, Jangka dan Peusangan.
Menurut dia, petani yang sudah kembali menggarap sawah usai dipulihkan itu hanya di dua wilayah seluas 302 hektare, yaitu Kecamatan Samalanga 161 hektare dan Gandapura 141 hektare, karena kecamatan lainnya terkendala air.
"Yang bisa tanam itu hanya di Gandapura dan Samalanga 302 hektare. Selebihnya memang belum bisa tanam (Peusangan dan Jangka)," ujarnya.
Mulyadi menjelaskan, untuk sawah yang sudah direhabilitasi di Kecamatan Peusangan dan Jangka sekitar 375 hektare itu belum bisa digarap karena terkendala air akibat rusaknya irigasi.
Dua wilayah tersebut, kata dia, sumber airnya hanya bergantung pada dari irigasi Pante Lhong, tetapi bendungan tersebut masih dalam proses perbaikan, sehingga belum dapat mengalirkan air ke sawah masyarakat.
"Peusangan dan Jangka itu sumber airnya tidak ada karena irigasi Pante Lhong yang menjadi sumber air sawah rusak dan sedang dikerjakan pembersihan sedimen-sedimen untuk mengarahkan air ke daerah ini, maka sekarang belum bisa ke sawah," katanya.
Untuk masyarakat yang kembali bertani, lanjut Mulyadi, pemerintah juga memberikan intervensi seperti bantuan olah tanah, serta membagikan benihnya secara gratis.
"Olah tanah kita gratiskan terus benih juga. Intervensi pemerintah juga memberikan pendampingan melalui pertanian," katanya.
Mulyadi menambahkan, terkait keadaan tanah yang baru terdampak bencana dan ditutupi lumpur, kondisi itu tidak mempengaruhi kualitas maupun tingkat produksi padi. Apalagi, potensial hidrogen (PH) di wilayah tersebut cukup bagus. Kecuali diserang hama dan kekeringan.
"Jika memang terhindar dari hama, Insya Allah produksinya dan cuaca ekstrem meningkat. Karena produksi itu juga dapat dipengaruhi cuaca," demikian Mulyadi.
Pewarta: Rahmat FajriEditor : M Ifdhal
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.