Jakarta (ANTARA) - Film Made in Korea 2 yang dibintangi Hyun Bin menarik dibaca bukan semata sebagai drama politik dan permainan kekuasaan. Lebih jauh, film ini dapat menjadi pintu masuk untuk memahami bagaimana dunia intelijen bekerja dalam ruang kompetisi kekuasaan yang terus berubah.
Jika pada era Perang Dingin pertarungan intelijen banyak berlangsung secara tertutup melalui jaringan agen, kontraintelijen, infiltrasi dan perebutan informasi, maka era perang hibrida menghadirkan medan yang jauh lebih luas: ruang digital, media, ekonomi, teknologi, opini publik hingga persepsi masyarakat.
Di sinilah relevansi Made in Korea 2. Narasi tentang kekuasaan, kepentingan negara, konflik elite dan permainan informasi memperlihatkan satu realitas penting yaitu intelijen pada dasarnya adalah pertarungan untuk memperoleh keunggulan informasi sebelum lawan mengambil keputusan.
Baca juga: Intelijen: Selamat Datang Era "Cold War Vol.2"
Pada era Perang Dingin, dunia terbagi ke dalam dua blok besar yang dipimpin Amerika Serikat dan Uni Soviet. Kompetisi berlangsung dalam struktur geopolitik yang relatif jelas. Intelijen menjadi salah satu instrumen utama untuk mengetahui kemampuan militer, rencana politik, perkembangan teknologi, hingga arah kebijakan lawan.
Operasi intelijen pada masa tersebut identik dengan aktivitas clandestine. Agen rahasia direkrut, ditempatkan, dan menjalankan misi dengan identitas tertentu. HUMINT atau Human Intelligence menjadi sangat penting. Di saat yang sama, negara-negara berlomba mengembangkan SIGINT, pengintaian elektronik, satelit dan berbagai teknologi untuk memperoleh informasi strategis.
Karakter perang seperti ini memiliki satu ciri utama yaitu kerahasiaan. Informasi yang diperoleh harus dijaga agar sumber dan metode pengumpulannya tidak terbongkar. Keberhasilan operasi sering kali justru diukur dari seberapa lama keberadaan jaringan intelijen dapat tetap tidak diketahui.
Namun saat ini dunia telah berubah. Perang hibrida tidak lagi mengenal garis depan yang sederhana. Kompetisi dapat berlangsung tanpa deklarasi perang dan tanpa satu tembakan pun. Negara dapat menggunakan kombinasi instrumen militer dan nonmiliter untuk memengaruhi lawannya. Serangan siber, manipulasi informasi, tekanan ekonomi, operasi pengaruh, propaganda, disinformasi dan eksploitasi kerentanan sosial dapat berjalan secara simultan.
Jika Perang Dingin merupakan pertarungan siapa yang mengetahui lebih banyak, perang hibrida berkembang menjadi pertarungan siapa yang mampu membentuk realitas yang dipercaya publik.
Perubahan ini membuat dunia intelijen menghadapi tantangan baru. Informasi tidak lagi langka. Justru sebaliknya, dunia mengalami banjir informasi. Persoalannya bukan sekadar mendapatkan informasi, melainkan menentukan mana yang benar, mana yang sengaja dimanipulasi, dan mana yang merupakan operasi pengaruh.
Media sosial mempercepat perubahan tersebut. Sebuah informasi yang belum terverifikasi dapat menyebar ke jutaan orang dalam hitungan menit. Foto, video, potongan pernyataan, akun anonim, bot, maupun konten hasil kecerdasan buatan dapat digunakan untuk membentuk persepsi.
Baca juga: Intelijen dan Pergulatan Gerakan Mahasiswa
Dalam konteks ini, Film Made in Korea 2 dapat dibaca sebagai metafora mengenai pertarungan di balik layar. Kekuasaan tidak hanya ditentukan oleh siapa yang memiliki sumber daya terbesar, tetapi juga oleh siapa yang mampu membaca kepentingan aktor lain, mengendalikan informasi dan memengaruhi proses pengambilan keputusan.
Di sinilah konsep intelligence cycle tetap relevan dimana terdapat direction, collection, processing, analysis dan dissemination. Tetapi setiap tahap menghadapi kompleksitas baru. Pada tahap collection, sumber informasi kini tidak hanya berasal dari agen manusia atau penyadapan, tetapi juga dari open-source intelligence (OSINT), media sosial, citra satelit komersial, data ekonomi dan jejak digital.
Pada tahap analisis, tantangannya bahkan lebih besar. Kecerdasan buatan memungkinkan produksi dan penyebaran informasi dalam skala yang sebelumnya tidak terbayangkan. Karena itu, kemampuan membedakan fakta, manipulasi dan narasi menjadi bagian penting dari ketahanan nasional.
Perubahan ini juga menggeser konsep kontraintelijen. Jika dahulu perhatian utama adalah mencegah infiltrasi agen asing, sekarang ancamannya dapat berbentuk pencurian data, kompromi sistem digital, manipulasi opini publik, kebocoran informasi strategis, hingga eksploitasi konflik sosial.
Dengan demikian, film seperti Made in Korea 2 memberikan refleksi menarik bahwa dunia kekuasaan selalu memiliki lapisan yang tidak terlihat. Apa yang muncul di permukaan sering kali hanyalah hasil akhir dari proses panjang yang melibatkan kepentingan, informasi dan kalkulasi para aktor.
Baca juga: Purbaya & Gebrakan Intelijen Ekonomi Republik
Namun ada satu perbedaan mendasar antara dunia intelijen dalam drama dengan realitas. Film membutuhkan konflik yang dramatis dan karakter yang kuat. Operasi intelijen sesungguhnya jauh lebih kompleks, birokratis dan penuh ketidakpastian. Keputusan sering dibuat berdasarkan informasi yang tidak lengkap. Bahkan intelijen terbaik sekalipun tidak menjamin keputusan yang benar.
Karena itu, pelajaran terpenting dari pergeseran Perang Dingin menuju perang hibrida bukan sekadar bahwa teknologi semakin canggih. Yang berubah adalah ruang pertarungannya.
Dahulu, negara berusaha menembus rahasia lawan. Kini, negara juga berusaha memengaruhi cara lawan melihat dirinya sendiri.
Dahulu, agen rahasia menjadi aktor utama dalam bayang-bayang. Kini, akun digital, algoritma, data, media dan bahkan masyarakat biasa dapat menjadi bagian dari medan kompetisi informasi.
Pada akhirnya, Made in Korea 2 dapat dibaca sebagai pengingat bahwa pertarungan kekuasaan tidak selalu berlangsung di medan perang. Sebagian justru berlangsung di ruang yang tidak terlihat, ruang informasi, persepsi dan pengambilan keputusan.
Dalam era perang hibrida, siapa yang menguasai informasi belum tentu menang, yang lebih menentukan adalah siapa yang mampu mengubah informasi menjadi pemahaman, pemahaman menjadi keputusan, dan keputusan menjadi pengaruh.
Itulah wajah baru dunia intelijen, dari operasi rahasia menuju kompetisi multidomain, dari perebutan informasi menuju perebutan persepsi.
Baca juga: Wagub bahas pembangunan jalan tol Sibanceh dengan JAM Intelijen
*Penulis adalah pemerhati Isu Strategis
Editor : Febrianto Budi Anggoro
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.