Provinsi baru tetap membutuhkan sumber daya manusia, fiskal, birokrasi yang efektif, infrastruktur pemerintahan, serta basis ekonomi yang mampu menopang pelayanan publik. Tanpa itu semua, pemekaran berpotensi hanya memindahkan pusat administrasi tanpa mengubah kualitas kehidupan masyarakat.
 

Persoalan Pendidikan Mengapa Harus Pergi Jauh?

Perbedaan pembangunan semakin terlihat ketika kita berbicara tentang pendidikan tinggi.

Di wilayah yang memiliki pusat pendidikan tinggi lebih banyak, anak muda mempunyai lebih banyak pilihan untuk melanjutkan pendidikan tanpa harus meninggalkan daerah asal. Sebaliknya, ketika pilihan perguruan tinggi dan program studi terbatas, mobilitas mahasiswa menjadi konsekuensi.

Banyak anak muda dari kawasan tengah Aceh memilih melanjutkan pendidikan ke Medan, Banda Aceh, bahkan Jakarta. Pilihan tersebut tentu tidak selalu negatif. Mobilitas pendidikan dapat membuka jaringan, pengalaman, dan wawasan baru.

Tetapi terdapat persoalan struktural yang perlu dipikirkan, mengapa sebagian anak muda harus meninggalkan daerahnya untuk memperoleh pilihan pendidikan yang lebih beragam?


 

Sejumlah siswa berada di halaman ruang kelas Sekolah darurat Sekolah Dasar Negeri (SDN) 1 Beutong Ateuh Banggalang, Desa Kuta Teungoh, Nagan Raya, Aceh, Kamis (23/7/2026). Sebanyak 125 siswa terpaksa belajar di ruang kelas darurat yang terbagi tiga ruangan dan digabung enam kelas akibat bangunan sekolah mereka rusak pascabencana banjir bandang yang terjadi akhir November 2025 lalu. ANTARA FOTO/Syifa Yulinnas/YU

Pendidikan tinggi bukan hanya persoalan jumlah kampus. Yang lebih penting adalah kualitas program studi, dosen, laboratorium, riset, konektivitas digital, serta hubungan perguruan tinggi dengan kebutuhan ekonomi lokal.

Jika kawasan pegunungan tengah memiliki potensi besar pada sektor pertanian, perkebunan, pariwisata, lingkungan, energi, dan ekonomi kreatif, maka pendidikan tinggi seharusnya mampu menjadi mesin pengetahuan yang mendukung sektor-sektor tersebut.

Dengan demikian, isu pemekaran tidak boleh dipisahkan dari agenda membangun ekosistem pendidikan.

 

Tiga Lintasan, Satu Masa Depan

Aceh sebenarnya tidak kekurangan potensi. Persoalannya adalah bagaimana potensi tersebut dikonversi menjadi kesejahteraan.

Kawasan pesisir memiliki pelabuhan, perdagangan, perikanan, dan pusat-pusat urban. Kawasan tengah memiliki pertanian, perkebunan, kehutanan, pariwisata, dan sumber daya alam. Kawasan perbatasan memiliki posisi strategis sekaligus tantangan konektivitas dan pelayanan publik.

Karena itu, kebijakan pembangunan tidak selalu harus seragam. Satu provinsi tidak berarti satu resep pembangunan.

Jika pemekaran menjadi salah satu pilihan, maka argumentasinya harus dibangun di atas data: ketimpangan infrastruktur, akses pendidikan, struktur ekonomi, kapasitas fiskal, kualitas pelayanan publik, kepadatan penduduk, konektivitas, dan kemampuan daerah membangun pemerintahan yang efektif.

Baca juga: Forkoda usulkan enam calon DOB di Aceh, rekomendasi sudah dikantongi

Sebaliknya, jika pemekaran tidak menjadi pilihan, maka pemerintah tetap memiliki pekerjaan besar yaitu memastikan tiga lintasan pembangunan tersebut tidak semakin menjauh.

Pada akhirnya, perdebatan pemekaran Aceh seharusnya tidak berhenti pada pertanyaan tentang batas wilayah dan pembentukan provinsi baru. Perdebatan harus bergerak menuju pertanyaan yang lebih mendasar tentang keadilan pembangunan.

Sebab masyarakat tidak hidup di atas peta administratif. Mereka hidup di jalan yang mereka lalui, sekolah yang mereka masuki, rumah sakit yang mereka datangi, pasar tempat mereka menjual hasil bumi, dan perguruan tinggi tempat anak-anak mereka membangun masa depan.

Aceh boleh tetap berada dalam satu atap. Tetapi jika tiga lintasan pembangunan terus berjalan dengan kecepatan berbeda, maka pekerjaan terbesar bukan sekadar menentukan apakah atap itu perlu dibagi.

Pekerjaan terbesarnya adalah memastikan tidak ada wilayah yang terus-menerus tertinggal hanya karena berada di lintasan yang berbeda.

 

*Penulis adalah Pemerhati Isu Strategis


Baca juga: Pemerintah Aceh gelar forum diskusi pemekaran Kota Meulaboh



Editor : Febrianto Budi Anggoro

COPYRIGHT © ANTARA 2026