BMKG uji 10 detektor gempa EEWS

BMKG uji 10 detektor gempa EEWS

Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) dengan Institute of Care Life (ICL) China di Jakarta, Kamis (15/8/2019) menandatangani kemitraan deteksi gempa bumi yang lebih cepat melalui pembangunan Sistem Peringatan Dini Gempa Bumi (Indonesia Earthquake Early Warning System/Ina EEWS). (ANTARA/Anom Prihantoro)

Jakarta (ANTARA) - Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika menguji efektivitas 10 alat percontohan Sistem Peringatan Dini Gempa Bumi (Earthquake Early Warning System EEWS) yang diletakkan di sejumlah tempat di Indonesia.

Uji coba pembangunan sistem EEWS itu diluncurkan Kepala BMKG Dwikorita Karnawati di Jakarta, Kamis. Turut hadir dalam acara itu Direktur Institute of Care Life (ICL) China, Wang Tung, dan Counsellor of Culture the Chinese Embassy, Zhou Bin.

Rita mengatakan sejumlah sensor EEWS percontohan itu dipasang di wilayah Banten yang bertujuan untuk monitoring gempa bumi di area megathrust Jawa selatan.

Baca juga: BMKG-ICL China bermitra tingkatkan kecepatan peringatan gempa

Kepala BMKG mengatakan EEWS itu menyajikan kecepatan data yang lebih akurat dalam mendeteksi gempa sehingga masyarakat bisa mendapatkan peringatan dini. Terdapat rasio waktu emas penyelamatan bahwa semakin cepat mengetahui peringatan maka masyarakat akan lebih siap menyelamatkan diri.

"Dengan diketahuinya potensi gelombang merusak lebih awal maka masyarakat dapat mempersiapkan diri dengan melakukan upaya penyelamatan diri, termasuk menghentikan sementara objek vital untuk mengurangi dampak bencana yang lebih besar," kata dia.

Kepala Pusat Gempa dan Tsunami BMKG Rahmat Triyono mengatakan 10 sensor EEWS itu merupakan proyek percontohan dan akan diteruskan menjadi 190 alat pada tahun 2020. Nantinya seluruh sensor EEWS itu akan dipasang di sejumlah lokasi yang lebih luas di Indonesia guna mendeteksi gempa dan tsunami yang lebih dini.

"Konsep ini bekerja dengan memanfaatkan selisih waktu tiba gempa dengan gelombang P (pressure) yang datang lebih awal dan gelombang S (shear) yang datang beberapa detik kemudian. Setiap terjadi gempa bumi, gelombang P akan tiba di sensor lebih awal selanjutnya dalam beberapa detik kemudian tiba gelombang S yang sifatnya destruktif/merusak," katanya.

Deputi Geofisika BMKG Muhamad Sadly mengatakan peringatan dini yang cepat dan akurat akan memberi waktu yang lebih banyak bagi masyarakat untuk menyelamatkan diri dari dampak gempa dan tsunami.

Sadly mengutip Chinese Northwest Seismology (2002) Volume 22 yang menunjukkan adanya hubungan waktu peringatan dini gempa EEWS dan rasio berkurangnya korban jiwa.

"Jika tersedia waktu emas selama tiga detik maka rasio berkurangnya korban mencapai 14 persen. Sedangkan jika tersedia waktu emas selama 10 detik maka rasio berkurangnya korban mencapai 39 persen dan jika tersedia emas selama 20 detik maka rasio berkurangnya korban mencapai 63 persen," katanya.
Pewarta : Anom Prihantoro
Editor: Triono Subagyo
COPYRIGHT © ANTARA 2019