BKKBN : Budaya merantau jadi kendala Sumbar menikmati bonus demografi

BKKBN : Budaya merantau jadi kendala Sumbar menikmati bonus demografi

Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Hasto Wardoyo (ANTARA SUMBAR / Mario Sofia Nasution)

Padang, (ANTARA) - Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana (BKKBN) Hasto Wardoyo menyebutkan budaya merantau di Sumatera Barat menjadi kendala daerah itu menikmati dampak bonus demografi.

“Budaya merantau ini membuat masyarakat Sumbar usia yang produktif keluar dari provinsi untuk bekerja,” kata Wardoyo di Padang, Senin (19/8).

Hal ini tentu menjadi kendala sehingga daerah yang menjadi daerah tujuan merantau yang menerima manfaat padahal warga usia produktif yang memiliki kompetensi dan kemampuan akan menjadi tumpuan perekonomian suatu daerah.

“Namun ada hal positifnya karena dari informasi yang saya terima uang perantau akan di kirim lagi ke Sumbar untuk keluarganya sehingga peredaran uang tetap banyak,” kata dia.

Selain itu, kendala lain adalah masih tingginya angka fertilitas total menurun atau Total Fertility Rate (TFR) yang masih di angka 2.5 sementara idealnya daerah dapat menikmati bonus demografi angka TFR sebesar 2.1.

Baca juga: Kepala BKKBN : Pembangunan daerah harus melalui pemetaan penduduk

Ia mengatakan TFR harus dijaga karena jika tingkat kelahiran menurun sementara harapan hidup terus meningkat maka usia rata-rata populasi akan naik ke titik jumlah lansia akan melebihi usai produktif. Populasi yang menua akan meningkatkan jumlah tanggungan yang didukung oleh masyarakat.

Menurut dia, tidak seperti pengeluaran untuk anak dan remaja, pengeluaran untuk orang tua tidak akan menghasilkan pengembalian ekonomi.

“Bonus Demografi ini dapat dinikmati dengan adanya pergeseran dan pemerintah harus berupaya membuat pergeseran itu terjadi dan merencanakan terjadinya bonus demografi tersebut,” kata dia.

Ia mengatakan bonus demografi akan memberikan berbagai dampak apabila pemerintah serius dalam mempersiapkannya karena saat itu jumlah penduduk usia produktif dari 16 tahun hingga 64,9 tahun mencapai 70 persen dari total penduduk.

Menurut dia, ada kekhawatiran bangsa ini tidak menikmati dampak bonus demografi secara langsung padahal beberapa negara maju yang telah mendapatkan bonus demografi mengalami askelerasi dalam bidang perekonomian dan berdampak pada pendapatan per kapita.

“Kita tentu berharap bonus demografi ini dapat dinikmati oleh bangsa ini dengan penduduk usia produktif yang banyak serta lapangan pekerjaan juga banyak sehingga mereka tetap produktif bekerja,” kata dia.
Baca juga: BKKBN: Upaya pengendalian penduduk terhalang UU Perkawinan
Baca juga: BKKBN : Usia kawin di Sumbar di atas rata-rata nasional

Pewarta : Mario Sofia Nasution
Editor: Ridwan Chaidir
COPYRIGHT © ANTARA 2019