LKK NU: usia perkawinan 4-7 tahun rentan pertengkaran

LKK NU: usia perkawinan 4-7 tahun rentan pertengkaran

Ketua Umum Gerakan Suluh Kebangsaan Mahfud MD (tengah) didampingi Sekjen Alissa Wahid (kiri) dan Ketua Harian Budi Kuncoro menyampaikan konferensi pers Membaca Indonesia Tahun 2024 di Jakarta, Rabu (25/9/2019). ANTARA/Sigid Kurniawan

Jakarta (ANTARA) - Sekretaris Lembaga Kemasyarakatan Keluarga Nahdlatul Ulama (LKK NU) Alissa Wahid mengatakan usia perkawinan 4-7 tahun rentan pertengkaran.

"Sebetulnya itu kalau dari psikologi karena gak tahan aja. Jadi mulai dari usia perwakinan mulai dari empat sampai tujuh tahun pasti banyak berantemnya, itu berdasarkan riset," kata Alissa dalam siaran pers yang diterima di Jakarta, Senin.

Baca juga: Republik ini butuh pemimpin berintegritas, terpilih tanpa manipulasi

Putri presiden ketiga Indonesia, KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), itu mengatakan saat ini semakin banyak perkawinan yang umurnya di bawah lima tahun karena sangat mudah pasangan suami istri untuk bercerai. Bahkan, yang banyak menggugat cerai justru adalah istrinya.

Dia mengatakan pada masa usia perkawinan tersebut akan mulai banyak terjadi perbedaan-perbedaan pendapat suami istri sehingga perlu berkonsultasi kepada psikolog. Jika setelah konsultasi masih terus bertengkar maka harus bersabar selama 6,5 tahun.

Baca juga: Alisa Wahid jadi relawan guru

"Kalau sudah konsultasi masih terus saja berantrem. Saya biasanya bilang begini, sabar, jalani hari demi hari, tawakkal, berusaha terus, ditahan sampai 6,5 tahun, karena kalau sudah 6,5 tahun nanti meredah. Kenapa? karena perjalanannya nanti sudah berubah lagi tantangannya," kata dia.

Menurut dia, LKK NU sudah memiliki konsep sendiri tentang keluarga maslahah sehingga konsep itu diluncurkan untuk menjadi sebuah gerakan bersama ke depannya.

"Konsep keluarga maslahah itu sudah jadi dan kita luncurkan sekarang untuk menjadi sebuah gerakan keluarga maslahah," kata dia.

Ketua LKK NU, Ida Fauziyah, mengatakan konsep keluarga maslahah itu tidak cukup hanya menjadi keluarga sakinah mawaddah warahmah tapi juga harus memberikan kebaikan kepada lingkungannya.

"Keluarga maslahah itu dalam bahasa yang sederhananya kita mengatakan, tidak cukup hanya sakinah mawaddah warahmah tapi harus memberikan maslahah atau kebaikan bagi keluarganya ataupun lingkungannya," kata dia.
Pewarta : Anom Prihantoro
Editor: Heru Dwi Suryatmojo
COPYRIGHT © ANTARA 2019