Teater Tonggak persembahkan pergelaran "Tak (Tik) Senja Menjemput"

Teater Tonggak persembahkan pergelaran

Salah satu pertunjukkan dari Teater Tonggak Jambi (ANTARA/HO/Dok-Istimewa)

Jambi (ANTARA) - Teater Tonggak Jambi akan mempersembahkan pergelaran "Tak (Tik) Senja Menjemput" di Gedung Teater Arena Taman Budaya Jambi, Sungai Kambang-Telanaipura, Kota Jambi, Sabtu (16/11) mendatang.

"Karya ini lahir dari perjalanan saya selaku wartawan, menelusuri berbagai sisi kehidupan, tetapi tidak mungkin saya sampaikan kepada khalayak secara verbal. Sehingga dikemaslah dalam bentuk pergelaran dengan simbol dan makna tersirat. Secara umum saya mengkritik diri kita semua tentang kesadaran terhadap lingkungan dan bumi. InsyaAllah bisa dicerna semua umur," kata Hendry Nursal, pemilik karya dan sutradara pergelaran, Selasa.

Sebelumnya, Teater Tonggak Sukses melaksanakan pertunjukan di 13 sekolah di Kota Jambi yang berlangsung 19-31 Oktober.

Roadshow diisi dengan pengenalan tentang sejarah berdiri dan perjalanan Teater Tonggak yang hingga saat ini telah berusia 20 tahun berada di kancah dunia teater Jambi.

Baca juga: Ratusan siswa ramaikan Festival Seni Melayu UIN Jambi

Baca juga: Apresiasi Melayu tampilkan karya berusia 200 tahun


Selain itu, tujuan utama dari roadshow adalah sebagai ajang promo dan memperkenalkan "Tak (Tik) Senja Menjemput" karya/sutradara Hendry Nursal.

"Menarik untuk disaksikan, dipergelarkan Pukul 16.00 dan 20.00 WIB (16 November) lalu pukul 20.00 WIB (17 November) dengan harga tiket masuk Rp20 ribu bagi pelajar/mahasiswa dan Rp30 ribu untuk umum," kata Hendry.

Hendry membeberkan proses karya tercipta bukanlah dalam waktu yang singkat, perjalanan sejak tahun 2010 hingga 2018 bagaimana bentuk kegelisahan dan rasa amarahnya atas perlakuan tidak ramah lingkungan.

"Lingkungan di sini memiliki arti yang luas. Lingkungan alam, lingkungan masyarakat, lingkungan kerja dan lainnya menyatu di "Tak (Tik) Senja Menjemput". Terkadang manusia lupa dan mencoba melupakan bahwa akhirnya semua akan binasa," ujarnya,

Lalu, mengapa begitu tamak terhadap alam, bahkan terhadap sesama manusia hanya karena nafsu. "Kita semua berdosa terhadap lingkungan, hanya saja sejauh mana kita menyadari kesalahan dan berusaha berbuat agar tidak mengulangi hal yang sama," katanya lagi.*
 
Pewarta : Syarif Abdullah dan Dodi Saputra
Editor: Erafzon Saptiyulda AS
COPYRIGHT © ANTARA 2019