Kondisi alam Malang Raya jadi tantangan modifikasi cuaca DAS Brantas

Kondisi alam Malang Raya jadi tantangan modifikasi cuaca DAS Brantas

Kepala Balai Besar Teknologi Modifikasi Cuaca Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi Tri Handoko Seto menunjukkan pesawat CASA 212-200 dengan nomor regsitrasi A-2101, yang dipergunakan untuk memodifikasi cuaca wilayah DAS Brantas, di Bandara Abdulrachman Saleh Malang, Jawa Timur, Rabu (13/11/2019). (ANTARA/Vicki Febrianto)

Malang, Jawa Timur (ANTARA) - Balai Besar Teknologi Modifikasi Cuaca Badan Penelitian dan Pengembangan Teknologi (BPPT) menyatakan, kondisi alam di wilayah Malang Raya yang dikelilingi pegunungan, menjadi tantangan tersendiri dalam melakukan modifikasi cuaca di Daerah Aliran Sungai Brantas, Jawa Timur.

Kepala Balai Besar Teknologi Modifikasi Cuaca (BBTMC) BPPT Tri Handoko Seto, Rabu mengatakan bahwa, dengan banyaknya pegunungan yang mengelilingi wilayah Malang Raya, akan membuat pertumbuhan awan sangat cepat sehingga pengamatan harus dilakukan secara cermat.

"Pengamatan harus dilakukan secara intens dan seksama agar kesempatan penerbangan dan penyemaian bisa dilaksanakan secara optimal," kata Seto, di Bandara Abdulrachman Saleh Malang, Jawa Timur.

Wilayah Malang Raya, merupakan gabungan dari Kota Malang, Kabupaten Malang, dan Kota Batu. DAS Brantas hulu merupakan salah satu DAS di Jawa Timur dengan luas mencapai 3.761 kilometer persegi.

Baca juga: BPPT modifikasi cuaca di atas DAS Brantas isi Waduk Ir Sutami

Wilayah aliran sungai Brantas Hulu dikelilingi oleh pegunungan yakni Gunung Arjuno dan Gunung Kawi di sebelah barat, sementara di bagian timur terdapat Gunung Semeru dan Gunung Bromo.

"Wilayah DAS Brantas yang dikelilingi pegunungan dan dalam musim peralihan menuju musim kemarau maka pertumbuhan awan diperkirakan sangat cepat. Sejauh ini awan ada, namun, harus jeli melakukan analisis, menghitung, jika disemai akan menjadi hujan atau tidak," ujar Seto.

Seto menambahkan, pihaknya juga telah melakukan operasi serupa di wilayah DAS Citarum, untuk mengisi Waduk Kaskade, Jawa Barat sejak Oktober 2019. Namun, kondisi alam di DAS Brantas, dinilai jauh lebih menantang.

"Untuk Citarum, kondisi alam lebih mudah. DAS lebih luas, dan gunung tidak sebanyak, serta setinggi di wilayah Malang," kata Seto.

Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) melaksanakan Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) di daerah aliran sungai (DAS) Brantas, Jawa Timur, untuk mengisi waduk Ir. Sutami yang mulai mengering akibat kemarau panjang.

Baca juga: BPPT tingkatkan kualitas "Dragon Blood", bahan obat yang diburu China

Modifikasi cuaca tersebut akan dilakukan selama 20 hari kedepan, dikarenakan waduk Ir. Sutami yang memproduksi listrik 105 Mega Watt (MW) sudah mulai mengering, dengan level air yang menurun cukup signifikan.

Selain memproduksi listrik, Waduk Ir. Sutami juga menunjang sektor pertanian seluas 101.180 hektare, dan industri.

BPPT mengerahkan pesawat CASA 212-200 dengan nomor resgiterasi A-2101 milik BPPT yang dalam pengoperasiannya didukung Skuadron 4 TNI AU Abdulrachman Saleh Malang, untuk operasi penyemaian awan kali ini.

Bahan semai yang akan dipergunakan kurang lebih sebanyak 20 ribu kilogram NaCL. Tercatat, untuk wilayah Malang, operasi kali ini merupakan yang kelima, setelah sebelumnya operasi serupa dilakukan pada 1998, 2007, 2012, dan 2013.

Baca juga: BPPT dukung sistem manajemen keuangan tunggal di Indonesia
Baca juga: BPPT dorong produk Indonesia ramah lingkungan rambah pasar global

Pewarta : Vicki Febrianto
Editor: Triono Subagyo
COPYRIGHT © ANTARA 2019