Enam penderita AIDS ditemukan di Nunukan pada 2019

Enam penderita AIDS ditemukan di Nunukan pada 2019

Obat Antiretroviral Fixed Dose Combination jenis Tenofovir, Lamivudin, Efavirens (ARV FDC TLE) untuk terapi pengobatan orang dengan HIV/AIDS (ODHA). (ANTARA/Anita Permata Dewi)

Nunukan (ANTARA) - Dinas Kesehatan Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara, mendeteksi enam penderita penyakit AIDS dari 28 kasus penderira HIV/AIDS yang ditemukan pada 2019 atau mengalami penurunan dibandingkan 2018 yang jumlahnya mencapai 33 kasus.

"Dari 28 kasus penderita HIV/AIDS ini, enam orang yang diketahui telah berada pada fase penyakit AIDS," ujar Kepala Seksi Pencegahan Penyakit Menular Dinask Kesehatan Kabupaten Nunukan, Aris Suyono di Nunukan, Rabu.

Hanya saja dia tidak menyebutkan, jenis kelamin pengidap penyakit HIV/AIDS tersebut.

Dari sekian banyak warga setempat yang menderita penyakit ini hanya 14 orang yang bersedia menjalani pengobatan ARV (anti-retroviral virus), sedangkan 14 orang lainnya, telah dilakukan pendekatan secara manusiawi tetapi belum bersedia.

Aris menjelaskan dari enam penderita penyakit AIDS tersebut, tiga orang meninggal dunia sedangkan tiga lainnya saat ini telah pindah tempat tingga, sedangkan tujuh orang lagi yang masih menderita penyakit HIV masih dalam pengawasan Dinas Kesehatan Nunukan.

"Mengenai pengobatan kepada penderita penyakit HIV/AIDS ini, kita tidak bisa memaksa. Tugas kita hanya memberikan informasi atau memberi konseling supaya mereka mau menjalani pengobatan," kata Aris.

Baca juga: Dari temuan 33 kasus HIV di Nunukan pada 2018, sebanyak ini pasien yang meninggal dunia

Baca juga: 170 warga Lebak meninggal akibat HIV/AIDS

Baca juga: Dinkes imbau IRT rutin melakukan tes VCT deteksi HIV


Sebenarnya, obat yang diberikan kepada penderita tidak menyembuhkan tetapi hanya menghambat perkembangan virus semata. "Penderita HIV/AIDS ini diharapkan meminum obat ini sepanjang masa agar virus dalam tubuhnya tidak berkembang lagi," kata dia.

Ia mengungkapkan dari 28 kasus penderita HIV/AIDS di Kabupaten Nunukan, penyebabnya perilaku seks yang menyimpang. Penderita ini sebelumnya berperilaku seks berisiko misalnya pelanggan wanita tuna susila (WTS), ada juga WTS sendiri, homoseksual, gay dan waria.

Penderita heteroseksual yang ditemukan jumlahnya paling banyak, yakni 14 orang, WTS tidak langsung atau wanita yang bekerja di club malam atau tempat hiburan malam serta panti pijat ditemukan ada satu orang, homoseksual tujuh orang, waria (1), pasangan suami istri dari heteroseksual (2).

"Penderita HIV/AIDS ini rata-rata sudah berkeluarga. Atau kelompok umur telah memasuki orang dewasa. Sedangkan kelompok umur yang masih remaja cuma satu orang," kata Aris.

Menyinggung keenam penderita AIDS ini, dia sebutkan rata-rata dari kelompok heteroseksual yang memang telah lama mengidap penyakit ini sejak 5-10 tahun silam. Hanya saja, Dinas Kesehatan setempat lambat mengetahuinya karena mungkin yang bersangkutan lambat memeriksakan diri.

Menurut dia, seandainya keenam penderita AIDS ini cepat memeriksakan diri sejak masih pada fase HIV maka kemungkinan bisa ditangkal dengan memberikan pengobatan ARV.

Penderita penyakit HIV/AIDS di Kabupaten Nunukan diketahui melalui pemeriksaan intensif secara berkeliling tempat-tempat yang berisiko dan pemeriksaan di puskesmas. Menyangkut penderita AIDS sendiri, ditemukan atas inisiatif petugas kesehatan yang mendatangi orang bersangkutan setelah diketahui dari hasil pemeriksaan puskesmas menderita HIV karena daya tubuhnya telah menurun.*

Baca juga: Legislator: Banyak perempuan tertular HIV/AIDS karena tak bisa memilih

Baca juga: YPI ingatkan pencegahan penularan HIV dari ibu ke bayinya

Baca juga: KPA Karawang nyatakan kesadaran tes HIV homoseksual cukup tinggi
Pewarta : Rusman
Editor: Erafzon Saptiyulda AS
COPYRIGHT © ANTARA 1970