Tjahjo Kumolo: Revolusi mental aparatur negara keharusan pembangunan

Tjahjo Kumolo: Revolusi mental aparatur negara keharusan pembangunan

Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PANRB) Tjahjo Kumolo (tengah). (ANTARA/Boyke Ledy Watra)

Jakarta (ANTARA) - Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PAN-RB) Tjahjo Kumolo menegaskan bahwa revolusi mental aparatur negara merupakan sebuah keharusan untuk mencapai tujuan pembangunan.

"Presiden Soekarno pernah mengatakan bahwa revolusi mental adalah suatu gerakan untuk menggembleng manusia Indonesia agar menjadi manusia baru, yang berhati putih, berkemauan baja, bersemangat elang rajawali, berjiwa api yang menyala-nyala," ujar Tjahjo saat menjadi pembicara dalam kuliah daring Lembaga Pendidikan dan Pelatihan Sespimti Polri Dikreg ke-29, Jumat.

Berdasarkan siaran pers Kementerian PAN-RB, Tjahjo menyebutkan upaya membangun Indonesia menjadi negara besar yang maju diperlukan lebih dari sekadar hal yang bersifat fisik.

Aparatur negara dengan jiwa kebangsaan yang kokoh, kata dia, adalah modal utama yang diperlukan saat ini.
Baca juga: Pemerintah berikan Anugerah Revolusi Mental ke sejumlah institusi

Menurut Tjahjo, hal tersebut menjadi dasar dari dihidupkannya kembali gerakan revolusi mental oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang relevan untuk bangsa Indonesia sedang menghadapi tiga masalah pokok bangsa, yakni merosotnya wibawa negara, merebaknya intoleransi, dan melemahnya sendi-sendi perekonomian nasional.

Gerakan revolusi mental dibagi menjadi lima program gerakan nasional, salah satunya, yakni Gerakan Indonesia Melayani (GIM) yang fokus pada penciptaan budaya baru di lingkungan unit kerja dan organisasi aparatur negara.

Ada enam poin budaya baru yang ingin dibangun, kata dia, yakni pertama adalah kepekaan terhadap orang lain, baik pengguna layanan, pemangku kepentingan, bawahan maupun pegawai lainnya. Kedua. munculnya pegawai yang inovatif, kreatif, dan cerdas.

Poin ketiga, adanya keberanian untuk mengambil risiko untuk keputusan strategis yang mendesak. Keempat, memperlakukan pegawai sebagai aset paling berharga bagi organisasi. Poin terakhir, keterbukaan komunikasi bagi pegawai dan membangun hubungan yang solid antarpegawai.

Bagi mantan Menteri Dalam Negeri tersebut, membangun budaya baru di unit kerja maupun organisasi bukanlah sesuatu yang mustahil, karena hal tersebut dapat terlaksana apabila ada kemauan dari aparatur negara untuk melakukan perubahan dan berani keluar dari zona nyaman.

"Kita harus mengubah cara kita melayani masyarakat. Kita harus membangun sinergi antarsatuan kerja dalam mewujudkan target-target pembangunan," katanya pula.

Tjahjo menegaskan ada beragam kunci yang harus dikombinasikan untuk menjamin keberhasilan revolusi mental bagi aparatur negara, namun yang paling utama dari semua itu adalah konsistensi dan komitmen.

Ia meyakini jika upaya perubahan dilakukan secara konsisten dan penuh komitmen, maka ke depan Pemerintahan Indonesia menjadi pemerintahan yang disegani dan dihormati tidak hanya oleh masyarakatnya, tetapi juga oleh dunia internasional.

"Mari kita tingkatkan kerja sama bahu-membahu untuk meningkatkan derajat kehidupan masyarakat, serta keunggulan bangsa agar mampu berkiprah tidak hanya di tingkat lokal, tetapi juga di tingkat nasional dan internasional," katanya pula.
Baca juga: Pengamat: Revolusi karakter perlu satu filosofi yang sama
Pewarta : Zuhdiar Laeis
Editor: Budisantoso Budiman
COPYRIGHT © ANTARA 2020