Perusahaan budi daya lobster asal NTB kejar kuota ekspor

Perusahaan budi daya lobster asal NTB kejar kuota ekspor

Seorang nelayan memberikan pakan dari atas keramba budi daya lobster yang berada di perairan teluk wilayah Lombok Barat, NTB, Rabu (24/6/2020). (ANTARA/Dhimas B.P.)

Mataram (ANTARA) - Perusahaan budi daya benih bening lobster (BBL) asal Nusa Tenggara Barat, PT Aquatic Sslautan Rejeki, kini sedang gencar mengejar kuota ekspor yang dikeluarkan Kementerian Kelautan dan Perikanan.

Manajer Operasional Aquatic Sslautan Rejeki Bahrain Hartoni di Sekotong, Rabu, mengatakan, kiat perusahaannya dalam mengejar kuota ekspor dilaksanakan sesuai dengan syarat yang tercantum dalam Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan (Permen KP) Nomor 12 Tahun 2020 yang mengizinkan ekspor benih lobster.

"Untuk kuota ekspor, perusahaan kami mengajukan 25 juta ekor," kata Bahrain.

Salah satu dasar pengajuan kuota ekspor sesuai dengan Permen KP 12/2020, yakni membangun kemitraan dengan kelompok nelayan budi daya dan penangkap BBL. Perihal demikian, perusahaannya dikatakan telah bermitra dengan 15 kelompok nelayan di NTB.

"Jadi 15 mitra (kelompok nelayan) kami ini yang baru terverifikasi, ini tersebar di seluruh perairan NTB, ada yang di Dompu, Sumbawa, dan juga Lombok. Untuk satu kelompok, anggotanya sekitar sepuluh sampai 13 nelayan," ujarnya.

Bahkan jumlah tersebut, kemungkinan besar akan bertambah karena masih banyak lagi kelompok nelayan yang menjadi mitra PT Aquatic Sslautan Rejeki menunggu antrean verifikasi dari pemerintah daerah, dalam hal ini Dinas Kelautan dan Perikanan NTB.

Tentunya, semakin banyak perusahaan membangun kemitraan dengan nelayan, maka akan membuka peluang penambahan jumlah kuota ekspornya.

Lebih lanjut, Bahrain mengatakan bahwa dalam membangun kemitraannya dengan nelayan, PT Aquatic Sslautan Rejeki tidak asal menggandeng, melainkan mereka melihat potensi alam serta komitmen para nelayan.

Bahkan agar hasilnya lebih produktif, pemberian pelatihan, pemeliharaan sampai pemenuhan pakan budi daya, juga turut difasilitasi oleh pihak perusahaannya.

Menurut dia, pemberian pendampingan itu penting karena akan mempengaruhi produksi lobster saat panen di bulan ke delapan terhitung sejak penempatan BBL dimulai.

"Jadi kalau tidak dimonitor, akan mempengaruhi produksinya. Makanya sebelum membangun kemitraan dengan nelayan, kita lakukan observasi dan uji kelayakan lokasi, apakah perairannya cocok untuk budi daya atau tidak," kata Bahrain.

Selain membangun kemitraan, perusahaannya juga telah melaksanakan syarat peremajaan ekosistem laut, yakni dengan melepasliarkan dua persen lobster hasil budi daya kemitraan dengan kelompok nelayan.

Bersama dengan Dinas Kelautan dan Perikanan NTB, PT Aquatic Sslautan Rejeki pada Rabu (24/6) siang, melepasliarkan 1.000 lobster jenis pasir hasil budi daya kelompok nelayan di kawasan konservasi perairan Gili Nanggu, Kabupaten Lombok Barat.

Dengan pelaksaan yang demikian, Dinas Kelautan dan Perikanan NTB melihat PT Aquatic Sslautan Rejeki sebagai perusahaan pertama asal NTB yang sudah menjalankan syarat untuk mendapatkan izin serta kuota ekspor lobster.
Pewarta : Dhimas Budi Pratama
Editor: Adi Lazuardi
COPYRIGHT © ANTARA 2020