Guru Besar UGM Cornelis Lay tutup usia

Guru Besar UGM Cornelis Lay tutup usia

Dokumentasi. Pakar politik dan pemerintahan Cornelis Lay saat menyampaikan pidato pengukuhannya sebagai Guru Besar Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Gadjah Mada (UGM) di Balai Senat UGM, Yogyakarta, Rabu, 6 Februari 2019. (FOTO ANTARA/Luqman Hakim)

Yogyakarta (ANTARA) - Guru Besar Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Gadjah Mada (Fisipol UGM) Cornelis Lay meninggal dunia pada Rabu (5/8) pukul 04.00 WIB di Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta.

Dekan Fisipol UGM Erwan Agus Purwanto saat dihubungi di Yogyakarta, Rabu, mengatakan mendiang akan dikebumikan di pemakaman keluarga besar UGM Sawitsari, Condongcatur, Depok, Sleman pada Kamis (6/8).

"Pemakaman akan dilakukan besok karena masih menunggu keluarga besar dari Kupang, Nusa Tenggara Timur. Saat ini masih disemayamkan di Panti Rapih," kata Erwan.

Menurut Erwan, Cornelis yang tutup usia pada usia 61 tahun ini merupakan sosok guru besar dengan filosofi mengajar yang luar biasa sehingga dicintai para mahasiswanya.

"Beliau selalu menyampaikan bahwa para mahasiswa Fisipol berhak mendapatkan ilmu terbaik dari guru-gurunya, sehingga para dosen diharapkan kalau kuliah menyiapkan materi dan menyampaikan dengan sebaik-baiknya," kata dia.

Di mata para koleganya, menurut Erwan, Cornelis dipandang sebagai sosok yang murah hati yang selalu menyempatkan memberikan komentar terhadap tulisan-tulisan para koleganya.

Menurut Erwan, Cornelis yang dikenal sebagai pakar politik dan pemerintahan UGM ini tak bosan mengingatkan kepada koleganya agar memperbanyak menulis di jurnal internasional.

Tak hanya di lingkungan kampus, lanjut Erwan, Cornelis yang dikenal sebagai politisi senior PDIP ini juga mengimplementasikan ilmunya di bidang politik nasional. Cornelis sempat dipercaya menjadi ketua Tim Ahli dan Pakar Politik Tim Pemenangan dan Perumus Joko Widodo-Jusuf Kalla pada 2014.

Ia juga pernah mendapatkan amanah menyusun teks pidato kenegaraan Presiden Jokowi saat pelantikan pada 20 Oktober 2014.

"Saya kira beliau aktif bergiat di politik praktis adalah untuk mempraktikkan ilmunya," kata dia.

Namun selama lima tahun terakhir, kata Erwan, Cornelis lebih banyak menghabiskan waktunya di Yogyakarta karena harus menjalani perawatan rutin akibat penyakit jantung yang diderita.

Meski harus keluar masuk rumah sakit, menurut dia, Cornelis masih aktif di kampus untuk memberikan kuliah bertemu para mahasiswanya. "Beliau meskipun sakit tetapi tetap merasa sehat, beliau memang pekerja keras," kata Erwan.

Baca juga: Hasto: intelektual berinti kemanusiaan masih dibutuhkan dalam kekuasaan
Baca juga: Cornelis Lay : Anggota DPR Tak Kapok Dikecam Publik

 
Pewarta : Luqman Hakim
Editor: Tunggul Susilo
COPYRIGHT © ANTARA 2020