Polri limpahkan kasus kepemilikan radioaktif ilegal ke Kejaksaan

Polri limpahkan kasus kepemilikan radioaktif ilegal ke Kejaksaan

Dokumentasi--Personel BATAN, Bapeten dan Detasemen Kimia Biologi dan Radioaktif Gegana melakukan pengerukan tanah yang terkontaminasi zat radioaktif Cesium 137 sedalam 40 cm dalam upaya pembersihan (clean up) paparan radiasi di Perumahan Batan Indah, Tangerang Selatan, Provinsi Banten, Senin (02/02/2020). ANTARA/HO Humas BATAN/am.

Jakarta (ANTARA) - Tim penyidik Direktorat Tindak Pidana Tertentu Bareskrim Polri menyatakan berkas perkara kasus kepemilikan dan penggunaan zat radioaktif ilegal di Perumahan Batan Indah, Tangerang Selatan, dengan tersangka SM (56), telah lengkap sehingga dilimpahkan ke kejaksaan.

"Kasus tersebut sudah P21 dan hari ini sudah dilimpahkan kepada jaksa penuntut umum," ujar Kasubdit II Direktur Tindak Pidana Tertentu (Dittipidter) Bareskrim Polri Kombes Pol Wisnu Hermawan dalam konferensi video di Jakarta, Kamis.

Wisnu mengatakan, kasus kepemilikan dan penggunaan zat radioaktif ilegal tersebut terjadi pada Februari 2020 silam. Saat itu, penyidik menetapkan SM sebagai tersangka.

Baca juga: Polisi periksa 23 saksi kasus paparan radioaktif perumahan Batan Indah
Baca juga: BATAN: Paparan radiasi di Batan Indah turun menuju batas normal


SM yang menyimpan zat radioaktif tersebut di rumahnya, di Perumahan Batan Indah Blok A22 Kelurahan Kademangan, Kecamatan Setu, Tangerang Selatan, Banten, merupakan PNS di Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) sejak tahun 1986.

Dalam penyelidikan kasus ini, penyidik telah memeriksa 26 saksi serta dua ahli dari Batan dan Badan Pengawas Tenaga Nuklir (Bapeten).

Sejumlah barang bukti yang ditemukan penyidik dalam kasus ini yakni Iridium-192 sebanyak 19 buah, teridentifikasi Cesium sebanyak dua vial ampul dan Cesium 137 sebanyak satu buah.

Sementara yang terkontaminasi radioaktif Cesium-137 adalah delapan kontainer, tiga silinder stainless steel berlogo radioaktif, dua paving blok dan satu bungkus plastik serpihan kayu.

Wisnu mengatakan tersangka SM dijerat dengan Pasal 42 dan atau Pasal 43 Undang-undang Nomor 10 Tahun 1997 Tentang Ketenaganukliran. Adapun ancaman hukumannya yakni dua tahun penjara dan denda Rp50 juta.

Baca juga: Keterkaitan tersangka SM dengan radioaktif lahan kosong masih didalami
Baca juga: Paparan radioaktif ditemukan lagi di lokasi lain Kompleks Batan Indah
Pewarta : Fathur Rochman
Editor: Tasrief Tarmizi
COPYRIGHT © ANTARA 2020