Otoritas Hong Kong perintahkan pesawat carter militer Taiwan pulang

Otoritas Hong Kong perintahkan pesawat carter militer Taiwan pulang

Lapangan Terbang Dongsha di Laut China Selatan. (ANTARA/HO-United Daily News)

Jakarta (ANTARA) - Otoritas informasi penerbangan Hong Kong (FIR) memerintahkan satu pesawat carter pengangkut para personel departemen pertahanan dan patroli laut Taiwan untuk kembali ke pangkalan asalnya di pulau tersebut saat melintasi wilayah Laut China Selatan.

Media Taiwan melaporkan pesawat UNI Airways, maskapai penerbangan swasta yang berkantor pusat di Taipei, Taiwan, itu sedang berada dalam perjalanan menuju Kepulauan Dongsha, Kamis (15/10).

Namun, oleh FIR pesawat itu diperintahkan kembali ke Taiwan. Baru pertama kali hal ini terjadi, demikian pernyataan otoritas penerbangan sipil Taiwan, seperti dikutip media setempat.

FIR menginformasikan pesawat tersebut melakukan "aktivitas berbahaya" di ketinggian 26.000 kaki saat berada di dekat titik koneksi wilayah informasi penerbangan Taiwan dan Hong Kong, demikian dilaporkan United Daily News, yang mengutip otoritas penerbangan Taiwan.

Harian berbahasa Mandarin itu melaporkan bahwa saat melintasi pos pemeriksaan KAPLI di jalur internasional G86, pesawat harus melapor ke FIR dan mematuhi arahannya.

Menurut Organisasi Penerbangan Sipil Internasional (ICAO), sebagian besar negara atau wilayah membagi wilayah udara di bawah yurisdiksinya menjadi beberapa wilayah informasi penerbangan, termasuk wilayah udara di atas laut lepas yang saling berdekatan.

United Daily News melaporkan bahwa penerbangan sewaan tersebut membawa sejumlah anggota patroli laut dan departemen pertahanan Taiwan yang akan melakukan operasi reguler di antara Kepulauan Taiwan dan Kepulauan Dongsha.

Kepulauan Dongsha yang juga dikenal dengan Kepulauan Pratas berjarak sekitar 310 kilometer di sebelah tenggara Hong Kong.

Taman Nasional Atol Dongsha dibangun oleh Taiwan pada 2007. Namun, China mengklaim kepulauan yang berada di bagian utara Laut China Selatan itu sebagai bagian dari wilayah Provinsi Guangdong.

"Hal itu merefleksikan prinsip Satu China yang dipraktikkan di berbagai bidang, termasuk menyangkut garis tengah Selat Taiwan dan wilayah kendali udara," kata pengamat militer China Song Zhongping seperti dikutip Global Times, Jumat.

Baca juga: Taiwan sebut militernya di bawah tekanan hadapi tantangan dari China

Baca juga: Militer China pantau pergerakan kapal perang AS di Selat Taiwan

Baca juga: Taiwan tahan lima warga Hong Kong yang dijemput dari laut


 

Menlu ingin UNCLOS 1982 ditegakkan di Laut China Selatan

Pewarta : M. Irfan Ilmie
Editor: Tia Mutiasari
COPYRIGHT © ANTARA 2020