Ketika TNI AU menyulap tanah berkarang menjadi kebun sayur

Ketika TNI AU menyulap tanah berkarang menjadi kebun sayur

Komandan Lanud El Tari Kupang Kolonel Pnb Bambang Juniar ketika ikut membantu membuat bedeng untuk kebun sayur di Kupang, Antara/Kornelis kaha.

Kupang (ANTARA) - "Tuhan pasti kan menunjukkan kebesaran dan kuasanya, bagi hambanya yang sabar dan tak kenal putus asa"

Inilah sepenggal lirik dari lagu grub Band D'Masiv berjudul Jangan Menyerah. Lirik ini sepertinya cocok disematkan kepada sejumlah prajurit TNI AU di Lanud El Tari Kupang yang tak kenal putus asa mengolah lahan berbatu karang dan gersang menjadi lahan kebun sayur.

Kota Kupang dikenal dengan kota karang. Sejumlah lahan kosong di ibu kota provinsi itu hampir semuanya ditutupi oleh karang sehingga menyulitkan para petani untuk mengolahnya menjadi lahan pertanian.

Namun hal ini tidak bagi prajurit-prajurit TNI di kawasan Pangkalan Udara (Lanud) El Tari Kupang. Mereka justru mengubah lahan berbatu karang dan gersang di kawasan Lanud itu menjadi kebun sayur yang hijau dan segar.

Lahan gersang dan bebatuan seluas 1 hektar itu awalnya hanya lahan kosong yang terkadang dijadikan sebagai lokasi untuk memarkirkan kendaraan bermotor bagi masyarakat umum jika ada kegiatan yang bisa mengikutsertakan masyarakat umum.

Kini lahan tersebut justru sudah berubah menjadi bedeng-bendeng yang sudah ditanami oleh sayur-sayuran berbagai jenis mulai dari kangkung, bayam, sawi, kancang panjang, buncis. Selain itu ada juga daung bawang, cabai, dan bawang merah, dan pepaya california.

Batu-batu karang yang sudah keluarkan dari dalam tanah ditata dengan bagus agar bisa menjadi jalan setapak di sekitar kebun sayur tersebut.

Di salah satu sudut kebun sayur itu terdapat pula satu profil tank berkapasitar 2.500 liter air yang ditanam di dalam tanah untuk kemudian bisa dialirkan di pinggir sayuran yang ditanam dengan bantuan pompa.

Setiap bedeng yang sudah ada ditempatkan selang dengan sistem irigasi tetes, untuk mencegah terjadinya pemborosan air apalagi di saat musim kemarau panjang di Kota Kupang.

Irigasi tetes digunakan agar benih sayur yang ditanam tetap bisa mendapatkan air dan tetap hidup walaupun di musim kemarau, apalagi lagi ketika memasuki puncaknya.

"Kita mulai ubah lahan ini menjadi kebun sayur mulai Agustus 2020 dan kini sudah banyak sayuran yang sudah kami nikmati dari kebun ini," kata Komandan Lanud El Tari Kupang Kolonel Pnb Bambang Juniar.

Untuk menyuburkan benih-benih sayur dan buah-buahan itu juga personel Lanud El Tari mencari kotoran hewan untuk kemudian dijadikan pupuk agar sayur-sayuran yang ditanam bisa tetap subur.
Lahan berbatu karang yang kini sudah menjadi kebun sayur. Antara/Kornelis Kaha


Kemauan.

Lahan berbatu memang cukup menyulitkan jika seseorang ingin melakukan cocok tanam atau bertani.

Itulah yang dihadapi oleh Bambang Juniar. Ia pun berusaha mencari alat berat untuk menggali batu karang dan menghancurkannya agar tanahnya bisa ditanami bibit-bibit sayur dan lainnya.

Butuh sepekan lebih untuk bisa membersihkan lahan seluas satu hektar itu menjadi lahan yang berdaya guna dan menjadi kebun sayur-sayuran serta buah-buahan seperti semangka dan lainnya.

"Ya kita butuh waktu sepekan, mulai dari mengeluarkan batu sampai dengan membuat lahan ini menjadi bedeng yang disiapkan untuk menanam benih," tambah dia.

Selain karena lahan bebatuan, masalah air juga menjadi kendala yang dihadapi oleh para anggota Lanud El Tari saat bercocok tanam di lahan tersebut.

Untuk menghemat air, pihaknya kemudian memanfaatkan irigasi tetes. Dengan tujuan agar benih-benih yang sudah ditanami tidak mati dan bisa terus berkembang agar bisa dikonsumsi.

Kini dari hasil kerja keras para personel di lingkungan Lanud El Tari itu, mereka sudah berhasil melakukan panen sebanyak tiga kali dan tak perlu lagi membeli sayur atau kebutuhan dapur lainnya dari pasar.

Bambang merupakan satu-satunya Komandan Lanud El Tari yang memiliki inovasi untuk mengubah lahan bebatuan dan gersang itu menjadi kebun sayur yang kini bisa dimanfaatkan untuk konsumsi bagi personel di lingkungan Lanud El Tari Kupang.

Bambang sendiri ingin menunjukan kepada masyarakat di Kota Kupang bahwa sebenarnya lahan gersang dan berbatuan di Kota Kupang ini bisa diolah menjadi lahan pertanian yang nanti bisa berdaya guna bagi kehidupan ekonomi.

Hal utama yang perlu dilakukan adalah kemauan dan kerja keras saja, sebab jika tidak ada kemauan serta niat untuk bekerja keras otomatis tidak akan berjalan dengan baik.  "Kuncinya adalah kemauan saja," tutur Bambang.

Jangan Menyerah.

Berbicara soal lahan kering, di Indonesia hanya ada dua daerah yang disebut memiliki lahan kering kepulauan, yaitu Nusa Tenggara Timur serta Maluku Selatan.

Oleh karena itu, seharusnya masyarakat di NTT khususnya para petani patut berbangga dengan keunggulan tersebut bukan justru menyerah pada alam.

Menurut penelitian yang dilakukan oleh Rektor Universitas Nusa Cendana Kupang Prof. Fred Benu, ada sejumlah potensi yang ada di NTT yang mampu di hasilkan dari pertanian lahan kering yang menurut dia tidak perlu harus dikhawatirkan tetapi harus disyukuri.

Namun sayangnya sejumlah potensi keanekaragaman hayati itu belum dioptimalkan sebagai sumber pangan masyarakat karena tak ada kreatifitas dalam pengembangan lahan kering itu sendiri.

Beberapa diantaranya itu adalah 57 jenis sumber karbohidrat, kemudian 55 jenis sumber lemak atau minyak, 26 jenis kacang-kacangan, 273 jenis buah-buahan, 178 jenis sayuran, 32 jenis bahan minuman dan 94 jenis rempah-rempah dan bumbu-bumbuan.

"Sayangnya potensi ini belum dimanfaatkan secara optimal sebagai sumber pangan masyarakat di daerah lahan kering seperti NTT ini," ujar dia.

Saat ini lahan kering yang ada di NTT mencapai 1,5 juta hektare, yang baru dimanfaatkan baru sekitar 60 persen saja, padahal seluruh masyarakat di NTT ini hidup di lahan kering.

Di samping itu, lahan kering yang ada di NTT ini berbeda dengan lahan kering yang ada di daerah lain di Indonesia karena banyak potensi-potensi perkebunan yang dihasilkan melalui lahan kering yang ada di NTT ini.

Pembukaan lahan tidur oleh TNI AU di Lanud EL Tari merupakan hal positif yang perlu ditiru oleh masyarakat di NTT. Pasalnya saat ini masih banyak lahan tidur di NTT yang tidak dimanfaatkan oleh masyarakat akibat kondisi alam.

Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan NTT Lecky Koli mengatakan pemerintah NTT akan mendukung penuh jika ada masyarakat yang membuka lahan baru di wilayah itu.

'Salah satu dukungan yang diberikan adalah membantu peralatan dan menyiapkan bibit-bibit ketika lahan baru dibuka. Kita justru juga mengharapkan seluruh pihak ikut membantu sektor pertanian di NTT, seperti yang dilakukan oleh TNI AU di Kupang," ujar dia.

Pengolahan lahan kosong untuk dijadikan area pertanian merupakan satu pemikiran yang dapat dijadikan contoh, bahwa dalam kondisi apa pun lahan bisa dimanfaatkan untuk masyarakat.

Langkah yang dilakukan TNI AU menanami lahan kosong dengan aneka tanaman sayuran, setidaknya bisa menjadi inspirasi bagi warga di sekitarnya terutama dalam situasi pandemi COVID-19.

Warga pun diharapkan bisa mengolah pekarangan sendiri untuk memenuhi kebutuhan sayuran untuk keluarga. Tentu jika dilakukan secara masif oleh masyarakat bukan tidak mungkin ini bisa menambah ketahanan pangan di wilayah itu.
 
Pewarta : Kornelis Kaha
Editor: Royke Sinaga
COPYRIGHT © ANTARA 2021