Pakar kebencanaan: Sekolah Sungai cegah banjir bandang NTT berulang

Pakar kebencanaan: Sekolah Sungai cegah banjir bandang NTT berulang

Warga berjalan melewati tumpukan kayu yang menyumbat dan merusak salah satu jembatan penghubung antardesa di Adonara Timur, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), Rabu (7/4/2021). Menurut Organisasi Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) banjir bandang dan tanah longsor yang melanda di sejumlah wilayah di NTT dipicu kerusakan lingkungan akibat alih fungsi lahan, pertambangan dan pembalakan liar. (ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra/wsj.)

Yogyakarta (ANTARA) - Pakar kebencanaan Universitas Gadjah Mada Prof Suratman mengusulkan pembentukan Sekolah Sungai dan Srikandi Sungai untuk mencegah banjir bandang di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) berulang.

"Lewat Sekolah Sungai dan Srikandi Sungai kita akan membentuk sukarelawan rakyat untuk pencegahan bencana banjir melalui kegiatan edukasi dan penyadaran, aksi konservasi, kegiatan ekonomi kreatif di sekitar sungai," katanya di Yogyakarta, Jumat.

Sebagai inisiator program Srikandi Sungai di Indonesia, Suratman menyatakan bahwa program ini difokuskan pada daerah yang memiliki daerah aliran sungai (DAS) yang panjang dan di pulau-pulau besar.

Berkaitan dengan kejadian banjir di pulau-pulau kecil di wilayah NTT pihaknya akan menggandeng universitas lokal untuk bekerja sama.

Program pembentukan relawan Srikandi Sungai dan Sekolah Sungai, menurut dia, selama ini masih terbatas pada daerah-daerah tertentu di Indonesia.

Oleh sebab itu, ia mengharapkan dukungan dari pemerintah pusat dan daerah agar program pembentukan relawan sungai bisa tersebar di seluruh daerah.

Bencana banjir bandang yang melanda pulau-pulau kecil di NTT seperti Lembata, Alor dan Flores Timur, menurut dia, menandakan bahwa ketahanan bentang alam dan daerah aliran sungai (DAS) di pulau kecil itu terdegradasi akibat deforestasi dan alih fungsi lahan.

Pemerintah, katanya, perlu memerhatikan pengelolaan kondisi dan daya dukung DAS terhadap program pembangunan sebaran permukiman.

"Tipe DAS dengan pulau kecil itu harus khusus penanganannya. Terutama persebaran pola permukiman," katanya.

Oleh sebab itu, lanjut dia, Indonesia perlu mulai berpikir mengelola DAS-DAS di pulau kecil.

"Banjir tidak hanya terjadi pada DAS besar tapi DAS kecil di pulau kecil apalagi terjadi anomali iklim seperti sekarang ini bisa mengerikan," katanya.

Suratman menilai banjir bandang yang terjadi di NTT memang disebabkan oleh jumlah curah hujan akibat anomali iklim dengan siklon tropis seroja.

Meski demikian, kata dia, banjir bandang juga tergantung dari sisi ketahanan bentang alam, kondisi hutan dan lereng di sekitar aliran sungai.

Apabila daya dukung semakin minim ketangguhan sungai dalam menahan jumlah curah hujan yang tinggi di hulu sungai akan menurun, demikian Suratman.

Baca juga: 1.400 personel TNI bantu penanggulangan bencana Seroja di NTT

Baca juga: 4.104 rumah penduduk Malaka rusak akibat bencana banjir

Baca juga: Akibat longsor, 1.105 penduduk Ile Boleng kehilangan tempat tinggal


Baca juga: BNPB: Korban meninggal akibat Siklon Seroja di NTT capai 163 orang
Pewarta : Luqman Hakim
Editor: Andi Jauhary
COPYRIGHT © ANTARA 2021