Upaya Kota Padang antisipasi kasus baru COVID-19 usai Lebaran

Upaya Kota Padang antisipasi kasus baru COVID-19 usai Lebaran

Petugas medis menangani pasien terlihat di layar pemantau ruang ICU, Gedung COVID lantai II, RSUP Dr.M.Djamil, Padang, Sumatera Barat, Senin (24/5/2021). FOTO ANTARA/Iggoy El Fitra.

Padang (ANTARA) - Memasuki hari ketiga selepas Idul Fitri (Lebaran) 1422 Hijriah pada Sabtu 15 Mei 2021 sejak pagi jajaran puskesmas yang ada di Kota Padang sudah bersiaga.

Jika instansi pemerintah daerah lainnya baru akan buka pada Senin (17/5) 2021, sebanyak 23 puskesmas di Padang telah buka dan siap memberikan pelayanan tes usap COVID-19 dalam rangka mengantisipasi lonjakan kasus baru.

Kendati pemerintah telah memberlakukan pelarangan mudik, namun karena mudik lokal tetap diperbolehkan dan selama Ramadhan terjadi kenaikan kasus baru menyebabkan Dinas Kesehatan Kota Padang melakukan antisipasi.

Antisipasi tersebut yaitu membuka layanan tes usap secara gratis di 23 puskesmas sebagai upaya memastikan warga yang baru pulang Lebaran tidak terpapar COVID-19.

Apalagi sejak awal Ramadhan Kota Padang naik status dari zona kuning atau risiko rendah penyebaran COVID-19 menjadi zona oranye atau risiko menengah.

Menurut Kepala Dinas Kesehatan Kota Padang Ferimulyani Hamid kendati Idul Fitri 1422 Hijriah tidak ada cuti bersama dan hanya libur Lebaran, namun pihaknya perlu mengantisipasi mengingat mobilisasi orang selama libur dari satu daerah ke daerah lain cukup tinggi.

Ia pun terus menyerukan imbauan warga yang baru pulang bepergian dari luar kota untuk melakukan tes usap ke Puskesmas terdekat.

Layanan tes usap tersebut dibuka sejak pukul 09.00 WIB hingga pukul 11.00 WIB.

Kendati pemerintah pusat telah mengeluarkan kebijakan pelarangan mudik, namun pada kenyataan banyak yang melakukan mudik prematur atau lebih awal dari jadwal pelarangan sebelum 6 Mei 2021.

"Kemudian juga tidak ada pembatasan mudik lokal di Sumbar sehingga mobilitas warga cukup tinggi saat Lebaran termasuk yang masuk ke kota Padang," katanya.

Berdasarkan laporan yang dihimpun dari pihak berwenang, pada libur Lebaran total warga yang ada di Padang mencapai 1,5 juta jiwa, sementara jumlah penduduk Padang hanya 900 ribu jiwa.

Oleh sebab itu menyikapi dan mengantisipasi peningkatan kasus pihaknya melakukan penelusuran (tracing) dan mengimbau warga yang pulang bepergian melakukan tes usap di puskesmas.

"Bagi warga yang merasakan demam, batuk, diare, sesak napas, pelaku perjalanan dari luar Sumbar atau kabupaten kota disarankan untuk melakukan tes usap," katanya.

Pelayanan tes usap dilakukan bertujuan untuk meningkatkan penelusuran riwayat kontak pasien yang positif. Selain itu dijumpai 80 persen warga Padang yang terpapar adalah orang tanpa gejala sehingga perlu dites untuk memastikan tidak terpapar.

Apalagi berdasarkan temuan Dinas Kesehatan Kota Padang penularan lewat kluster keluarga cukup tinggi.

Menurut Ferimulyami dari data yang ada saat ini satu orang yang terpapar COVID-19 menularkan kepada empat hingga lima anggota keluarga lainnya.

"Dan yang perlu diwaspadai dalam hal ini adalah orang tua yang rentan, bukan karena mobilitasnya tinggi tapi terpapar dari anak dan karena ada penyakit penyerta kondisinya akan lebih parah," katanya.

Apalagi saat Lebaran lalu banyak anak yang bersalaman dengan orang tua, sementara si anak datang dari berbagai daerah.

"Ditambah lagi saat ini penderita COVID-19 80 persen tanpa gejala sehingga tidak diketahui apakah seseorang sudah positif sementara interaksi dengan anggota keluarga cukup intensif," katanya.

Untuk mengantisipasi penularan pada kluster keluarga ia menyarankan jika ada anggota keluarga yang positif sebaiknya melakukan isolasi di fasilitas kesehatan atau rumah isolasi yang disediakan Pemkot Padang di Kecamatan Koto Tangah.

"Dengan demikian risiko penularan di antara sesama anggota keluarga dapat dihindari," kata dia

"Rumah isolasi di Koto Tangah mampu menampung hingga 300 orang, namun saat ini hanya 4 orang yang dikarantina di sana," tambahnya

Penegakan disiplin

Tidak hanya menyediakan layanan tes usap, semua pemangku kepentingan di Kota Padang juga rutin melaksanakan razia terutama di malam hari memastikan warga yang masih beraktivitas menaati protokol kesehatan mulai dari memakai masker, menjaga jarak dan mencuci tangan.

Razia digelar gabungan oleh Polresta Padang, TNI, Satpol PP hingga aparatur tingkat kecamatan. Bahkan Wali Kota Padang Hendri Septa pun langsung terlibat dalam razia dan mengedukasi para pedagang yang berjualan di malam hari agar disiplin menerapkan protokol kesehatan.

Sementara bagi warga yang kedapatan tidak menggunakan masker langsung diangkut ke Polresta Padang untuk diberikan pembinaan dan peringatan agar ke depan lebih disiplin.

Pemerintah Kota Padang juga membatasi jam operasional tempat usaha mulai dari rumah makan, restoran dan lainnya hingga pukul 22.00 WIB dalam rangka mencegah peningkatan kasus COVID-19.

Aturan tersebut tertuang dalam Surat Edaran (SE) Wali Kota Nomor: 870.364/BPBD-Pdg/V/2021 yang dikeluarkan pada 4 Mei 2021 tentang pembatasan jam operasional usaha pariwisata bertujuan menekan angka kasus positif COVID-19 di Kota Padang.

“Kami meminta Para pelaku usaha pariwisata di Kota Padang wajib mematuhinya,” kata Wali Kota Padang Hendri Septa.

Berkat upaya penegakan disiplin protokol kesehatan tersebut skor zonasi COVID-19 Padang semakin membaik berada pada angka 2,40 dari sebelumnya 2,38.

Pengukuran skor untuk zona merah atau risiko tinggi memiliki skor 0-1,80, zona oranye atau risiko menengah 1,81-2,40 dan zona kuning atau risiko rendang 2,41-3,0 serta zona hijau dengan indikator tidak ada penambahan kasus baru.

Kenaikan skor ini merupakan buah dari upaya keras yang dilakukan aparat mulai dari TNI, Polri dan Satpol PP hingga aparatur kecamatan melakukan razia penerapan protokol kesehatan yang intensif .

Tingkat kesembuhan

Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kota Padang, tingkat kesembuhan warga kota yang terinfeksi COVID-19 merupakan yang tertinggi di Sumatera Barat.

"Dari 19.503 warga Padang yang terpapar COVID-19 hingga 23 Mei 2021, 18.288 orang dinyatakan sembuh, artinya angka kesembuhan di Padang mencapai 95 persen paling tinggi di Sumbar dan melampaui angka nasional," kata Kepala Dinas Kesehatan Kota Padang Ferimulyani Hamid.

Menurutnya hingga saat ini jumlah warga Padang yang meninggal karena COVID-19 mencapai 351 orang hingga saat ini dengan angka kematian 1,8 persen atau di bawah angka provinsi dan nasional.

Ia menyampaikan yang paling banyak terpapar COVID-19 justru di dominasi oleh mereka yang berusia muda karena tingginya mobilitas.

Sebaliknya mereka yang meninggal dominan adalah para lansia di atas 60 tahun.

Para lansia ini memang tidak kemana-mana dan lebih banyak di rumah, namun mereka tertular dari anggota keluarga yang lebih muda.

Ia mengemukakan hampir semua lansia yang meninggal tersebut memiliki penyakit penyerta selain COVID-19 sehingga kematiannya tidak murni hanya karena COVID-19.

Dominan penyakit penyerta yang dimiliki mulai dari diabetes hingga darah tinggi.

"Salah satunya disebabkan oleh pola makan di Padang yang terbiasa dengan masakan bersantan, kebiasaan kita tidak bisa makan kalau tidak ada masakan bersantan," katanya.

Oleh sebab itu Dinkes terus mengingatkan warga untuk menaati protokol kesehatan dengan memakai masker, menjaga jarak dan mencuci tangan.

Baca juga: Gubernur Sumbar minta perantau tahan diri tak mudik saat Idul Fitri

Baca juga: Operasi yustisi jaring ratusan warga di Kota Padang pelanggar prokes

Baca juga: Dinkes Padang sarankan warga tes COVID-19 di fasilitas kesehatan resmi

Baca juga: Polisi sebut ratusan orang gagal masuk Sumbar saat H+2 Idul Fitri 2021


 
Pewarta : Ikhwan Wahyudi
Editor: Andi Jauhary
COPYRIGHT © ANTARA 2021