Universitas Brawijaya gandeng warga kelola hutan berkelanjutan

Universitas Brawijaya gandeng warga kelola hutan berkelanjutan

Perkampungan warga di sekitar Universitas Brawijaya (UB) Forest yang berlokasi di kaki Gunung Arjno di Kecamatan Karangploso, Kabupaten Malang. ANTARA/HO-UB

Malang, Jawa Timur (ANTARA) - Universitas Brawijaya (UB) menggandeng warga sekitar UB Forest yang berlokasi di kaki Gunung Arjuno di Kabupaten Malang, Jawa Timur, untuk mengelola hutan secara berkelanjutan dengan memanfaatkan dana hibah pengabdian masyarakat dari Pemerintah Australia.

Pimpinan proyek pengelolaan hutan Fakultas Teknologi Pertanian UB, Hendrix Yulis Setyawan, STP, M.Si, PhD di Malang, Rabu, mengatakan UB menerima dana hibah yang akan digunakan untuk pengembangan masyarakat di wilayah kaki Gunung Arjuno, dengan tajuk Sustainable Development of Forest-based Community at Arjuno Mountain, Malang.

Baca juga: WARSI: Apresiasi masyarakat adat jaga dan kelola hutan berkelanjutan

"Hibah ini digunakan untuk pengelolaan hutan yang berkelanjutan, bekerja sama dengan masyarakat sekitar UB Forest, sebuah hutan pendidikan yang terletak di Dusun Sumberwangi, Karangploso, Kabupaten Malang," katanya.

Masyarakat di sekitar UB Forest, lanjutnya, mayoritas adalah penggarap kebun kopi dan peternak sapi. Para petani kopi ini tidak memiliki lahan, rumah pun berada di lahan UB, akses listrik dan sumber energi bersih sangat terbatas, sehingga mereka butuh bantuan.

Selain pemberdayaan petani kopi, kelompok yang terdiri dari Hendrix Yulis Setyawan, Prof Imam Santoso, Sri Suhartini, STP, M.Env.Mgt, PhD dan Nimas Mayang Sabrina Sunyoto, STP, M.Sc, MP, PhD ini, juga akan membuat Kampung Mandiri Energi berbasis pertanian dan peternakan dengan sistem berkelanjutan.

Baca juga: KLHK sebut PIPPIB untuk perbaiki tata kelola hutan dan gambut

“Target awal adalah menyosialisasikan model pertanian berkelanjutan. Konsepnya, kami membantu masyarakat sekitar UB Forest mengelola lingkungan sekitarnya secara berkelanjutan. Pendampingan setelah program akan dilakukan oleh Fakultas Teknologi Pertanian (FTP)," ujarnya.

Dekan FTP UB, Prof Imam Santoso mengatakan FTP juga berkontribusi dalam pendanaan sebagai "third party" pada program pengabdian internasional seperti AGS ini, karena kegiatan yang dilaksanakan sangat erat dengan latar belakang keilmuan FTP dan sebagai salah satu wujud tri-dharma FTP.

Selain memiliki potensi kopi, wilayah ini juga digunakan untuk pemeliharaan sapi oleh warga. Model berkelanjutan yang ditawarkan adalah dengan memaksimalkan peternakan sapi warga untuk pemenuhan kebutuhan energi dan mengurangi limbah terbuang.

Baca juga: Kelola hutan bersama masyarakat solusi permasalahan hutan Lampung

“Rencananya, di lokasi peternakan dibangun instalasi biogas yang hasilnya nanti dapat dimanfaatkan oleh penduduk sebagai sumber energi untuk memasak," kata Imam.

Sedangkan pupuk sisa fermentasi dari unit biogas dapat digunakan untuk kebun kopi. Penggunaan pupuk ini akan menguntungkan UB Forest, karena pupuk yang digunakan adalah pupuk organik dan dapat mengurangi penggunaan pupuk kimia berlebih yang berpotensi merusak lahan tanam di beberapa daerah.

Harga kopi organik yang dihasilkan juga dapat meningkat, sehingga menguntungkan kedua belah pihak, baik petani selaku penggarap dan UB Forest selaku pengampu lahan peternakan sapi, karena mendapat tambahan penghasilan dan tersedianya hijauan pakan di UB Forest yang bisa dimanfaatkan.

Masyarakat sekitar juga terbantu dengan tersedianya energi bersih yang dapat digunakan untuk memasak, sehingga produktivitas lahan akan menguntungkan semua pihak.

Pemerintah Australia memberikan dana hibah kepada FTP UB melalui Australia Grant Scheme Round 1 2021 yang dikelola oleh Australia Awards di Indonesia, sebuah lembaga yang mendukung kontribusi positif antara Australia dan Indonesia.
Pewarta : Endang Sukarelawati
Editor: Heru Dwi Suryatmojo
COPYRIGHT © ANTARA 2021