Ketua PB IDI: Gunakan pereda nyeri jika alami KIPI ringan usai vaksin

Ketua PB IDI: Gunakan pereda nyeri jika alami KIPI ringan usai vaksin

Ketua Tim Mitigasi Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) sekaligus ketua terpilih PB IDI dr Adib Khumaidi. (ANTARA/ (Istimewa)

Jakarta (ANTARA) - Ketua Terpilih Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) dr Adib Khumaidi SpOT, mengatakan masyarakat bisa menggunakan obat pereda nyeri jika mengalami gejala ringan, misalnya demam atau nyeri kepala, terkait Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) usai vaksin COVID-19.

"Sejauh ini memang ada keluhan-keluhan (KIPI) tapi itu yang ringan seperti demam, pegal, atau sakit kepala. Itu bisa ditangani dengan meminum obat pereda nyeri seperti parasetamol ataupun ibuprofen,” kata Adib dalam Bincang ANTARA, Selasa.

Baca juga: Efek samping Sinopharm tidak perlu pengobatan

Baca juga: Pakar: Pembekuan darah ditandai sakit kepala hingga gangguan bicara


Ia mengatakan, kendati ada potensi KIPI pada penerima vaksin AstraZeneca, namun masyarakat tidak perlu ragu menerima vaksin itu karena reaksi serupa juga ditemukan pada penerima vaksin Sinovac, maupun Sinopharm yang digunakan dalam program Vaksinasi Gotong Royong.

"Jadi memang itu reaksi yang normal, sama seperti saat anak- anak menjalani imunisasi DPT (Difteri, Pertusis, Tetanus). Kalau ditemukan reaksi demam, atau sakit kepala kami selalu sarankan orang tuanya untuk memberi anaknya obat pereda nyeri seperti paracetamol,” kata Adib.

Orang yang mengalami KIPI dianjurkan berkonsultasi dengan dokter jika mengalami reaksi yang lebih berat dari demam, pegal, atau nyeri kepala seusai menerima vaksin COVID-19.

“Segera bawa ke rumah sakit jika terdapat keluhan yang memberat. Masyarakat bisa ke rumah sakit sekitar 1x24 jam usai menerima vaksin (jika reaksi memburuk),” ujar Adib.

 Masyarakat umum berusia 18 tahun ke atas sudah menerima vaksin COVID-19 sejak akhir Mei 2021. Pemberian vaksinasi diharapkan dapat selesai di Desember 2021 dengan target awal Maret 2022 untuk 180 juta penduduk di Indonesia.

Baca juga: Pakar: Pembekuan darah karena vaksin AstraZeneca sangat jarang terjadi

Baca juga: Tips hadapi orang terjebak hoaks vaksin COVID-19

Baca juga: Pro dan kontra risiko AstraZeneca
Pewarta : Livia Kristianti
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2021