Program HBCC dorong perubahan perilaku 3M cegah penyebaran COVID-19

Program HBCC dorong perubahan perilaku 3M cegah penyebaran COVID-19

Warga melintasi mural edukasi pencegahan COVID-19 berbahasa Sunda di Pandeglang, Banten, Selasa (26/1/2021). Mural tersebut bertujuan sebagai media edukasi untuk mengingatkan warga agar menerapkan protokol kesehatan 3M (memakai masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak) guna mencegah potensi penyebaran bahaya COVID-19. ANTARA FOTO/Muhammad Bagus Khoirunas//hp.

Jakarta (ANTARA) - Program Hygiene and Behaviour Change Coalition (HBCC) yang telah berlangsung selama 11 bulan di sejumlah kabupaten, mendorong perubahan perilaku 3M (memakai masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak) masyarakat dalam upaya mencegah penyebaran COVID-19.

"Selama 11 bulan pelaksanaan Program HBCC di delapan kabupaten dan dua kota telah terlihat praktik baik perubahan perilaku kebersihan dalam upaya mengurangi penyebaran COVID-19," kata HBCC Programme Manager, Saniya Niska dalam lokakarya Diseminasi Nasional: Praktik Baik dan Pembelajaran Program HBCC Tanggap COVID-19 dengan Intervensi Higiene yang dipantau di Jakarta, Selasa.

Program yang dilaksanakan atas kerja sama Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Kerajaan Inggris serta Unilever Itu berlangsung di Cimahi, Gunung Kidul, Surakarta, Bantul, Probolinggo, Kebumen, Sleman, Gresik, Lombok Timur dan Lombok Tengah.

Baca juga: Ahli virologi sarankan urutan pertama 3M diubah jadi jauhi kerumunan

Saniya mengatakan, dalam program tersebut dilakukan tiga pendekatan yaitu peningkatan kesadaran publik melalui media massa, kampanye perubahan perilaku di tingkat kabupaten/kota, serta perubahan perilaku dengan media digital, dengan target sasaran utama adalah murid sekolah, petugas kebersihan, kelompok disabilitas dan pengguna fasilitas kesehatan dan fasilitas umum.

Ia mencontohkan,kampanye perubahan perilaku School of 5 yang menjangkau 1.342 guru dan lebih dari 100 ribu murid di 101 sekolah dan madrasah.

"Anak-anak didorong untuk berkomitmen melalui ikrar 3M dan mempromosikan 3M ke keluarga dan lingkungan terdekat. Lebih dari 600 dokter kecil (dokcil) juga dilatih untuk menjadi role model bagi teman-temannya," tambah Saniya mengenai kampanye di sekolah.

Kampanye 5-Bintang fasilitas umum seperti puskesmas, pasar, dan terminal yaitu mewakili perilaku 3M, pembersihan permukaan, disinfeksi, juga aksesibilitas dan bertujuan untuk menjadikan seluruh faskes dan fasum dampingan berbintang 5.

Baca juga: Menkes : Selesainya pandemi COVID-19 bergantung pada upaya semua pihak

Ketua Pusat Pemberdayaan Disabilitas Mitra Sejahtera, Hardiyo menekankan pentingnya pelibatan penyandang disabilitas dalam kampanye, termasuk desain dan produksi sarana cuci tangan pakai sabun (CTPS) di sekolah, faskes, dan fasum.

Pelibatan dan kolaborasi aktif tersebut bertujuan agar kampanye dapat menjangkau berbagai kelompok masyarakat, dapat mengakses materi edukasi dan semua orang dapat menggunakan sarana CTPS.

Sementara itu, Direktur Manajemen Penanggulangan Bencana dan Kebakaran Kementerian Dalam Negeri, Edy Suharmanto juga mendorong pemerintah daerah, kelompok masyarakat, seperti tokoh agama hingga pemuda, untuk terus memberikan sosialisasi pencegahan COVID-19.

"Pemerintah pusat sudah menyiapkan anggaran yang bisa digunakan oleh pemerintah daerah, terkait pengadaan masker bagi masyarakat atau pun menunjang kegiatan pencegahan COVID-19," tegasnya.

Baca juga: Satgas COVID-19 dorong kesadaran prokes lewat strategi kearifan lokal
Baca juga: Kemkes: Penguatan 3T-3M dan vaksinasi tanggulangi COVID-19
Baca juga: Tetap jalankan 3M meski sudah divaksin COVID-19


#ingatpesanibu
#sudahdivaksintetap3m
#vaksinmelindungikitasemua
 
Pewarta : Desi Purnamawati
Editor: Triono Subagyo
COPYRIGHT © ANTARA 2021