WHO: Progres penanganan COVID terancam varian Delta

WHO: Progres penanganan COVID terancam varian Delta

Sejumlah orang berjalan di kawasan Times Square, New York City, Amerika Serikat, Jumat (23/7/2021), seiring dengan semakin meningkatnya penularan COVID-19 akibat virus SARS-CoV-2 varian Delta. Varian Delta virus COVID-19 menjadi penyebab lebih dari 80 persen kasus baru yang terjadi di Amerika Serikat. ANTARA FOTO/REUTERS/Eduardo Munoz/wsj.

Jenewa (ANTARA) - Dunia terancam kehilangan progres yang susah didapatkan dalam memerangi COVID-19 ketika varian Delta yang sangat menular menyebar, menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada Jumat (30/7).

Menurutnya, vaksin yang disetujui oleh WHO masih ampuh melawan penyakit virus corona.

Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit AS (CDC) menggambarkan varian Delta sama menularnya dengan cacar air dan juga memperingatkan bahwa varian itu dapat menyebabkan penyakit parah, tulis Washington Post yang mengutip dokumen internal CDC.

Infeksi COVID-19 meningkat 80 persen selama empat bulan terakhir di sebagian besar kawasan dunia, ungkap Dirjen WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus. Kematian di Afrika --yang hanya 1,5 persen populasinya sudah divaksin-- melonjak 80 persen selama periode yang sama.

"Progres yang sulit didapatkan berada dalam bahaya atau hilang, dan sistem kesehatan di banyak negara kini kewalahan," kata Tedros saat konferensi pers.

Baca juga: Varian Delta mendominasi dunia

Varian Delta terdeteksi di 132 negara, sehingga mendominasi dunia, menurut WHO.

"Vaksin-vaksin yang saat ini disetujui oleh WHO, semuanya memberikan perlindungan yang signifikan terhadap penyakit parah dan rawat inap dari semua varian, termasuk varian Delta," kata pakar kedaruratan senior WHO, Mike Ryan.

"Kita sedang memerangi virus yang sama, namun satu virus yang menjadi lebih cepat dan lebih baik beradaptasi untuk menular di antara kita manusia, itulah perubahannya," lanjutnya.

Kepala teknis COVID-19 WHO, Maria van Kerkhove, menyebutkan bahwa varian Delta sekitar 50 persen lebih menular ketimbang varian asli SARS-CoV-2, yang mulanya muncul di China pada akhir 2019.

Sejumlah negara melaporkan lonjakan tingkat rawat inap, namun tingkat kematian yang tercatat akibat varian Delta tidak lebih tinggi, katanya.

Sumber: Reuters

Baca juga: Varian COVID Delta mulai menjamur di Italia

Baca juga: Antibodi dari vaksin COVID China kurang efektif melawan varian Delta


 

Peningkatan kasus COVID-19 di Indonesia didominasi varian Delta

Pewarta : Asri Mayang Sari
Editor: Tia Mutiasari
COPYRIGHT © ANTARA 2021