Kemenkes lakukan efisiensi oksigen menggunakan teknologi konsentrator

Kemenkes lakukan efisiensi oksigen menggunakan teknologi konsentrator

Ilustrasi - Warga antre untuk isi ulang oksigen pada kegiatan Solo Berbagi Oksigen Gratis di Rumah Dinas Wali Kota Solo Loji Gandrung, Solo, Jawa Tengah, Sabtu (31/7/2021). ANTARA FOTO/Maulana Surya/foc.

Jakarta (ANTARA) - Kementerian Kesehatan RI melakukan efisiensi kebutuhan oksigen bagi perawatan pasien COVID-19 melalui pemanfaatan teknologi konsentrator yang terinstalasi di rumah sakit.

"Strategi yang kita lakukan, kita tidak kirim oksigennya. Kita kirimkan oksigen konsentrator, itu seperti pabrik oksigen kecil yang bisa kita pasang di sebelah tempat tidur. Yang penting ada listriknya," kata Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin dalam agenda konferensi pers yang dipantau dari Jakarta, Senin.

Budi mengatakan oksigen konsentrator akan bekerja menyedot udara di sekitar ruangan kemudian memurnikan kadar oksigen hingga meningkat di atas 93 persen sesuai kategori medis.

Kementerian Kesehatan sudah mendistribusikan sekitar 3.000 oksigen konsentrator ke berbagai rumah sakit di pulau Jawa. "Akan datang lagi sekitar 10.000 oksigen konsentrator kita akan segera bagikan ke provinsi yang membutuhkan," katanya.

Baca juga: RSUD Curup operasikan peralatan isi ulang oksigen

Baca juga: PLN kembali salurkan oksigen untuk penanganan COVID-19 di Jateng


Strategi pemenuhan kebutuhan oksigen juga dilakukan Kemenkes dengan membentuk Satuan Tugas (Satgas) Oksigen di daerah berkategori Pemberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) level 4.

"Karena memang oksigen itu barang yang produksinya tidak merata dan distribusinya susah," katanya.

Upaya pemenuhan kebutuhan oksigen melalui peran satgas dilakukan dengan menghimpun pihak terkait seperti perwakilan pemerintah daerah, rumah sakit, TNI-Polri dan produsen oksigen di wilayah setempat sehingga koordinasi bisa lebih optimal, kata Budi.

"Ada satu sistem daring (online) yang kita minta dari seluruh rumah sakit di daerah PPKM level 4, kita minta isi datanya. Sehingga kita tahu status oksigennya mereka. Mana yang 12 jam lagi bertahan, mana yang 24 jam lagi dan mana yang 36 jam lagi. Semuanya bisa kita lihat sehingga kita bisa beri bantuan kalau dibutuhkan," katanya.*

Baca juga: Kemenko Perekonomian bantu 50 unit konsentrator oksigen untuk Papua

Baca juga: Kosgoro 1957 distribusikan konsentrator oksigen ke rumah sakit
Pewarta : Andi Firdaus
Editor: Erafzon Saptiyulda AS
COPYRIGHT © ANTARA 2021