Basarnas Kendari tangani 37 kecelakaan kapal hingga September 2021

Basarnas Kendari tangani 37 kecelakaan kapal hingga September 2021

Dokumen - Tim SAR gabungan Basarnas Kendari Pos SAR Baubau saat operasi pencarian nelayan bernama La Mpedu (53) yang hilang saat memancing ikan di perairan antara Pantai Wonua Ndoke dan Pantai Sumalu, Desa Lantagi, Kecamatan Kulisusu, Buton Utara, Sultra sejak Senin (17/5/2021) lalu. Kamis (20/5/2021). (ANTARA/HO-Humas Basarnas Kendari

Kendari (ANTARA) - Badan Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) Kendari, Sulawesi Tenggara, mencatat 37 kecelakaan kapal yang ditangani dalam kurun waktu Januari hingga September 2021.

"Periode Januari sampai September 2021 ini kami menangani 37 kecelakaan kapal di wilayah kerja kami," kata Kepala Humas Basarnas Kendari Wahyudi saat diwawancara melalui WhatsApp di Kendari, Sabtu.

Baca juga: Seluruh korban tubrukan kapal kayu di Batam ditemukan

Dia menyebut dari jumlah kejadian itu, sebanyak 165 selamat, 13 orang meninggal dan sembilan orang dinyatakan hilang meski telah dilakukan pencarian selama tujuh hari.

Wahyudi menjelaskan untuk nelayan yang hilang dan tidak ditemukan tanda-tanda keberadaan korban ketika operasi SAR hingga memasuki hari ketujuh, maka operasi dihentikan sesuai kesepakatan semua pihak termasuk keluarga korban.

Baca juga: 30 kecelakaan kapal nelayan ditangani Basarnas Babel Januari-September

"Jadi kami berkoordinasi kepada semua pihak termasuk keluarga korban untuk menghentikan pencarian, operasi SAR bisa dilanjutkan jika ditemukan tanda-tanda keberadaan korban," ujar Wahyudi.

Selain melakukan operasi SAR terhadap kecelakaan kapal, Basarnas Kendari juga melakukan penyelamatan terhadap 15 kondisi membahayakan manusia seperti hilang di hutan. Dalam operasi itu tercatat 51 orang selamat, tujuh orang meninggal dan enam orang hilang.

Baca juga: BPBD Padang evakuasi ratusan warga dari sejumlah lokasi banjir

"Jadi total per Januari hingga September ini sebanyak 52 kasus yang kami tangani, dari operasi itu 216 selamat, 20 meninggal dan 15 orang hilang, tim tidak menemukan meski tujuh hari pencarian," jelas dia.

Ia mengimbau khususnya para nelayan sebelum melaut agar terlebih dahulu memperhatikan kelayakan kapal, alat komunikasi, alat keselamatan, dan selalu memperhatikan kondisi cuaca.

"Termasuk persiapkan alat komunikasi dan navigasi seperti marine radio, HP, peta, dan GPS, kemudian siapkan alat keselamatan, seperti pelampung dan ringboy, terakhir selalu memperhatikan kondisi cuaca dengan melihat informasi dari BMKG sebelum melaut," demikian Wahyudi.
Pewarta : Muhammad Harianto
Editor: Heru Dwi Suryatmojo
COPYRIGHT © ANTARA 2021