Kopertis: lulusan ATVI harus berani ambil risiko

Kopertis: lulusan ATVI harus berani ambil risiko

Arsip: Audisi Indonesian Idol 2017 Yogyakarta Sejumlah peserta antre untuk mengikuti audisi "Indonesian Idol" 2017 di Jogja Expo Centre (JEC), DI Yogyakarta, Senin (18/9/2017). (ANTARA FOTO/Andreas Fitri Atmoko)

Jakarta (ANTARA News) - Koordinator Perguruan Tinggi Swasta Wilayah III Dr Ir Illah Sailah menegaskan pentingnya para wisudawan atau lulusan Akademi Televisi Indonesia untuk berani mengambil risiko (risk taker), berpikir dan menghasilkan karya inovatif, mengubah sikap kerja dengan berani mengambil prakarsa serta selalu bertanya.

"`Apa yang dapat saya sumbangkan bagi masyarakat?`," kata Illah Sailah pada wisuda ke-10 Ahli Madya Akademi Televisi Indonesia (ATVI) di Kampus ATVI di Jakarta, Kamis.

Pada kesempatan ini, ATVI mewisuda 108 ahli madya (Amd) Ilmu Komunikasi Massa dengan kekhususan Produksi Siaran TV. Turut hadir Direktur ATVI Drs Eduard Depari MA, MSc dan para dosen ATVI.

Illah Sailah mengatakan, tantangan yang dihadapi para wisudawan adalah menyangkut tantangan global yang belakangan sering disebut dengan akronim VUCA. VUCA adalah singkatan trendi dari dunia manajerial, yakni Volatility, Uncertainty, Complexity dan Ambiguity.

Empat aspek yang dimaksudkan itu adalah ketidaksabilan, ketidakpastian, keruwetan dan kemenduaan. "Dunia dalam kombinasi demikian membuat kita harus mempunyai jawabannya, yaitu vision, upgrading, clarity dan awareness. Visi yang jelas bisa mengatasi ketidakstabilan dan ketidakpastian," katanya.

Peningkatan (kemampuan) bisa mengatasi keruwetan, sementara kejernihan (berpikir) dan kewaspadaan menjadi jawaban atas kemenduaan. Setelah selesai menempuh pendidikan sesuai ketentuan, maka para wisudawan mendapat banyak sekali bekal dan sesuatu yang dilekatkan kepada mereka.

"Dan itu bisa disebut dalam satu akronim, yaitu RICH. Pada prinsipnya, RICH di sini adalah menunjukan keadaan yang sebenarnya di dunia kerja. Wisudawan tak boleh bertanya kepada dirinya `Apa yang sudah saya pelajari?` tapi diubah menjadi `Apa yang saya sudah bisa kerjakan?`," katanya.

Sebagai akademi yang berorientasi vokasi, Illah berharap lulusan ATVI dapat menjalankan peran yang signifikan dengan menghasilkan profesional di bidang komunikasi massa yang tidak saja terampil, namun memiliki karakter keberpihakan pada upaya pencerdasan kehidupan bermasyarakat.

Wisuda tersebut dimeriahkan tarian selamat datang yang menggambarkan keperdulian lembaga pendidikan ini pada isu kebhinekaan dan kebangsaan. Sementara itu, Eduard Depari mengingatkan gelar akademis yang disandang para wisudawan merupakan pengesahan atas kualifikasi. Namun yang perlu disadari bahwa lapangan kerja adalah batu ujian yang sesungguhnya, yakni masalah kompetensi.

"Dalam era digital disruptive ini, para lulusan dituntut untuk mampu berpikir kreatif dan mau belajar serta mengikuti perkembangan teknologi informasi," kata Eduard Depari.

Eduard Depari menyatakan bahwa ATVI merupakan salah satu akademi korporasi (corporate academy) yang berhasil menerapkan konsep "link and match" sehingga industri televisi mampu merekrut tenaga kerja yang siap pakai. "Afiliasi akademi ini dengan dua stasiun TV swasta terkemuka Tanah Air, memungkinkan para mahasiswa belajar dan berlatih dalam atmosfer kerja televisi komersial di bawah asuhan dan supervisi praktisi industri yang berlatar belakang akademis, sekaligus praktisi penyiaran," ujar Eduard Depari yang juga dikenal sebagai praktisi komunikasi ini.

Sedangkan pidato mewakili wisudawan disampaikan oleh lulusan terbaik, Misyatun yang cukup dikenal karyanya setelah menjuarai pelbagai ajang kontes penulisan esai maupun lomba feature film tingkat nasional.
Pewarta : Sri Muryono
Editor: Ruslan Burhani
COPYRIGHT © ANTARA 2017