Ratusan keluarga di Aceh Tenggara jadi korban banjir bandang

Ratusan keluarga di Aceh Tenggara jadi korban banjir bandang

Sejumlah batang kayu terbawa banjir bandang di Aceh Tenggara, Kamis (28/3) malam. (Foto: BPBD Aceh Tenggara

Banda Aceh (ANTARA) - Sebanyak 509 kepala keluarga dengan 1.539 jiwa menjadi korban banjir bandang akibat tingginya intensitas hujan dari mulai sore hingga malam hari yang merendam sebelas desa di lima kecamatan, Aceh Tenggara, Kamis (28/3) malam.

"Selain korban terdampak berjumlah 1.539 orang, banjir bandang kali ini juga merendam 398 rumah," ucap Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA), Teuku Ahmad Dadek di Banda Aceh, Jumat.

Ia mengatakan, ke-509 keluarga tersebut di antaranya tersebar pada tujuh desa di Kecamatan Bambel yang merupakan korban terbanyak, yakni Pinding 96 keluarga 273 jiwa, Kuning 183 keluarga 450 orang, dan Rikit 71 keluarga 266 jiwa.

Kemudian Desa Kutabuluh terdapat 15 keluarga 54 orang, Lawe Hijau 22 keluarga 78 jiwa, Lawe Hijau Ampera 24 keluarga 66 orang, dan Lawe Hijau Induk 15 keluarga 86 jiwa.

Lalu di Kecamatan Simpang Semadam ada tiga desa, yaitu Pasar Puntung terdampak 8 keluarga 23 jiwa, Titi Pasir 19 keluarga 61 orang dan dua unit rumah rusak sedang, terakhir Kampung Baru 12 keluarga 36 jiwa.

Kecamatan Lawe Sumur terdapat satu desa, yakni Kuta Lombok dengan 44 keluarga dengan 142 jiwa, kemudian dua kecamatan terakhir, yaitu Lawe Bulan dan Bukit Tusam yang merendam lahan pertanian masyarakat setempat.

"Beberapa desa di antaranya, akibat banjir bandang kali ini terdapat delapan rumah mengalami rusak terutama di daerah aliran Sungai Lawe Kinga. Terdiri dari, empat rusak parah, dua rusak sedang, dan dua lagi rusak ringan," katanya.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah setempat dilaporkan telah mengerahkan dua alat berat ke Semadam di Desa Kampung Baru, dan Lawe Sumur di Desa Kuta Lesung, serta melakukan pengkajian secara cepat.

"Hingga malam ini, belum diketahui korban jiwa, dan jumlah pengungsi. Berbagai unsur terkait sedang berkerja," tegas Dadek.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sebelumnya telah menyebut, supaya daerah dataran tinggi di Aceh mewaspadai bencana akibat rusaknya lingkungan yang menimbulkan fenomena hidrometeorologi.

"Cuaca dewasa ini sedang menunjukkan masa peralihan dari musim penghujan menuju kemarau. Sehingga bencana akibat fenomena hidrometeorologi rentan terjadi," ucap Kepala Seksi Data dan Informasi BMKG Stasiun Meteorologi Kelas I Aceh, Zakaria Ahmad.
Pewarta : Muhammad Said
Editor: Tunggul Susilo
COPYRIGHT © ANTARA 2019