Gus Ipul sesalkan pengadangan KH Ma'ruf Amin di Pamekasan

Gus Ipul sesalkan pengadangan KH Ma'ruf Amin di Pamekasan

Cawapres KH Ma’ruf Amin saat silaturahim di Surabaya beberapa waktu lalu. (Foto Fiqih Arfani)

Surabaya (ANTARA) - Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama Saifullah Yusuf menyesalkan pengadangan yang dilakukan sekelompok massa terhadap kedatangan calon wakil presiden nomor urut 01, KH Ma’ruf Amin, di Pamekasan, Madura.

“Ini sangat memprihatinkan dan kami menyesalkannya,” ujar Gus Ipul, sapaan akrabnya, kepada wartawan di Surabaya, Selasa.

Menurut dia, jika pengadangan ini dibiarkan, mantan Wakil Gubernur Jatim itu khawatir akan memicu tindakan serupa terhadap calon lainnya.

“Bila dibiarkan maka bisa memicu di tempat lain dan ini akan sangat tidak bagus bagi proses demokrasi di Tanah Air,” ucapnya.

Gus Ipul mengimbau semua pihak terutama pendukung masing-masing calon bisa menahan diri agar proses demokrasi kali ini bisa berjalan dengan normal dan damai.

“Ada sesuatu yang lebih besar yang harus dipikirkan bersama setelah 17 April. Siapapun presidennya, rakyat ini harus sejahtera dan Indonesia menjadi semakin kuat. Itulah hal yang harus dijaga bersama-sama,” katanya.

Selain itu, ia masih yakin aksi penolakan terhadap KH Ma’ruf Amin bukanlah karakter asli masyarakat Madura yang selama ini punya tradisi kuat menghormati tamu.

“Bisa dilihat kalau ada tamu pasti orang Madura akan membersihkan rumah, bahkan ada juga yang sampai mengecat rumah. Lebih-lebih jika tamunya adalah seorang ulama. Insiden pengadangan mungkin ada kesalahpahaman atau terprovokasi,” katanya.

Sebelumnya, kampanye cawapres KH Ma’ruf Amin di Pulau Madura diadang massa yang mengatasnamakan pendukung Prabowo Subianto saat rombongan melewati kawasan Pamekasan, Senin (1/4).

Berdasarkan pengamatan Antara di Pamekasan, massa meneriakkan dukungan terhadap capres nomer urut 02 sembari meneriakkan pilihan yang berbeda dengan kubu pasangan capres-cawapres Joko Widodo-Ma’ruf Amin.

Kejadian itu terjadi jelang shalat Maghrib waktu setempat. Warga yang melakukan pengadangan itu juga membawa atribut capres 02 dan menunjukkan dua jari sebagai identitas kelompok tersebut. Pengadangan itu terjadi saat rombongan hendak menghadiri ziarah dan haul makam Kiai Suhro di Pamekasan.

Pemilihan Presiden diselenggarakan pada 17 April 2019 dan diikuti dua pasangan calon, yaitu  nomor urut 01 Jokowi-KH Ma`ruf Amin serta nomor urut 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno.

Pewarta : Fiqih Arfani
Editor: Eddy K Sinoel
COPYRIGHT © ANTARA 2019