Pemkot Sabang meremajakan 50 hektare kebun cengkih

Pemkot Sabang meremajakan 50 hektare kebun cengkih

Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kota Sabang, Provinsi Aceh, Fakhri (kanan). (ANTARA/Irman Yusuf).

Banda Aceh (ANTARA) - Pemerintah Kota (Pemkot) Sabang, Provinsi Aceh segera meremajakan seluas 50 hektare kebun cengkih rakyat untuk menopang ekonomi masyarakat setempat di masa mendatang.

"Seluas 168 hektare kebun cengkih rakyat tidak berproduksi lagi, dan tahun ini Pemkot Sabang akan meremajakan 50 hektare," kata Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kota Sabang Fakhri saat dihubungi dari Banda Aceh, Minggu.

Selain tanaman cengkih, kata dia, Pemkot Sabang juga akan meremajakan seluas lima hektare kebun kelapa dalam dan 700-an batang avokad.

"Peremajaan kebun rakyat ini sebagai upaya untuk menopang ekonomi masyarakat pada masa yang akan datang," ujarnya pula.

Lebih lanjut ia merincikan, luas tanaman perkebunan rakyat di Pulau Weh, Sabang seluruhnya, 5.986 hektare, dan 1.551 hektare di antaranya sudah tidak berproduksi lagi karena tanamannya yang menua.
Baca juga: Petani keluhkan anjloknya harga cengkih di Sabang
Pada tahun 2018, Dinas Pertanian dan Pangan Kota Sabang mencatat, tanaman perkebunan rakyat yang tidak berproduksi lagi, masing-masing kelapa dalam 952 ha, kakao 370 ha, cengkih,168 ha, pala 4 ha, pinang 19 ha, kapuk/randu 11 ha, dan kemiri 15 ha.

"Ya, pemerintah terus berupaya melakukan peremajaan kebun rakyat tidak berproduksi, agar di masa yang akan datang sumber ekonomi masyarakat tidak putus," kata dia.

Ia menjelaskan, luas kebun kelapa dalam yang belum menghasilkan 125 ha dan menghasilkan 1.081 ha. Kemudian, cengkih belum menghasilkan 1.937 ha dan menghasilkan 660 ha.

Selanjutnya, perkebunan pinang belum menghasilkan 147 ha dan menghasilkan 38 ha, kakao belum menghasilkan 124 ha, dan menghasilkan 243 ha.

Kemudian, perkebunan pala yang belum menghasilkan 26 ha dan menghasilkan 36 ha, nilam belum menghasilkan 5 hektare dan sedang menghasilkan atau berproduksi 2 ha," ujarnya lagi.
Pewarta : Irman Yusuf
Editor: Budisantoso Budiman
COPYRIGHT © ANTARA 2019