Lampung Timur miliki pesona kelestarian adat Desa Tua Maringgai

Lampung Timur miliki pesona kelestarian adat Desa Tua Maringgai

Wakil Sultan Keratuan Melinting, Pangeran Khairuddin (tengah) bersama tetua adat desa Tua Maringgai, Lampung Timur, Minggu (14/7/2019). ANTARA/Ruth intan/aa (ANTARA/Ruth Intan)

Bandarlampung (ANTARA) - Kabupaten Lampung Timur, Provinsi Lampung banyak memiliki kekayaan budaya dan adat istiadat, salah satunya pesona kelestarian adat Desa Tua Maringgai.

"Kekayaan adat istiadat merupakan salah satu keunggulan Indonesia sebagai negara dengan keanekaragaman suku. Tidak hanya di Indonesia kekayaan adat istiadat juga terdapat di Kabupaten Lampung Timur, tepatnya di Maringgai yang merupakan desa tertua serta ibu kota dan tempat lahirnya Keratuan Melinting," kata Marhasan (48) sebagai salah satu Penyimbang Adat Maringgai, di Lampung Timur, Rabu.

Pesona adat istiadat asli peninggalan Keratuan Melinting sendiri kental terasa di dalam kehidupan keseharian warga asli Maringgai, terlihat dari masih adanya keturunan asli Keratuan Melinting, terjaganya makam Ratu Darah Putih beserta tempat pemandian kerajaan.

Ia menjelaskan, tak hanya itu kekayaan adat istiadat Maringgai sebagai ibukota Keratuan Melinting masih terjaga dengan patuhnya masyarakat desa akan setiap hukum adat yang berlaku.

"Iya benar sekali, disini ada beberapa aturan adat, salah satunya bila kita kaum pria tidak menggunakan kain sarung, ataupun sebagai seorang tokoh adat tidak menggunakan pakaian khusus adat maka ada denda adat yang harus dibayarkan, semua hukum adat Keratuan Melinting telah tertulis dalam Kuntara Raja Niti yang terus diperbaharui setiap lima tahun sekali," ujarnya.

Terlebih lagi, lanjut dia, di Maringgai tingkat kepemimpinan masyarakat adat masih terjaga dengan adanya Ratu, Bandar, Lid, dan Penyimbang-Penyimbang Suku yang bertanggung jawab mengatur keseimbangan dalam masyarakat adat.

Menurut dia, terjaganya adat istiadat terjadi akibat terus digunakannya adat tersebut dalam kehidupan masyarakat, salah satunya dengan selalu hadirnya lenggak lenggok khas penari Melinting menarikan tarian tua yang ada sejak zaman Keratuan Melinting, lengkap dengan iringan gamolan di setiap acara adat masyarakat Maringgai.

"Akan tetapi kurang tereksposenya adat istiadat Maringgai dan regenerasi yang berjalan lambat akibat banyak kaum muda yang merantau keluar desa, menjadi salah satu hambatan bagi keberlangsungan adat istiadat terus bertahan di masa modern," jelasnya.

Regenerasi penari Melinting salah satunya, yang saat ini tengah berjalan mengalami beberapa hambatan akibat kebanyakan penari telah lulus dari sekolah menengah atas dan bersiap untuk merantau ke kota.

"Saat ini penari Melinting masuk masa pergantian ke generasi yang masih duduk di bangku sekolah menengah pertama karena kebanyakan penari sudah mulai siap-siap pergi merantau atau melanjutkan pendidikan tinggi di Bandarlampung, kalau tidak kita tarik yang muda tari Melinting akan hilang dimakan zaman," kata Jalal (50) salah seorang pelatih tari Melinting.
Pewarta : Agus Wira Sukarta dan Ruth Intan Sozometa
Editor: Triono Subagyo
COPYRIGHT © ANTARA 2019