Pandangan dokter spesialis paru terhadap pencegahan polusi udara

Pandangan dokter spesialis paru terhadap pencegahan polusi udara

Dokter Spesialis Paru Rumah Sakit Universitas Indonesia, Gatut Priyonugroho (kanan) memegang pot dalam seminar "Jangan Takut Bernapas" di Jakarta, Jumat (2/8/2019). (ANTARA/Abdu Faisal)

Jakarta (ANTARA) - Dokter spesialis paru Rumah Sakit Universitas Indonesia, Gatut Priyonugroho, mengatakan mengatasi polusi udara itu kompleks karena tidak hanya berbicara satu atau dua zat berbahaya saja, sebab pencemaran itu gabungan dari beberapa zat.

"Jadi polusi itu mixture of toxic materials, kita tidak bicara satu atau dua zat. Beda dengan polusi yang terjadi pada satu instalasi," ujar Gatut di Jakarta, Jumat.

Zat yang terkandung pada polusi udara itu menyebabkan macam-macam dampak, seperti polyaromatic hydrocarbon menyebabkan kanker paru. Kemudian Karbonmonoksida yang mengikat Hemoglobin dan mencegah ikatan Oksigen. Ada juga timbal yang berbahaya ke otak.

Menurut data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), polusi udara di seluruh dunia berkontribusi 25 persen pada seluruh penyakit dan kematian akibat kanker paru, 17 persen berkontribusi pada penyakit Infeksi Saluran Pernapasan Atas (ISPA), 16 persen berkontribusi penyakit stroke, 15 persen berkontribusi penyakit jantung iskemik dan delapan persen berkontribusi penyakit PPOK. Gatut mengatakan dampak-dampak itu bisa dirasakan dalam jangka pendek, menengah, dan jangka panjang.

"Dalam jangka pendek, bisa dia bronkitis, dahaknya banyak, kemudian pasien batuk-batuk," ujar Gatut.

Ia menambahkan terpapar polusi dalam jangka lebih lama lagi akan berdampak pada kekebalan tubuh yang menurun sehingga kuman mudah menyerang.

"Lebih lama terdampak akhirnya menyebabkan ISPA, Tuberculosis (TBC) yang juga cukup tinggi di masyarakat. Per 100.000 penduduk ada 647 orang yang sakit. Nah itu kalau kekebalan tubuhnya rendah jadi mudah sakit," kata Gatut.

Sedangkan apabila terpapar dalam jangka panjang akan menyebabkan penyakit berat seperti kanker paru, kemudian penyakit paru obstruktif kronik (PPOK).

"Kalau sudah jatuh ke kondisi PPOK, dianggap sudah tidak bisa sembuh. Pasien harus pengobatan rutin untuk meningkatkan kualitas hidup agar kondisinya bagus, namun paru-parunya tetap rusak," ujar Gatut.

Untuk kanker paru, kata Gatut, diagnosis harus segera ditegakkan. Pasien harus segera berobat agar mengetahui jenis kankernya seperti apa dan harus segera pula diobati.

"Karena kalau sudah stadium empat, kalau tidak diobati, harapan hidupnya sekitar lima bulan sejak didiagnosis. Kalau stadium satu masih bisa sembuh," ujar Gatut.

Oleh karena itu, Gatut menyarankan masyarakat segera melakukan langkah pencegahan agar jangan sampai terpapar polusi secara terus-menerus. Pencegahan itu ada dalam bentuk primer, sekunder, dan tersier.

Kalau pencegahan primer menurut dia adalah pencegahan yang dilakukan sebelum ditemukan agen penyebab sakitnya.

"Itu yang paling utama dan yang paling sukses," ujar Gatut.

Pencegahan primer dilakukan dengan meningkatkan gaya hidup sehat, menghindari asap rokok, dan sebagainya.

Sedangkan pencegahan sekunder adalah pencegahan yang dilakukan ketika sudah ditemukan agen penyebab sakitnya. Misalnya seperti sekarang sudah tahu ada polusi, maka dianjurkan memakai masker.

"Kalau pakai masker itu berarti sudah ketemu dengan polusinya tapi ingin meminimalisir supaya kemungkinan terkena sakitnya kecil," ujar Gatut.

Yang terakhir, ketika sudah sakit tapi ingin mencegah penyakit semakin bertambah parah namanya pencegahan tersier. Misalnya pasien yang sudah PPOK menghentikan kebiasaan merokok.

"Sudah sakit sih, tapi untuk menghindari penyebab sakitnya, merokoknya berhenti," tandas Gatut.*

Baca juga: Dinkes Jakarta imbau warga lakukan "cerdik" tekan dampak polusi udara

Baca juga: Anak-anak dan ibu hamil rentan terkena penyakit karena polusi udara
Pewarta : Abdu Faisal
Editor: Erafzon Saptiyulda AS
COPYRIGHT © ANTARA 2019