Mengabdikan diri sebagai relawan sosial memang tidak semua orang mampu, apalagi pengabdiaanya bukan pada manusia yang terkadang akan ada balasan dan juga imbalan.

Sebutan pahlawan tidak hanya dinobatkan kepada mereka yang mengalahkan musuh pada saat perang berkecamuk, akan tetapi sebutan pahlawan sangat banyak makna yang tersirat didalamnya jika dilihat dari segala sudut pandang yang berbeda.

Murniadi (49) mungkin sudah tidak asing lagi bagi ribuan penyu yang pernah ia lepas ke laut Kecamatan Panga, Kabupaten Aceh Jaya.

Jika mereka manusia yang bisa bicara mungkin akan ribuan ucapan terimakasih diucapkan kepadanya dari hewan yang mulai langka itu.

Ia sangat cocok untuk dinobatkan sebagai “pahlawan” bagi para penyu (tukik) karena ia salah satu dari sekian banyak pemuda di Kabupaten Aceh Jaya yang mengabdikan diri sebagai penjaga hewan laut tersebut.

"Hidup itu pilihan dan ini jalan hidup yang saya pilih," itulah sepenggal kalimat keluar dari mulut  pria bertubuh kurus panjang yang biasa disapa Dedi Penyu.

Ungkapan yang keluar dari mulut dedi terlihat sangat ihklas, mengawali cerita perjumpaan dengannya seakan membangkitkan semangat baginya.

Ia mengisahkan awal mula dirinya menjadi “pahlawan” penyu karena keterhimpitan ekonomi, sehingga ia sering mejelajahi pantai laut di kawasan Panga.

“Keseharian saya dulu menjala ikan di muara dan di pantai laut, dari situ saya mendapatkan uang untuk keseharian,” kata Murniadi.

Dari rutinitas itu, membuat  Dedi Penyu melihat hewan laut dan keunikan binatang laut lainnya di pantai.

"Awal mula saya menemukan penyu sedang bertelur di pantai, selepas melihat itu, rasa penasaran tinggi terhadap penyu seakan menjadi desakan. Sedikit memilik pengalaman semasa bekerja di NGO Caritas, saya terbesit di pikiran untuk memiliki sebuah lembaga penyelamat penyu di kawasan Kecamatan Panga,” cerita Dedi.

Pada tahun 2012 silam awal mula Dedi Penyu membuka tempat penangkaran penyu “Aroen Meubanja”, lembaga bergerak di bidang konservasi penyu bersama beberapa para pemuda lainnya mampu ia bina hingga kini dan terus berkembang.

Di tempat itulah dirinya selalu berinteraksi dengan si bayi mugil penyu yang akrab dengan sebutan tukik.

Bak pahlawan tanpa senjata yang berada dalam peperangan, dengan penuh ketekunan dan kesabaran terkadang bukan hanya penyu yang menjadi tanggung jawabnya untuk dijaga, bahkan satwa lainnya tidak luput dari pantauannya.

"Fokus utama memang penyu namun sembari itu kami juga memantau perkembangan binatang laut lainnya," kata Murniadi.

Pesisir Pantai Nissero Panga menjadi tempat dimana dirinya terus bergeriliya, besosialisasi dan beredukasi bersama masyarakat dalam menumbuhkan kesadaran untuk menjaga kelestarian satwa-satwa yang hampir punah.

Kini Murniadi mengukir prestasi ia kerap menjadi pemateri di forum-forum lokal maupun nasional tentang pengembangan penyu.

Berbekal pengalaman dan hanya lulus dari sekolah dasar, setiap tahunnya bersama rekan-rekan, dirinya juga membimbing mahasiswa magang dari berbagai universitas ternama di Aceh, bahkan saat ini ia juga menjabat sebagai Ketua Umum DPC Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) Kabupaten Aceh Jaya.

Pewarta: Arif Hidayat

Editor : Heru Dwi Suryatmojo


COPYRIGHT © ANTARA News Aceh 2019